Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Friday, October 22, 2021

From ornamental to Edible Plant: Mitigasi Perubahan Iklim bidang pangan



Tahukah kamu jika perubahan iklim mengancam ketahanan pangan? Merujuk laporan tahunan PBB berjudul “Kondisi Ketahanan Pangan dan Gizi di Dunia”, pada tahun 2017, jumlah penderita kekurangan gizi di dunia menjadi 821 juta orang. Hal ini antara lain akibat dampak cuaca ekstrim, seperti curah hujan  dan suhu ekstrim, kekeringan, badai, serta banjir.

Indonesia sendiri dalam tahun-tahun kedepan akan terancam ketahanan  pangannya karena perubahan iklim. Riset yang dilakukan Supari, seperti yang dikutip dari buku Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan karya Ahmad Arif, menemukan bahwa naiknya tingkat curah hujan  di indonesia terjadi di utara garis khatulistiwa, terutama sumatera bagian tengah dan  utara serta kalimantan bagian timur. Sebaiknya, di wilayah indonesia bagian selatan garis khatulistiwa, misalnya Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, curah hujan justru berkurang.

Riset lain berupa pemodelan iklim yang dilakukan Supari dan para peneliti lain dari berbagai negara bahkan menunjukan bahwa deret hari kering dalam setahun di indonesia mendatang akan bertambah panjang hingga 20%. Tentu ini adalah sinyal berbahaya bagi ketahanan pangan indonesia, terlebih wilayah selatan garis Khatulistiwa adalah lumbung pangan.

Mitigasi Ketahanan Pangan dari Rumah

Kebutuhan akan pangan yang terus meningkat, tidak diiringi dengan peningkatan produksi yang signifikan. Terlebih  penyediaan pangan kedepan juga menghadapi tantangan perubahan iklim yang dampaknya bakal makin dirasakan oleh umat manusia. Lantas apa yang dapat dilakukan?

Mitigasi perubahan iklim sebagai langkah mengurangi dampak kerugian akibat perubahan iklim, khususnya pada ketersediaan pangan tentu perlu dilakukan. Langkah mitigasi ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tapi juga dapat dilakukan oleh masyarakat umum, termasuk kaum muda. Kita dapat melakukan hal kecil dan dimulai dari rumah, yaitu memulai ketahanan pangan dari rumah.

Saya sendiri saat ini sedang menggeser tanaman ornamental alias tanaman hias ke tanaman edible, tanaman yang dapat dimakan. Ini sebagai upaya menyediakan pangan segar dari rumah. Langkah kecil yang dapat dilakukan namun memiliki  berdampak positif.

Jenis tanaman edible yang dipilih memiliki kriteria mudah penanamannya, mudah perawatannya, dan memiliki kandungan nutrisi yang baik. Mudah menanamnya artinya Tanaman yang dipilih mudah cara perbanyakannya misal dengan cara stek batang, selain itu tanaman juga toleran terhadap berbagai jenis tanah. Mudah perawatannya artinya tanam bandel, tidak mudah mati meski ditinggal lama dan tetap tumbuh walau jarang disiram. Terakhir memiliki kandungan nutrisi yang baik bagi tubuh jika dikonsumsi. Kriteria yang cocok untuk orang kota, dimana waktunya terbatas dan suka bepergian keluar kota.

Dari tiga kriteria di atas, saya mengembangkan tiga jenis tanaman sebagai langkah awal untuk dibudidayakan di rumah menggunakan pot. Alasan menanam di pot karena keterbatasan lahan. Selain itu, menanam di pot juga lebih murah dan mudah, karena tidak memerlukan pengolahan dan persiapan lahan, serta lebih efektif waktu pemeliharaannya. Adapun ketiga jenis tanaman yang dipelihara adalah sebagai berikut:

1. Kelor

Tanaman kelor familiar dijadikan tanaman pembatas pagar di Indonesia, belakangan ini populer sebagai tanaman ajaib karena kandungan gizinya yang bagus. Kelor terbukti mempunyai nilai gizi yang tinggi sehingga bisa dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan gizi keluarga. Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jakarta, Arivin Rivaie seperti dikutip oleh swadayaonline.com, mengatakan bahwa Pemanfaatan kelor sebagai sumber pangan dan gizi keluarga merupakan salah satu cara untuk menanggulangi masalah stunting atau memperbaiki gizi keluarga. Daun kelor sendiri dapat diolah menjadi berbagai macam makanan mulai dari sayur bening, kue kering, sampai bolu.

Kelor merupakan tanaman yang mudah ditanam di mana-mana, berumur panjang (perenial) dan dapat tumbuh di ketinggian 0-2000 mdpl. Tanaman kelor mempunyai adaptasi yang baik pada suhu 25-35 derajat Celcius dengan curah hujan minim. Kelor tumbuh pada kondisi ekstrim seperti tanah berpasir atau lempung dan bertahan di musim kering. perbanyakan tanaman kelor dapat dilakukan dengan penanam biji mau[un stek batang.

Daun kelor banyak manfaat bagi kesehatan. Tak heran, tanaman satu ini disebut superfood. Bahkan, Organisasi Pangan Dunia Food and Agriculture Organization (FAO) sempat memasukkan kelor sebagai Crop of the Month di tahun 2018. Lantas apa saja kandungan gizinya, sila cek gambar di bawah ini.


