Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Saturday, September 4, 2021

Mengenal tanaman Jambu Kristal (Psidium guajava l.)

September 04, 2021 0




Deskripsi Jambu Kristal

Jambu kristal (Psidium guajava) adalah varietas jambu biji yang sekarang banyak digemari masyarakat Indonesia. Pohon jambu kristal ini dapat tumbuh dengan maksimum ketinggian yang bisa mencapai 2 meter.
Secara umum akar pada tanaman jambu kristal ini termasuk pada akar yang tunggang. Batang tanaman jambu kristal ini memiliki bentuk yang bulat seperti batang pada umumnya. Batang dari tanaman jambu kristal ini berkayu yang keras, bahkan tak mudah untuk patah dan juga ulet. Batang tanaman jambu kristal dapat bertumbuh secara tegak dan beranting. Tanaman jambu kristal memiliki daun yang berjenis daun tunggal dengan tekstur daun yang terlihat kaku. Bunga yang dimiliki oleh tanaman jambu kristal merupakan bunga yang sempurna, terdapat bunga yang berjenis kelamin jantan dan juga betina.
Buah Jambu kristal mempunyai bentuk bulat atau agak lonjong dengan dasar bergelombang, ada juga yang rata tergantung varietasnya. Warna kulitnya hijau muda terang berlapiskan lilin di kulitnya. Daging buahnya berwarna putih bersih dan jernih, sangat tebal, renyah dan menjadi sedikit lunak sejalan dengan kematangan buah.

Manfaat Jambu Kristal

  • Baik mencegah untuk sistem pencernaan
  • Sumber antioksidan
  • Mengobati dan Mencegah sariawan
  • Meredakan flu
  • Menjaga kesehatan mata
  • Menjaga sistem kerja dan kesehatan jantung

Habitat Jambu Kristal

Habitat jambu biasanya ada di tanah yang memiliki ketinggian 5 – 1000 meter di atas permukaan laut, baik di tanah yang datar maupun curam dengan membuat terasering. Tempat tumbuh pohon ini akan menghasilkan pertumbuhan yang maksimal jika memiliki tingkat keasaman (pH) 6 – 6,5.

Syarat Iklim Jambu Kristal

Iklim yang pas untuk pertumbuhan jambu kristal adalah tropis dan basah. Curah hujan optimal yang dibutuhkan tanaman ini berada di kisaran 2000 – 3000 mm per tahun, dengan suhu rata-rata antara 20 – 30o C.

Klasifikasi Ilmiah Jambu Kristal

Kerajaan : Plantae          
Divisi       :  Spermatophyta          
Kelas       :  Magnoliopsida
Ordo        : Myratales     
Famili       :  Myrtaceae
Genus       :  Psidium
Spesies     : Psidium guajava  L

 

Sunday, August 29, 2021

Terlambat

August 29, 2021 0
Terlambat

Begitu risau. Tubuhku bergetar panik. Harap, galau, cemas, dan beraneka rasa bercampur aduk. Tak pernah aku mengalami hal ini sebelumnya. Seakan menanti sebuah vonis. Sementara di balik pintu kamar operasi ini, isteriku tengah berjuang.

Harap – harap cemas menelimutiku. Terlebih kejadian tadi yang membuatku resah. Masihkah ada harapan itu…

*

Pagi belum sempurna. Matahari belum penuh sinarnya.

Darah!

Aku terbelalak saat mebuka pintu kamar mandi. Kemerahan itu jelas nampak pada keputihan baju yang dikenakan isteriku.

“Kang… uuhhh… “ lirih isteriku merintih kesakitan. Ia masih terjerembab tak berdaya.

Terkesiap aku. Respon segera aku angkat dan papah ia keluar kamar mandi. Tapi, darah terus menetes. Membuat aku resah. Begitu panik aku dibuatnya.

“Mang Parmin…” teriakku panik memanggil sopirku.

Mang Parmin yang mendatangiku langsung istighfar mengetahui apa yang terjadi dengan isteriku.

“Siapkan mobil, Mang! Kita ke rumah sakit sekarang,”

“Siap, Pak,” sahut Mang Parmin yang langsung bergegas menyiapkan mobil.

Sementara keadaan istriku semakin mengkhawatirkan.

“Kang… aduh, kang… sakit… aahhh… sakit…” isteriku merintih perih. Jelas rasa sakit yang mendera itu dapat kutangkap dari raut wajahnya.

 “Iya neng. Sabar yah. Kita sekarang mau ke rumah sakit.

Mobil sudah siap. Dibantu mang Parmin aku memasukkan tubuh isteriku ke dalam mobil. Kusediakan tubuhku untuk bersandarnya. Begitu kasih aku melihatnya. Isteriku yang seorang wanita tegar dan kuat kini merintih kesakitan. Dan aku tak mampu berbuat banyak sekarang. Ah, terlebih ia sudah memasuki masa untuk melahirkan.

Aku takut. Aku takut akan keselematannya. Aku juga takut akan keselamatan bayi yang ada dalam semerbak wangi rahimnya. Aku sangat takut kalau – kalau keduanya…

Ah, segela kutepis bayang kecemasan itu. Aku harus  cepat sampai rumah sakit. Harus segera. Masih ada secercah harapan yang bakal menjadi penyinar kemilau hatiku.

Mang Parmin memacu mobil begitu kencang. Ia tahu kondisi isteriku sangat darurat. Dan aku pun berharap cepat sampai di rumah sakit.

Aku tak kuat lagi mendengar rintihan isteriku. Semakin pilu merintih. Mengadu – ngadu kesakitan. Genggaman tangannya pun makin erat. Aku hanya bisa membalas genggamannya. Membelasinya mesra seraya mengautkan hati.

“Cepat. Cepatlah sampai. Aku ingin isteriku selamat. Aku ingin calon anakku selamat. Aku ingin kedua – duanya selamat. Hanya itu. Hanya itu inginku saat ini.”

Pintaku dalam hati. Bercampur lebur semua rasa dalam hati. Kacau balau dibuatnya aku.

Tapi…

Tiiiit… tiiit…

Klakson mobil bersahutan memekakkan telinga. Macet sangat parah. Parah sekali. Perempatan Cadas yang menjadi akses utama menuju kota Tangerang itu memang biasa macet. Tapi tidak pernah sampai separah ini.

Ah paling juga macet gara-gara pa ogah yang hanya mendahulukan kendaraan yang membayar jasanya.

“Mang, teken klaksonnya. Biar cepat lewat,”

“Tapi, Pak. Macetnya parah,”

Aku menatap wajah isteriku. Merintih perih penuh kesakitan. Suami mana yang tega jika kekasih hatinya dalam kondisi seperti isteriku saat ini?

“Udah Mang klakson aja,”

Kalson mobil ditekan berkali – kali oleh mang Parmin. memekik ditengah kemacetan parah.

“Hei! Berisik!” serapah terlontar dari sopir truk berwajah garang yang berada tepat di depan mobil kami. “Enggak tahu lagi macet ya. Jangan klokson melulu. Berisik!  Emang ini jalan nenek moyang elu? Sabar dong!” lanjutnya mencaci maki.

“Bang, kamu mau lewat. Darurat,” Mang Parmin angkat suara.

Kernet mobil truk itu turun menjambangi mobil kami. Ia langsung teriak sepontan ketika melongok ke mobil kami dan melihat keadaan isteriku.

Ada orang mau lahiran. Keluar darah. Cepat kasih lewat,”

Klason mobil kembali bersahutan. Disusul teriakan orang – orang. “Ada orang mau lahiran. Keluar darah. Cepet kasih lewat…. Ada orang mau lahiran. Keluar darah. Cepat kasih lewat….” 

Aku sedikit lega. Semoga kami segera dikasih jalan.

Tapi, teriakan – teriakan itu langsung reda. Entah apa yang terjadi? Di tengah kegalauanku, tiba – tiba saja kernet truk itu menghampiri lagi mobil kami. Raut mukanya pias membiaskan rasa kecewa.

“Tetep enggak boleh lewat. Polisi yang jaga di depan tadi marah – marah dan mukulin mobil di depan…”

“Kenapa tidak boleh lewat, Bang?” tanyaku memotong pembicaraannya.

“Kata polisi, sekarang ini lagi sterilisasi jalan. Karena sebentar lagi rombongan pejabat  negera mau lewat...”

Bagai petir penjelasan kernet truk itu meluruhkan pendengaranku. Lemas tak kuasa aku terenggut daya. Ini benar – benar mimpi buruk. Bagaimana dengan keadaan darurat istriku jika keadaannya seperti ini?

Ah, aku hilang akal. Tapi, begitu marah. Marah teramat sangat. Ingin sekali aku lampiaskan amarahku.

  Terpaksa aku turun. Melangkah kesal ke arah muasal kemacetan. Dan alangkah herannya aku, arah dari kota Tangerang malah kosong melompong. Kenapa kami tidak dikasih jalan lewat.

Seorang polisi berwajah kusam hasil terpaan matahari berdiri menutup jalan.

“Pak, kenapa kami tidak boleh lewat. Istri saya lagi darurat. Sudah pendarahan” sosorku gusar.

Wajah dihadapanku sedikit gamang namun tak menghilangkan ketegasannya, “mohon maaf, pak. Tidak bisa”

“Saya mohon pak polisi, hanya satu mobil saja boleh lewat. Darurat. Soal nyawa orang ini pak. Saya mohon,” pintaku mengetuk nuraninya.

Wajah dihadapanku bimbang.

“Pak polisi, coba bayangkan kalau bapak di posisi saya.”

Polisi itu tetap diam.

“pak, saya mohon hanya kami saja yang diizinkan lewat dulu. Darurat!”

Polisi berwajah kusam itu menggelengkan kepala, “maaf, pak. Tetap tidak bisa. Ini prosedur jalan harus steril sebelum rombongan presiden lewat. Bapak tidak bisa melewati jalan ini. Sekali lagi mohon maaf. Keselamatan presiden adalah prioritas.”

Masygul aku melangkah menjauh dari polisi tersebut.

Di tengah kecamukan rasa khawatir. Ekor mata ini menangkap sebaris kalimat di papan berwarna putih. Bidan.

Langkahku tiba-tiba saja secepat kilat ke arah bangunan berwarna hijau. Kesetanan memanggil-manggil bidan.

Seorang wanita paruh baya kutarik agar mendekati mobilku. Melihat dan memeriksa kondisi istriku yang telah mengalami pendarahan.

Sesampainya di mobil. Wanita paruh baya itu beristigfar berkali-kali. Langan keibuannya menyentuh tubuh isteriku yang lemas dan parau.

Sakit seperti apa yang dirasakan istriku. Aku tak sanggup membayangkannya. Wajahnya sungguh menyiksa batinku.

“cepat bawa wanita hamil ini ke rumah sakit. Kondisnya lemah. Kalau terlambat wanita dan kandungannya bisa mati. Cepat. Cepat putar arah pokoknya bagaimanapun caranya secepatnya wanita ini dibawa ke rumah sakit!” seru ibu paruh baya.

Tak perlu dibentak dua kali. Aku langsung masuk dan meminta mang Parmin putar arah.

Lupa bilang terima kasih

Mobil berputar dengan cepat. Ngebut. Hampir menyerempet pedang siomay di tepi jalan.

Benar putar arah dan cari jalan lain. Tak peduli harus memutar. Tak peduli lebih jauh. Pokoknya harus secepatnya sampai di rumah sakit.

Mang Parmin gesit membawa mobil ke jalan alternatif. Setidaknya ada harapan.

Sungguh kesal. Kenyataan lain, setiba kea rah jalan utama. Lagi-lagi ada polisi yang memalang jalan. Tidak boleh lewat.

Aku mengumpat. Menyuruhnya minggir.

Plutuk.

Pentongan polisi menyentuh depan mobil dengan keras. Kasar menyuruh mobil berhenti.

Tak kalah marah aku bentak lagi ia. Mengatakan kondisi darurat dengan keadaan istriku.

Sang polisi melongok ke mobil. Wajah marahnya padam berubah kegamangan.

“Pak, mohon maaf. Kalau kondisi biasa bapak saya beri jalan lawat. Tapi kondisinya sekarang beda. Sebentar lagi rombongan bapak presiden lewat. Jalan harus steril.” Ujarnya prihatin sekaligus serba salah.

Aku mendengus kesal. Kenapa rombongan itu lewatnya menyiksa sekali.

Lima menit berharga terbuang percuma. Istriku antara sadar dan tidak. Kondisinya mengenaskan sekali. Amis darah menyeruak peciuman.

Aku menghela nafas panjang. Sial, rombongan ini itu lewat dengan angkuh. Sirine motor besar. Tidak boleh ada yang mengganggu rombongan. Semua mobil harus menepi, termasuk yang kondisi darurat sepertiku. Dan lebih sialnya, rombongan ini banyak sekali. Lama.

Sepuluh menit berlalu. Akhirnya rombongan penuh keangkuhan itu berlalu.

Polisi yang tadi mengatur lalu lintas langsung mengambil peran. Sepertinya dengan rasa bersalah ia langsung membukakan jalan untuk mobil kami.

Mang Parmin langsung tancap gas. Memburu sisa waktu yang ada menuju rumah sakit.

*

Baru tiga puluh menit yang lalu kami tiba di rumah sakit. Membuat rusuh dengan menabrak tong sampah. Lalu berteriak-teriak histeris minta tolong. Sungguh kacau. Di hari paling kacau.

Sekacau perasaanku sekarang. Entahlah bagaimana kondisi isteriku di ruang operasi.

Rasanya detik begitu pelan. Jangtungku detakkannya dapat ku dengar. Seberdetak suara resah jiwaku.

Hingga akhirnya keluarlah sosok berjubah putih.

“Pak, manusia hanya berusaha. Tuhannlah yang menentukan. Kondisi istri bapak sudah sangat kritis ketika di bawa ke rumah sakit. Terlambat. Mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya. Juga nyawa kandungannya,”

Demi mendengar kalimat itu aku meraung-raung histeris. Memanggil-manggil nama istriku. Usahaku sungguh terlambat.

Dan langitpun tiba-tiba menggelap di pandanganku.

Sunday, August 22, 2021

Senandung Rindu Guru

August 22, 2021 0
Senandung Rindu Guru



Menjengkelkan  bila  di  saat  weekend yang semestinya  bisa  nyantai  malah  harus  tetap  bekerja.

Seperti sabtu pagi ini yang terasa lain bagiku. Aku tidak bisa  menghabiskan  waktu  bersama  keluarga  seperti biasanya.  Ada  tugas  untuk  mendampingi  kunjungan bapak Bupati yang akan meninjau sebuah sekolah.

Mobil terasa terbang membelah jalanan. Aku harus datang  lebih  cepat  dari  rombongan  Bupati. Kupacu semakin kencang mobil yang kutumpangi sampai ujung jalan raya. Setelah melewati erempatan, jalan yang ditempuh lumayan  ancur. Tapi mobil terus berpacu. Meliuk – liuk di tengah persawahan yang hijau dengan sungai di samping jalannya. Berjalan ke daerah yang dulu pernah kujejaki. Tempat di mana aku pernah hidup dan tumbuh besar. 


Kunjungan bapak Bupati kali ini adalah ke sebuah kampung yang masih menjadi bagian dari desa tempat kedua  orang  tuaku  tinggal.  Letak  kampungnya  di belakang desa kami. Tapi, sudah sangat lama aku tidak menginjakkan kaki ke sana.

Rombongan Bupati datang jam sebelas. Kunjungan Bapak  Bupati  kali  ini  adalah  meninjau  proses pembangunan sekolah dasar di kampung itu. Kunjungan beliau terbilang singkat. Setelah melakukan peninjauan dan  melakukan  audiensi  dengan  masyarakat  sekitar, beliau beranjak pergi untuk kunjungan kerja ke daerah lainnya.

Aku meninggalkan kampung itu sekitar jam satu siang. Mobil bergoyang menempuh jalan pulang. Jalan yang tersusun dari tanah merah dan batu – batu cadas. Melewati  Tempat  Pembuangan  Akhir  sampah  yang menyerbakkan bau busuknya ke mana – mana.

Aku memang paling malas untuk pergi ke daerah itu.  Dari  aku  yang  masih  kecil  sampai  sekarang. Walaupun  kampung  itu  masih  satu  desa  denganku. Karena semerbak wangi TPA itu yang menyesakkan dadaku. Apalagi dulu kalau mau sampai ke sana harus melewati dua jembatan bambu di dua sungai yang cukup besar dan dalam.

Mobilku  berjalan  perlahan  melewati  TPA.  Tak sengaja ekor mataku menangkap sosok lelaki yang baru keluar dari TPA itu. Lelaki itu memakai topi rimba dengan pakaian yang lusuh. Memanggul keranjang yang penuh dengan sampah dan tangannya menggenggam sebuah tongkat untuk mengambil sampah. Aku seperti mengenal lelaki itu dari perawakannya. Tapi, siapa dia?

Aku menghentikan laju mobilku. Kemudian keluar mendekati lelaki tadi. Kali ini dengan jelas aku dapat

melihat wajahnya. Ternyata…

“Pak Imral!!” Ucapku spontan mengetahui siapa lelaki tadi. Aku tak pecaya dengan apa yang kulihat. Pak Imral adalah guruku sewaktu sekolah dasar dulu. Dialah orang  yang  telah  mengajariku  menghitung  dan membaca. Dan sekarang aku melihat dia sebagai seorang pemulung. Inalillahi.

“Kamu siapa?” Tanyanya.

“Saya, Yadi. Ahmad Jayadi, murid bapak waktu di SD.” Kataku mencoba untuk mengingatkannya.

“Yadi. Ahmad Jayadi, anaknya haji Sobari!” Terka pak Imral.

“Betul, pak. Itu saya.”

“Masya Allah, sudah sukses kamu sekarang.”

“Enggak juga. Hanya pegawai pemda. Bapak kok ada di sini. Bukannya bapak seorang guru, harusnya kan

ngajar?”

“Kalau pagi saya memang seorang guru. Tapi, kalau siang, ya… beginilah kerjaan saya, nyambi jadi  pemulung.”

“Oo..Gitu! bapak mau pulang? Biar saya antar saja.” Tawarku.

“Apakah  enggak merepotkan kamu? Lagi pula badan bapak kotor. Belum lagi keranjang ini penuh  dengan sampah.”

“Enggak apa – apa kok, pak.”

Mobil  melaju  perlahan  meninggalkan  gerbang TPA.  Mengitari  jalan  di  samping  TPA  itu.  Untuk  kemudian sampai depan sebuah rumah yang letaknya tepat di belakang. Sebuah rumah bilik yang terbuat dari bambu dan kayu sebagai tiangnya.

“Selamat datang di rumah saya. Seperti inilah keadaanya. Maklumlah, rumahnya orang miskin.” Ujar  pak Imral ketika turun dari mobil.

Aku hanya diam, tercenung mengetahui rumah pak  Imral. Memang baru kali ini aku mampir ke rumahnya. Di halaman rumah itu terdapat banyak para – para bambu  untuk  menjemur  plastik.  Juga  ada  untuk menjemur beras,  lebih  tepatnya  adalah  beras  aking.

Aroma bau busuk TPA juga santer tercium. Belum lagi  kumpulan  pasukan  lalat  hijau  yang  menyerbu  dan menggerubuti  beras  aking  yang  dijemur,  sungguh pemandangan yang tak sedap dipandang.

Kata pak Imral, plastik – plastik itu dibersihkan dulu baru dijemur, setelah kering nantinya di jual ke pengumpul.  Tiap  satu  kilonya  dihargai  dua  ribu. Sedangkan botol plastik dan gelas plastik dibersihkan untuk kemudian dijual kepada pengumpul. Botol dan gelas plastik itu nantinya akan digunakan untuk tempat minuman. 

“Ayo masuk!” Seru pak Imral.

Aku pun memasuki rumah yang boleh dibilang sangat sederhana itu. Dan duduk di kursi bambu ruang tamu  rumah pak Imral yang beralaskan tanah. Aku membayangkan bila aku yang harus tinggal di sini. Rasanya aku tak sanggup untuk bertahan lama. Apalagi  harus tinggal menetap.     

“Kamu pasti habis menemani kunjungan bupati, ya?” Tanyanya yang hanya aku jawab dengan anggukkan kepala.

“Kamu pasti heran dengan apa yang kamu lihat. Kamu bingungkan ada seorang guru yang nyambi jadi pemulung?”

Aku mendesah berat. “Iya.”

“Ya,  beginilah  orang  miskin  yang  memiliki tanggungan.  Gaji  sebagai  guru  tak  cukup  untuk memenuhi biaya hidup yang semakin mencekik. Jadi, harus ada penghasilan tambahan. Ya, dari profesi sebagai pemulung  itulah  saya  dapat  duit  buat  tambahan penghasilan.”

Aku agak kaget juga mendengar penuturan pak Imral.  “Bukannya  pegawai  negeri  itu  sudah  ada tunjangannya, pak?” Tanyaku.

“Pegawai  negeri?”  Pak  Imral  mengernyitkan dahinya. “Siapa yang pegawai negeri? Saya? Saya bukan pegawai negeri, saya hanya guru honerer!” Ungkap pak Imral.

Hah, pegawai honorer? Aku tercenung tak percaya.

“Jadi selama ini bapak guru honorer?” Tanyaku setengah tak percaya.

“Ya, kamu tak salah dengar! Saya memang guru honorer dari tahun 1987 sampai sekarang. Makanya saya punya profesi lain selain menjadi guru. Kamu tahu kan berapa sih gaji honorer guru SD? Sudah habis hanya untuk beli beras saja!”

“Bukannya  ada  penerimaan  CPNS?”  Aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Memang ada. Tiap kali ada pengumuman itu saya selalu mendaftar. Bahkan direkomendsikan oleh kepala sekolah. Ikut tes dan lainnya. Tetapi tetap saja, tidak keterima juga. Padahal saya sudah yakin bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Katanya kalau mau jadi PNS harus ada pelicinnya, ya?”

“Kalau yang itu saya tidak tahu!” Jawabku datar.

Memang aku tak tahu akan hal itu. Meski desas desusnya sampai ke telinga. Aku juga heran kenapa pak Imral yang sudah lama mengabdi menjadi pendidik  masih  belum  diangkat  menjadi  PNS. Sedangkan aku yang baru selesai kuliah saat penerimaan CPNS langsung diterima jadi PNS. Di usianya yang telah melampaui angka 30 mustahil bisa diangkat PNS.

“Yang memberatkan buat saya adalah jiwa saya sebagai seorang guru. Saya tidak bisa diam berpangku tangan menyaksikan anak – anak tetangga saya tidak bisa mengecap pendidikan. Itulah yang paling berat buat saya sebagai seroang pendidik.” Kata pak Imral yang membuyarkan lamunanku.

 “Saya juga menyisihkan penghasilan saya untuk membelikan alat tulis buat mereka. Setiap sore saya mengajari mereka menulis berhitung dan membaca di rumah ini. Ya, anak – anak sini tidak sekolah karena orang tuanya tak sanggup  membiayai mereka. Saya hanya tak ingin mereka menjadi bodoh karena tidak bisa baca dan nulis. Untuk itulah saya mengajari mereka. Setelah  mereka  selesai  memunguti  sampah  di  TPA, menggembala kambing dan kerbau, atau setelah mereka pulang dari sawah.“ lanjut pak Imral.

***

Pagi ini aku sudah memilah buku – buku tak terpakai yang masih layak untuk digunakan. Rencananya  siang ini buku – buku itu akan aku berikan pada pak Imral untuk anak – anak di kampungnya. Aku memang memiliki banyak kumpulan buku. Karena hobi membacaku yang menjadikan aku sangat suka pada buku. Aku mengoleksi buku saat masih SMP sampai sekarang. Dan isteriku juga punya hobi yang sama.  Kumpulan  buku  kami  sudah  bisa  membuat perpustakaan kecil di rumah. Dari hobi membaca itulah aku dan isteriku membuka toko buku, yang lajunya diawasi oleh isteriku sendiri.

“Akang  teh lagi ngapain?” Suara lembut dengan logat Sunda milik isteriku menyapa telinga di pagi ini. 

“Lagi ngebungkus buku – buku bekas.” Jawabku singkat.

“Buat siapa?”

“Buat pak Imral.”

“Pak Imral? Saha eta pak Imral?” Tanyanya lagi.

Aku pun menjelaskan siapa itu pak Imral dan peristiwa kemarin di rumah pak Imral kepada isteriku.

“Kasihannya pak Imral teh. Puluhan tahun ngabdi jadi guru, tapi statusnya tetap honorer.”

Aku hanya bisa mendesah panjang menanggapi perkataan  isteriku  itu.  “Memang  seperti  itulah

kenyataannya, dik.”   

“Coba kalau pemimpin negeri ini kayak pemimpin Jepang. Pasti peradaban bangsa ini lebih maju.” Katanya yang  membuatku  sedikit  heran.  Emangnya  kenapa dengan pemimpin kita?

“Saat Jepang dibuat lumpuh oleh bom Atom di Hirosima dan Nagasiki, ada satu hal yang membuat Kaisar Hirohito tetap wae bersemangat. Adalah karena masih aya guru – guru yang tetap hidup. Guru – guru itulah yang mendidik orang – orang Jepang untuk bangkit dari keterpurukannya. Dan seperti apa yang kita lihat sekarang, harapan Kaisar Hirohito telah menjadi kenyataan.  Jepang  menjadi  Negara  yang  maju.” Lanjutnya.

“Dan ternyata, penghargaan yang tidak memadai terhadap guru, seperti yang terjadi di negeri kita ini, berbanding lurus dengan kualitas sumber daya manusia yang  ada.  Begitu  maksud,  Adik?”  Tukasku  atas pernyataan Istriku itu.

“Iya. Seperti itulah maksud Adik.” Tandasnya.

Aku  menghela nafas  panjang.  Memang seperti itulah kenyataan yang ada di negeri yang kaya dengan sumber daya alamnya ini. Namun kekayaan alamnya tak terolah dengan maksimal karena kualitas sumber daya manusianya yang minim.

“Terus Akang mau ngasih buku – buku bekas itu?”

Aku  menggakukkan  kepalaku.  Membenarkan pertanyaannya.

 “Kenapa enggak buku yang baru aja. Itu buku bacaan buat anak SD kan masih banyak di toko. Enggak apa – apa kok ngasih buku baru juga.”

Aku menghentikan aktivitasku membungkus buku – buku bekas itu. Aku menoleh ke arah isteriku. “Yang

bener, Dik?”

“Iya. Kan buku baru buat SD itu masih banyak. Enggak apalah rugi saeutik mah. Itung – itung amal.”

Sahutnya mantap.

Dibantu oleh isteriku aku membungkus buku – buku itu. Setelah selesai kami membawanya ke dalam mobil. Isteriku melepas kepergianku pagi ini dengan senyum. Mobil kustarter untuk melaju. Mobil melaju dengan tenang. Sesekali kulihat buku – buku di belakang  tempat dudukku.

Sekilas terbayang wajah pak Imral tersenyum haru melihat kedatanganku. Semuanya terasa indah. Di saat seperti itulah aku bisa membahagiankan orang yang telah membuka cakrawala ilmu padaku.

Dari jalan perempatan jalan menuju TPA, aku melihat asap tebal hitam membumbung ke angkasa. Mungkin  itu  akibat  dari  pembakaran  sampah  yang dilakukan di TPA.

Semakin dekat perjalanan, semakin hitam dan tebal pula asap yang terlihat. Dari jauh kulihat kobaran api di TPA. Dan aku sempat tak percaya saat tiba di depan TPA.

 Aku melihat api berkobar tinggi di TPA dan sekitarnya. Orang – orang berteriak histeris dan berlarian menyelamatkan diri. Api menjilati semua bangunan yang ada di sekitar TPA itu. Menghanguskan seisi TPA dan beberapa rumah di sekitarnya. Memberangus mimpi dan cita. Tak ada yang dapat diselamatkan dari kebakaran itu. Termasuk rumah pak Imral…

Negeri yang Merintih. 120212.

Untuk guru – guruku yang telah membukakan gerbang pengetahuan.


Sunday, August 15, 2021

Sayap Patah Cintaku

August 15, 2021 0


Aku tak sanggup lagi mengejarnya. Ia telah terbang tinggi dan pergi menjauh. Sedangkan aku tertinggal di sini menahan luka. Meradang menahan sakit akibat luka yang ia pahat sebelum tinggalkanku.

Ah, andai saja tubuhku tak luka. Andai saja sayapku tak patah. Andai saja sayapku dapat mengepak kuat. Aku akan terbang lagi mengejarnya, kemana pun ia pergi!

Namun, itu sepertinya hanyalah angan kosongku saja. Angan makhluk yang tak lagi punya daya dan kuasa. Selain berharap khayalan itu jadi nyata.

Aku tak tahu kenapa ia pergi meninggalkanku. Sungguh aku tak tahu kenapa? Aku pun bingung dibuatnya. Ia pergi meninggalkanku di saat kuncup – kuncup bunga hatiku siap mekar dengan segala keindahan dan keharuman cintaku padanya. Ia pergi di saat asmaraku bertahta di atas singgasana cinta. ia pergi di saat aku masih sayang dan membutuhkannya. Menorehkan sebuah luka di hati terdalam.

Rasa cinta dan sayangku sangat besar padanya. Rasa itu tak pernah padam, apalagi mati. Aku pun memutuskan untuk mencarinya. Berkelana mencari cintaku yang telah hilang. Mengepakkan sayap menjelajahi angkasa raya. Sampai sayap sebelah kananku patah. Dan aku terdampar di sini.

Aku telah menjelajahi dirgantara. Menembus awan, menghalau terik matahari, menerjang hujan dan badai. Aku mencarinya hingga sayap sebelah kananku patah. Aku mencarinya hingga aku terdampar di sini, di pulau kecil yang tumbuh sendiri di tengah luasnya samudera. Aku terdampar dalam sunyi mencarinya di pulau terasing dan sepi. Dalam kesunyian, aku tercelup seorang diri.

Aku mencoba bertahan dalam sunyi. Berjalan menapaki hari esok yang suram. Semua karena cinta. membuatku masih bisa berdiri, walaupun terhuyun menyangga raga.

Matahari terus bersinar riang. Cahayanya coba terangi sudut jiwaku yang gelap. Kulihat awan – awan menggantung di langit biru. Awan – awan itu berkumpul laksana mozaik – mozaik alam melukis sketsa wajah bidadariku yang telah pergi di lizuardi tanpa kaki. Aku pun jadi ingin bertemu dengannya. Bertanya, berbincang, berdua kembali seperti dulu, bersama berenda kasih dalam ikatan halus benang cinta. Dalam sunyi, aku terpenjara rinduk tak bertepi.

Aku tak tahu mengapa harus begini. Sungguh aku tak tahu! Rasa ini begitu perih. Hatiku sakit dengan luka tak terperi.

Hilang satu yang terindah dalam hidupku. Membuatku luluh lantak berserak tak tegak. Seperti tercabut separuh jiwa. Sungguh menyakitkan! Sangat menyakitkan dengan luka tak terperi, terus membesar dan berbekas. Masih sanggupkah aku bertahan? Pertahankan cinta ini.

Hari esok seperti bola lampu lima watt, bercahaya redup merah padam. Aku menunggu yang tak pasti di pulau asing ini. Mungkinkah ini tempat terakhirku menginjakkan kaki? Jangan sampai! Ini terlalu pedih.

Aku tak pernah membayangkan akan seperti ini. Mengalami ujian terberat dalam hidupku, ujian yang sedang aku alami. Seperti vonis mati yang dieksekusi dengan pelan – pelan, menyicil rasa sakit yang sangat pedih sampai ajal datang menjemput.

Mengapa aku harus menanggung ini semua? Bukankah cinta itu indah? Mengapa bunga – bunga cinta itu kini harus menjelma jadi pohon – pohon kaktus berduri tajam yang mengganjal hatiku? Mengapa?!

Bumi tak menjawab. Langit tak menjawab. Pepohonan bungkam. Semua diam membisu. Hanyalah desir angin yang kudengar pelan berhembus menuntun langkahku.

Dengan tertatih aku melangkahkan kami. Berjalan ke mana kaki ini membawaku pergi. Kutahan semua rasa sakit. Terus berjalan mencari kehidupan di sini. Aku tak ingin berputus asa. Aku tak mau mati di sini sendiri. Aku yakin di sini ada kehidupan. Walaupun, sudah satu minggu aku menjelajahi pulau ini, dan tak menemukan makhluk apapun, selain lebatnya pohon – pohon yang menyusun rindangnya hutan belantara.

Lukaku semakin parah. Darah – darah segar menetes keluar dari sayapku yang patah. Aku tak kuat lagi berjalan. Rasa ini terlalu sakit. Kakiku pun lecet dan lebam. Di bawah pohon rindang dekat bibir pantai aku memilih istirahat.

Kepalaku pusing tujuh keliling. Pandanganku kabur. Samar kulihat corak alam yang terhampar di hadapan, buram hitam putih.

Aku mengedarkan pandanganku yang buram ke segala penjuru. Tak sengaja ekor mataku menangkap sosok aneh di tengah laut.

Aku bangkit berdiri. Aneh, kepalaku tak lagi pening. Pandanganku kembali normal. Kali ini dengan jelas aku dapat melihat makhluk itu. Seperti kucing. Ya, anak kucing yang tercebur  meronta – ronta, mencoba untuk selamatkan diri.

Lalu, aku melihat seekor anjing kintamani hitam keluar dari hutan dan berlari kencang kearah laut. Anjing itu berenang menyelamatkan anak kucing yang hampir tenggelam.

Ini sungguh aneh, tapi ini nyata. Aku menyaksikan seekor anjing menyelamatkan anak kucing. Bukankah anjing sama kucing itu musuh bebuyutan?

Dengan perasaan heran aku mendekati mereka. Merekalah yang selama ini aku cari, makhluk hidup penghuni pulau asing ini selain pohon.

Anjing itu menjemput kedatanganku dengan tatapan tajam. Aku seperti dilumatnya mentah – mentah.

“Kenapa? Kau heran melihatku melakukan ini semua?!” Kata anjing itu terdengar jelas di telingaku. Aku kaget tak kepalang. Anjing itu bisa bahasa manusia. Lidahku kelu untuk berkata. Aku masih kaget. Aku tak bisa menjawabnya.

“Aku tahu, kau pasti kaget melihatku melakukan ini semua, dan aku bisa bicara dengan bahasamu?” Tanyanya menohokku.

Lidahku masih terasa kelu. Aku masih tak bisa bersuara. Dengan mengangguk aku menjawabnya.

“Aku adalah penjaga pulau ini. Aku wajib melindungi semua makhluk yang ada di pulau ini dengan penuh cinta.”

“Tapi, bukankah kucing itu adalah musuh abadimu?” suaraku keluar melontarkan pertanyaan.

Anjing itu tersenyum. “Itulah cinta. ia tak pernah melihat siapa yang ia berikan kasih. Dan ia tak pernah berharap menerima, hanya memberi dengan sepenuh jiwa.”

“Cinta?” Ucapku tak mengerti.

“Hai, orang asing. Ketahuilah, siapa yang hidup bagi dirinya sendiri, ia akan hidup sebagai manusia kecil dan mati sebagai orang kecil. Tapi, siapa yang hidup bagi orang lain, ia hidup sebagai manusia besar dan takkan mati selamanya. Kau hanya manusia kecil yang cinta hanya pada dirimu saja.” Ujarnya.

“Tidak!!! Aku mencintai bidadariku sepenuh hati. Aku mengejarnya hingga aku terdampar di sini.” Tukasku membantahnya.

“Itulah bukti kalau kau hanya cinta pada dirimu sendiri. Kau begitu sakit ditinggal pergi pasanganmu sampai kau tak peduli pada orang – orang di sampingmu. Kau tak peduli pada orang – orang yang telah memberikan cintanya sepenuh hati untukmu. Hingga kau terdampar di sini, terpenjara dalam sunyi dan kerinduan teramat dalam yang kau buat sendiri dalam pikiranmu.” Jawabnya.

“Apa?!!”

“Iya. Tempat ini adalah penjara bagi orang – orang sepertimu. Kau akan terpenjara di sini sampai kau bisa  keluar dari kematian perasaanmu, sampai kau bisa merasakan hadirnya cinta di sekelilingmu, sampai kau bisa mempersembahkan cinta pada semua makhluk di muka bumi ini, tanpa ada harap menerima.” Kata Anjing itu sambil berlalu pergi meninggalkanku.

Persendianku terasa lemas. Tubuhku amblas jatuh ke pantai berpasir putih. Apa maksudnya ini?

“Kau tidak hidup untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk orang lain yang ada di sekitarmu. Coba lihat dirimu! Memenjarakan diri dengan tak mendengarkan apa isi hati orang – orang yang ada di sekitarmu!” Kucing yang tadi diselamatkan anjing kintamani itu mengeluarkan suaranya, berujar.

Aku tertunduk mendengarnya. Aku sudah bisa menerima kenyataan ini. Benar, aku tak hidup untuk diriku saja, tapi juga untuk orang lain. Benar aku telah begitu sakit hati ditinggal pergi bidadariku.

Tapi, aku ingin jadi orang kerdil. Aku tak mau terus berada di penjara ini. Aku harus bangkit. Harus!!!

Langit biru begitu bersih terhampar. Aku harus kembali ke dunia nyata. Harus! Aku akan belajar mempersembahkan cinta setulus hati, tanpa ada harap menerima. Sambil mengobati sayap patah cintaku. Aku akan kembali terbang ke duniaku. Aku akan  kembali!

 

 

Sunday, August 8, 2021

Rekening Gendut

August 08, 2021 0


Aku harus menahan nafas sejenak saat akan memasuki persidangan. Ah, persidangan kali ini sangat berbeda dengan beberapa persidangan yang pernah aku jalani. Ada nuansa emosional yang mengaduk perasaan.

Benar saja, saat aku memasuki ruang sidang, seorang ibu muda histeris dan memaki-maki aku. Jelas kutangkap kemarahannya. Bahkan, ia meneriakiku dengan sebutan bajingan.

Aku berusaha tidak memperhatikannya. Terus bejalan ke muka hakim. Ekor mataku menangkap satu sosok bertumuh tambun yang duduk di belakang meja berderet dengan pengacara, tepat di pinggir kanan meja hakim. Ia menatapku tajam.

Sesudah pengambilan sumpah, aku alihkan pandangan mata ke sosok tambun yang sedari tadi menatapku tajam. Tatapan kami bertemu. Jelas ia sekali ia menatapku sangat tajam. Tatapannya bagaikan busur panah yang siap menghujamku.

Ia adalah Dion Anggawijaya, sedangkan ibu muda yang tadi meneriakiku adalah Lisa, istri Dion.

Aku sungguh mengenal mereka. Dion, sahabat karibku sejak SMP. Kini kami berseberangan. Ah, semua ini bermula setahun lalu.

*

Sebagai kawan karib yang berteman sejak SMP aku dan Rudi mengajak Dion untuk reunian tak resmi di Bogor. Ini kami lakukan karena kami sudah lama tidak bertemu. Kami semua datang bersama keluarga. Aku sendiri hanya mengendarai motor, sedangkan Rudi yang sukses dengan usahanya mengendarai mobil, dan yang membuat kami tersentak adalah Dion yang datang menggunakan mobil mewah.

Sehabis pulang dari reunian itu, pikiranku masih terngiang celotehan Rudi tadi siang saat kami terkaget dengan kendaraan teman lama kami, Dion.

Pegawai biasa,tapi kaya raya kemungkinannya ada lima,yaitu mendapat warisan, menikah dengan orang kaya, menang undian, punya bisinis sampingan atau korupsi

Kemungkinan terakhir yang membuat pikiranku sibuk menerka. Aku tahu Dion sejak kecil hingga SMA. Sebagai PNS juga aku tahu berapa gajinya Dion, toh aku juga PNS. Punya mobil mewah dengan penghasilan tetap yang tak seberapa sangat tidak wajar.

Dik, kamu liat tadi mobilnya Dion?

Iya, bagus yah. Kira-kira berapaan yah harganya?

Mercedes Benz S Class, di pasaran bisa 1,5 M tuh

1,5 M, milyar?kata Istriku dengan mata terbelalak

Aku curiga, Dik. Dapet dari mana ia uang buat ngebeli mobil semewah itu, toh si Rudi yang usahanya sukses aja belum tentu sanggup beli mobil semewah itu.” Analisaku atas mobil mewah Dion, mungkin pola pikiranku yang tertana,m untuk curiga hasil didikan lembaga intelejen.

Hush, jangan mikir yang enggak-enggak, siapa tahu ia baru aja dapet rejeki gedepotong Istriku. “Rejeki kan kita tidak tahu datangnya kapan”

Pradugaku pun luluh, lima tahun tidak bertemu, meski tadi Dion tidak cerita asal usul mobil mewahnya, siapa tahu ia dapet semacam hadiah atau undian.

Sungguh aku hampir melupakan mobil mewah Dion, tapi satu minggu berselang dari kejadian di Bogor, istriku pulang dengan membawa cerita yang memuatku semakin penasaran akan asal muasal harta Dion.

“Kak, tadi nemenin pindahan keluarganya Lisa. Gila rumahnya megah banget”

“Ah, serius?”

“Serius, Syukurannya aja tadi meriah banget. Hebatnya lagi rumahnya ada di kawasan elit. Kita masih aja di gubuk”

Aku cuma tersenyum kecut dengan kalimat terakhir istriku. “Hah, yang penting halal, daripada istana mewah tapi dibangun dari uang korupsi”

“Iya, iya setuju deh”

“Kok, sekarang aku jadi curiga yah. Rasanya ada yang aneh dengan keluarga Lisa. Pas ditanya dapet rezeki dari mana malah ngehindar gak mau jawab”

“Ohh” responku atas pandangan istriku itu. Sebenarnya dalam hati aku juga sependapat.

Aku membawa cerita istriku menjadi benih kecurigaan. Sikap kecurigaan ini yang membuatku tertarik untuk mengoreknya lebih jauh. Tapi aku tidak akan menanyainya langsung ke Dion. Ia sudah menunjukkan sikap ketertutupannya sewaktu di Bogor. Yang terpenting aku sudah memegang tanggal lahir dan namanya. Karena dua hal itu bisa jadi kunci masukku.

Sehari setelah cerita istri itu, aku langsung mebuka aplikasi komputer yang dimiliki kantor. Ketika jari ini mengetik nama dan tanggal lahir Dion, muncul riwayat transaksi keuangannya di bank, asuransi, dan agen yang membuat mataku membelalak. Degp jantungku seakan berhenti. Oh ternyata...

Aku langsung mencetak laporan transaksi Dion. Dua buah, satu untuk aku bawa pulang ke rumah dan satu lagi buat laporan ke atasan.

Kulihat tatapan mata istriku begitu tajam di wajah yang mengguratkan keseriusan. Dengan teliti ia baca kertas berisi print out laporan yang aku bawa dari kantor. Selesai membaca laporan itu, ia menatap mataku lekat.

“Apa yang akan Kakak lakukan dengan laporan ini”

“Aku belum melaporkan laporan itu ke atasanku. Kau sudah tahu apa yang seharusnya aku lakukan. Aku ingin mendapatkan dukunganmu.”

“Kakak yakin?”

Aku mengagukkan kepala. Menghilangkan keraguannya.

Ia memelukku erat. Kemudian membisikkan kata yang membuatku lebih tegar. “Aku setuju,”

Aku pun melaporkan laporan yang aku dapat ke atasanku. Sikap yang membuat aku harus menghadapi pergulatan emosional di kemudian hari.

*

Kini aku harus menjadi saksi dengan tersangka Dion, sahabat karibku sendiri. Menjawab setiap pertanyaan dari Hakim tentang modus korupsi yang dilakukan Dion.

“Modus yang dilakukan tersangka untuk korupsi dengan cara memasukkan dana miliaran tersebut ke rekening istrinya. Lalu, sang istri memecah ke anak mereka yang baru berusia 5 bulan. Anaknya yang 5 bulan ini juga sudah diasuransi Rp2 miliar, lalu anaknya yang 5 tahun juga diasuransikan pendidikan Rp5 miliar. Uang itu juga dikirim ke ibu mertuanya,” jawabku mantap.