Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Sunday, August 22, 2021

Senandung Rindu Guru



Menjengkelkan  bila  di  saat  weekend yang semestinya  bisa  nyantai  malah  harus  tetap  bekerja.

Seperti sabtu pagi ini yang terasa lain bagiku. Aku tidak bisa  menghabiskan  waktu  bersama  keluarga  seperti biasanya.  Ada  tugas  untuk  mendampingi  kunjungan bapak Bupati yang akan meninjau sebuah sekolah.

Mobil terasa terbang membelah jalanan. Aku harus datang  lebih  cepat  dari  rombongan  Bupati. Kupacu semakin kencang mobil yang kutumpangi sampai ujung jalan raya. Setelah melewati erempatan, jalan yang ditempuh lumayan  ancur. Tapi mobil terus berpacu. Meliuk – liuk di tengah persawahan yang hijau dengan sungai di samping jalannya. Berjalan ke daerah yang dulu pernah kujejaki. Tempat di mana aku pernah hidup dan tumbuh besar. 


Kunjungan bapak Bupati kali ini adalah ke sebuah kampung yang masih menjadi bagian dari desa tempat kedua  orang  tuaku  tinggal.  Letak  kampungnya  di belakang desa kami. Tapi, sudah sangat lama aku tidak menginjakkan kaki ke sana.

Rombongan Bupati datang jam sebelas. Kunjungan Bapak  Bupati  kali  ini  adalah  meninjau  proses pembangunan sekolah dasar di kampung itu. Kunjungan beliau terbilang singkat. Setelah melakukan peninjauan dan  melakukan  audiensi  dengan  masyarakat  sekitar, beliau beranjak pergi untuk kunjungan kerja ke daerah lainnya.

Aku meninggalkan kampung itu sekitar jam satu siang. Mobil bergoyang menempuh jalan pulang. Jalan yang tersusun dari tanah merah dan batu – batu cadas. Melewati  Tempat  Pembuangan  Akhir  sampah  yang menyerbakkan bau busuknya ke mana – mana.

Aku memang paling malas untuk pergi ke daerah itu.  Dari  aku  yang  masih  kecil  sampai  sekarang. Walaupun  kampung  itu  masih  satu  desa  denganku. Karena semerbak wangi TPA itu yang menyesakkan dadaku. Apalagi dulu kalau mau sampai ke sana harus melewati dua jembatan bambu di dua sungai yang cukup besar dan dalam.

Mobilku  berjalan  perlahan  melewati  TPA.  Tak sengaja ekor mataku menangkap sosok lelaki yang baru keluar dari TPA itu. Lelaki itu memakai topi rimba dengan pakaian yang lusuh. Memanggul keranjang yang penuh dengan sampah dan tangannya menggenggam sebuah tongkat untuk mengambil sampah. Aku seperti mengenal lelaki itu dari perawakannya. Tapi, siapa dia?

Aku menghentikan laju mobilku. Kemudian keluar mendekati lelaki tadi. Kali ini dengan jelas aku dapat

melihat wajahnya. Ternyata…

“Pak Imral!!” Ucapku spontan mengetahui siapa lelaki tadi. Aku tak pecaya dengan apa yang kulihat. Pak Imral adalah guruku sewaktu sekolah dasar dulu. Dialah orang  yang  telah  mengajariku  menghitung  dan membaca. Dan sekarang aku melihat dia sebagai seorang pemulung. Inalillahi.

“Kamu siapa?” Tanyanya.

“Saya, Yadi. Ahmad Jayadi, murid bapak waktu di SD.” Kataku mencoba untuk mengingatkannya.

“Yadi. Ahmad Jayadi, anaknya haji Sobari!” Terka pak Imral.

“Betul, pak. Itu saya.”

“Masya Allah, sudah sukses kamu sekarang.”

“Enggak juga. Hanya pegawai pemda. Bapak kok ada di sini. Bukannya bapak seorang guru, harusnya kan

ngajar?”

“Kalau pagi saya memang seorang guru. Tapi, kalau siang, ya… beginilah kerjaan saya, nyambi jadi  pemulung.”

“Oo..Gitu! bapak mau pulang? Biar saya antar saja.” Tawarku.

“Apakah  enggak merepotkan kamu? Lagi pula badan bapak kotor. Belum lagi keranjang ini penuh  dengan sampah.”

“Enggak apa – apa kok, pak.”

Mobil  melaju  perlahan  meninggalkan  gerbang TPA.  Mengitari  jalan  di  samping  TPA  itu.  Untuk  kemudian sampai depan sebuah rumah yang letaknya tepat di belakang. Sebuah rumah bilik yang terbuat dari bambu dan kayu sebagai tiangnya.

“Selamat datang di rumah saya. Seperti inilah keadaanya. Maklumlah, rumahnya orang miskin.” Ujar  pak Imral ketika turun dari mobil.

Aku hanya diam, tercenung mengetahui rumah pak  Imral. Memang baru kali ini aku mampir ke rumahnya. Di halaman rumah itu terdapat banyak para – para bambu  untuk  menjemur  plastik.  Juga  ada  untuk menjemur beras,  lebih  tepatnya  adalah  beras  aking.

Aroma bau busuk TPA juga santer tercium. Belum lagi  kumpulan  pasukan  lalat  hijau  yang  menyerbu  dan menggerubuti  beras  aking  yang  dijemur,  sungguh pemandangan yang tak sedap dipandang.

Kata pak Imral, plastik – plastik itu dibersihkan dulu baru dijemur, setelah kering nantinya di jual ke pengumpul.  Tiap  satu  kilonya  dihargai  dua  ribu. Sedangkan botol plastik dan gelas plastik dibersihkan untuk kemudian dijual kepada pengumpul. Botol dan gelas plastik itu nantinya akan digunakan untuk tempat minuman. 

“Ayo masuk!” Seru pak Imral.

Aku pun memasuki rumah yang boleh dibilang sangat sederhana itu. Dan duduk di kursi bambu ruang tamu  rumah pak Imral yang beralaskan tanah. Aku membayangkan bila aku yang harus tinggal di sini. Rasanya aku tak sanggup untuk bertahan lama. Apalagi  harus tinggal menetap.     

“Kamu pasti habis menemani kunjungan bupati, ya?” Tanyanya yang hanya aku jawab dengan anggukkan kepala.

“Kamu pasti heran dengan apa yang kamu lihat. Kamu bingungkan ada seorang guru yang nyambi jadi pemulung?”

Aku mendesah berat. “Iya.”

“Ya,  beginilah  orang  miskin  yang  memiliki tanggungan.  Gaji  sebagai  guru  tak  cukup  untuk memenuhi biaya hidup yang semakin mencekik. Jadi, harus ada penghasilan tambahan. Ya, dari profesi sebagai pemulung  itulah  saya  dapat  duit  buat  tambahan penghasilan.”

Aku agak kaget juga mendengar penuturan pak Imral.  “Bukannya  pegawai  negeri  itu  sudah  ada tunjangannya, pak?” Tanyaku.

“Pegawai  negeri?”  Pak  Imral  mengernyitkan dahinya. “Siapa yang pegawai negeri? Saya? Saya bukan pegawai negeri, saya hanya guru honerer!” Ungkap pak Imral.

Hah, pegawai honorer? Aku tercenung tak percaya.

“Jadi selama ini bapak guru honorer?” Tanyaku setengah tak percaya.

“Ya, kamu tak salah dengar! Saya memang guru honorer dari tahun 1987 sampai sekarang. Makanya saya punya profesi lain selain menjadi guru. Kamu tahu kan berapa sih gaji honorer guru SD? Sudah habis hanya untuk beli beras saja!”

“Bukannya  ada  penerimaan  CPNS?”  Aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Memang ada. Tiap kali ada pengumuman itu saya selalu mendaftar. Bahkan direkomendsikan oleh kepala sekolah. Ikut tes dan lainnya. Tetapi tetap saja, tidak keterima juga. Padahal saya sudah yakin bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Katanya kalau mau jadi PNS harus ada pelicinnya, ya?”

“Kalau yang itu saya tidak tahu!” Jawabku datar.

Memang aku tak tahu akan hal itu. Meski desas desusnya sampai ke telinga. Aku juga heran kenapa pak Imral yang sudah lama mengabdi menjadi pendidik  masih  belum  diangkat  menjadi  PNS. Sedangkan aku yang baru selesai kuliah saat penerimaan CPNS langsung diterima jadi PNS. Di usianya yang telah melampaui angka 30 mustahil bisa diangkat PNS.

“Yang memberatkan buat saya adalah jiwa saya sebagai seorang guru. Saya tidak bisa diam berpangku tangan menyaksikan anak – anak tetangga saya tidak bisa mengecap pendidikan. Itulah yang paling berat buat saya sebagai seroang pendidik.” Kata pak Imral yang membuyarkan lamunanku.

 “Saya juga menyisihkan penghasilan saya untuk membelikan alat tulis buat mereka. Setiap sore saya mengajari mereka menulis berhitung dan membaca di rumah ini. Ya, anak – anak sini tidak sekolah karena orang tuanya tak sanggup  membiayai mereka. Saya hanya tak ingin mereka menjadi bodoh karena tidak bisa baca dan nulis. Untuk itulah saya mengajari mereka. Setelah  mereka  selesai  memunguti  sampah  di  TPA, menggembala kambing dan kerbau, atau setelah mereka pulang dari sawah.“ lanjut pak Imral.

***

Pagi ini aku sudah memilah buku – buku tak terpakai yang masih layak untuk digunakan. Rencananya  siang ini buku – buku itu akan aku berikan pada pak Imral untuk anak – anak di kampungnya. Aku memang memiliki banyak kumpulan buku. Karena hobi membacaku yang menjadikan aku sangat suka pada buku. Aku mengoleksi buku saat masih SMP sampai sekarang. Dan isteriku juga punya hobi yang sama.  Kumpulan  buku  kami  sudah  bisa  membuat perpustakaan kecil di rumah. Dari hobi membaca itulah aku dan isteriku membuka toko buku, yang lajunya diawasi oleh isteriku sendiri.

“Akang  teh lagi ngapain?” Suara lembut dengan logat Sunda milik isteriku menyapa telinga di pagi ini. 

“Lagi ngebungkus buku – buku bekas.” Jawabku singkat.

“Buat siapa?”

“Buat pak Imral.”

“Pak Imral? Saha eta pak Imral?” Tanyanya lagi.

Aku pun menjelaskan siapa itu pak Imral dan peristiwa kemarin di rumah pak Imral kepada isteriku.

“Kasihannya pak Imral teh. Puluhan tahun ngabdi jadi guru, tapi statusnya tetap honorer.”

Aku hanya bisa mendesah panjang menanggapi perkataan  isteriku  itu.  “Memang  seperti  itulah

kenyataannya, dik.”   

“Coba kalau pemimpin negeri ini kayak pemimpin Jepang. Pasti peradaban bangsa ini lebih maju.” Katanya yang  membuatku  sedikit  heran.  Emangnya  kenapa dengan pemimpin kita?

“Saat Jepang dibuat lumpuh oleh bom Atom di Hirosima dan Nagasiki, ada satu hal yang membuat Kaisar Hirohito tetap wae bersemangat. Adalah karena masih aya guru – guru yang tetap hidup. Guru – guru itulah yang mendidik orang – orang Jepang untuk bangkit dari keterpurukannya. Dan seperti apa yang kita lihat sekarang, harapan Kaisar Hirohito telah menjadi kenyataan.  Jepang  menjadi  Negara  yang  maju.” Lanjutnya.

“Dan ternyata, penghargaan yang tidak memadai terhadap guru, seperti yang terjadi di negeri kita ini, berbanding lurus dengan kualitas sumber daya manusia yang  ada.  Begitu  maksud,  Adik?”  Tukasku  atas pernyataan Istriku itu.

“Iya. Seperti itulah maksud Adik.” Tandasnya.

Aku  menghela nafas  panjang.  Memang seperti itulah kenyataan yang ada di negeri yang kaya dengan sumber daya alamnya ini. Namun kekayaan alamnya tak terolah dengan maksimal karena kualitas sumber daya manusianya yang minim.

“Terus Akang mau ngasih buku – buku bekas itu?”

Aku  menggakukkan  kepalaku.  Membenarkan pertanyaannya.

 “Kenapa enggak buku yang baru aja. Itu buku bacaan buat anak SD kan masih banyak di toko. Enggak apa – apa kok ngasih buku baru juga.”

Aku menghentikan aktivitasku membungkus buku – buku bekas itu. Aku menoleh ke arah isteriku. “Yang

bener, Dik?”

“Iya. Kan buku baru buat SD itu masih banyak. Enggak apalah rugi saeutik mah. Itung – itung amal.”

Sahutnya mantap.

Dibantu oleh isteriku aku membungkus buku – buku itu. Setelah selesai kami membawanya ke dalam mobil. Isteriku melepas kepergianku pagi ini dengan senyum. Mobil kustarter untuk melaju. Mobil melaju dengan tenang. Sesekali kulihat buku – buku di belakang  tempat dudukku.

Sekilas terbayang wajah pak Imral tersenyum haru melihat kedatanganku. Semuanya terasa indah. Di saat seperti itulah aku bisa membahagiankan orang yang telah membuka cakrawala ilmu padaku.

Dari jalan perempatan jalan menuju TPA, aku melihat asap tebal hitam membumbung ke angkasa. Mungkin  itu  akibat  dari  pembakaran  sampah  yang dilakukan di TPA.

Semakin dekat perjalanan, semakin hitam dan tebal pula asap yang terlihat. Dari jauh kulihat kobaran api di TPA. Dan aku sempat tak percaya saat tiba di depan TPA.

 Aku melihat api berkobar tinggi di TPA dan sekitarnya. Orang – orang berteriak histeris dan berlarian menyelamatkan diri. Api menjilati semua bangunan yang ada di sekitar TPA itu. Menghanguskan seisi TPA dan beberapa rumah di sekitarnya. Memberangus mimpi dan cita. Tak ada yang dapat diselamatkan dari kebakaran itu. Termasuk rumah pak Imral…

Negeri yang Merintih. 120212.

Untuk guru – guruku yang telah membukakan gerbang pengetahuan.


No comments:

Post a Comment