Sumber: https://nilaigizi.com/gizi/detailproduk/393/nilai-kandungan-gizi-Buah-kelor

2. Katuk

Tanaman Katuk banyak digunakan sebagai bahan sayuran, lalap, pewarna makanan dan obat. katuk paling terkenal digunakan untuk pelancar Air Susu Ibu (ASI), karena kandungan steroid dan polifenol pada daun katuk dapat meningkatkan kadar prolaktin, hormon pelancar ASI. Banyak ragam olahan yang akan menghilangkan rasa pahitnya tanpa mengurangi kandungan gizinya. Biasanya daun katuk ini diolah menjadi sayur bening. Namun kamu juga bisa mengolahnya menjadi beragam sayur berkuah, camilan, dan banyak lainnya.

Tanaman Katuk mudah diperbanyak dengan cara vegetatif, yaitu stek batang. Dikutip dari situs Tamankupukupusukardi.my.id, Katuk dapat tumbuh baik pada daerah-daerah dengan ketinggian 1.300 m dpl. Semak tahunan ini memiliki adaptasi tropika dan subtropika serta produktif sepanjang tahun walaupun tanaman cenderung agak dorman pada cuaca dingin. Toleran terhadap panas, kelembaban, sensitif terhadap dingin dan tanah salin, pH optimal 6.

Kandungan gizi katuk dapat dilihat pada gambar berikut.


sumber: https://nilaigizi.com/gizi/detailproduk/417/nilai-kandungan-gizi-daun-katuk-segar

3. Ginseng jawa

Ginseng Jawa atau biasa disebut juga dengan nama Som Jawa merupakan salah satu tanaman obat yang akar dan daunnya mempunyai banyak khasiat sebagai obat tradisional. Daun Ginseng Jawa umumnya dikonsumsi sebagai makanan baik diolah maupun mentah. Daun  Ginseng Jawa biasa dimasak dengan cara ditumis.

Dikutip dari Tamankupukupusukardi.my.id, beberapa penelitian menyebut Daun ginseng jawa mengandung nutrisi seperti karbohidrat, protein, lipid, asam amino, asam askorbat, kalium, kalsium, magnesium, pektin, besi, natrium, beta karoten dan vitamin. Vitamin yang terkandung dalam Daun Ginseng Jawa yaitu Thiamin, riboflavin, niacin, vitamin c, dan tocopherol. Daun Ginseng jawa juga mengandung antioksidan.

Tanaman ini dapat ditanam di pot. perbanyakannya sangat mudah dengan stek batang. Bentuk tanaman dengan bunga pink, membuat tanaman ini dijadikan juga sebagai tanaman hias, jadi memiliki fungsi ornamental juga edible.

Selain tiga tanaman di atas, masih ada tanaman lain yang ingin dibudidayakan seperti ganyong, sorgum, dan tanaman pangan yang masuk ke golongan tanaman pengikat nitrogen, karena jenis tanaman ini mampu bertahan di kondisi cuaca ekstrim.

Pada bulan Oktober ini di mana diperingati Hari Sumpah pemuda, saya ikut mendukung kampanye #MudaMudiBumi #UntukmuBumiku. Sumpah Pemuda tahun ini saya memiliki versi saya sendiri,
"Saya bersumpah untuk menanam lebih banyak tanaman pangan dan menyediakan bibit tanaman untuk dibagikan ke lingkungan sekitar saya"

Sebagai bukti nyata dari sumpah tersebut, saya sudah menyediakan sekitar 60 bibit tanaman untuk dibagikan pada bulan November tepat pada Hari Menanam Pohon. Saya juga akan mengajak lingkungan sekitar saya untuk lebih peduli tentang isu perubahan iklim. #TimeforActionIndonesia.

Oh iya, untuk pupuknya dapat menggunakan air cucian beras loh. Cara pembuatan Pupuk Organik Cair (POC)  air cucian beras dengan diberikan bakteri dan gula. Detail pembuatannya dapat lihat videonya di bawah ini



Akhir kata, Pangan merupakan kebutuhan paling asasi yang menentukan keberhasilan hidup kesehatan kualitas generasi penerus bahkan juga identitas. Dalam jangka panjang kekurangan pangan dan nutrisi akan melahirkan generasi yang lemah kurang tegas dan tidak produktif. Kita dapat melakukan mitigasi awal dengan menanam pohon sumber pangan dari rumah kita sendiri, baik dari halaman depan atau belakang rumah. Seperti kata pepatah sedia payung sebelum hujan.


Referensi:
Abay, Udin. Budidaya Tanaman Kelor Dalam Pot di Daerah Perkotaan. https://www.swadayaonline.com/artikel/7419/Budidaya-Tanaman-Kelor-Dalam-Pot-di-Daerah-Perkotaan. (20 Oktober 2021)
Arif, Ahmad. 2020. Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Anonim.  Katuk, sayuran yang bagus bagi air susu ibu (ASI). http://www.tamankupukupusukardi.my.id/2021/04/katuk-sauropus-androgynus.html. (20 Oktober 2021)
Anonim. Mengenal tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). http://www.tamankupukupusukardi.my.id/2021/06/ginseng-jawa-talinum-paniculatum.html. (20 Oktober 2021)

2 comments: