Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Sunday, August 8, 2021

Rekening Gendut



Aku harus menahan nafas sejenak saat akan memasuki persidangan. Ah, persidangan kali ini sangat berbeda dengan beberapa persidangan yang pernah aku jalani. Ada nuansa emosional yang mengaduk perasaan.

Benar saja, saat aku memasuki ruang sidang, seorang ibu muda histeris dan memaki-maki aku. Jelas kutangkap kemarahannya. Bahkan, ia meneriakiku dengan sebutan bajingan.

Aku berusaha tidak memperhatikannya. Terus bejalan ke muka hakim. Ekor mataku menangkap satu sosok bertumuh tambun yang duduk di belakang meja berderet dengan pengacara, tepat di pinggir kanan meja hakim. Ia menatapku tajam.

Sesudah pengambilan sumpah, aku alihkan pandangan mata ke sosok tambun yang sedari tadi menatapku tajam. Tatapan kami bertemu. Jelas ia sekali ia menatapku sangat tajam. Tatapannya bagaikan busur panah yang siap menghujamku.

Ia adalah Dion Anggawijaya, sedangkan ibu muda yang tadi meneriakiku adalah Lisa, istri Dion.

Aku sungguh mengenal mereka. Dion, sahabat karibku sejak SMP. Kini kami berseberangan. Ah, semua ini bermula setahun lalu.

*

Sebagai kawan karib yang berteman sejak SMP aku dan Rudi mengajak Dion untuk reunian tak resmi di Bogor. Ini kami lakukan karena kami sudah lama tidak bertemu. Kami semua datang bersama keluarga. Aku sendiri hanya mengendarai motor, sedangkan Rudi yang sukses dengan usahanya mengendarai mobil, dan yang membuat kami tersentak adalah Dion yang datang menggunakan mobil mewah.

Sehabis pulang dari reunian itu, pikiranku masih terngiang celotehan Rudi tadi siang saat kami terkaget dengan kendaraan teman lama kami, Dion.

Pegawai biasa,tapi kaya raya kemungkinannya ada lima,yaitu mendapat warisan, menikah dengan orang kaya, menang undian, punya bisinis sampingan atau korupsi

Kemungkinan terakhir yang membuat pikiranku sibuk menerka. Aku tahu Dion sejak kecil hingga SMA. Sebagai PNS juga aku tahu berapa gajinya Dion, toh aku juga PNS. Punya mobil mewah dengan penghasilan tetap yang tak seberapa sangat tidak wajar.

Dik, kamu liat tadi mobilnya Dion?

Iya, bagus yah. Kira-kira berapaan yah harganya?

Mercedes Benz S Class, di pasaran bisa 1,5 M tuh

1,5 M, milyar?kata Istriku dengan mata terbelalak

Aku curiga, Dik. Dapet dari mana ia uang buat ngebeli mobil semewah itu, toh si Rudi yang usahanya sukses aja belum tentu sanggup beli mobil semewah itu.” Analisaku atas mobil mewah Dion, mungkin pola pikiranku yang tertana,m untuk curiga hasil didikan lembaga intelejen.

Hush, jangan mikir yang enggak-enggak, siapa tahu ia baru aja dapet rejeki gedepotong Istriku. “Rejeki kan kita tidak tahu datangnya kapan”

Pradugaku pun luluh, lima tahun tidak bertemu, meski tadi Dion tidak cerita asal usul mobil mewahnya, siapa tahu ia dapet semacam hadiah atau undian.

Sungguh aku hampir melupakan mobil mewah Dion, tapi satu minggu berselang dari kejadian di Bogor, istriku pulang dengan membawa cerita yang memuatku semakin penasaran akan asal muasal harta Dion.

“Kak, tadi nemenin pindahan keluarganya Lisa. Gila rumahnya megah banget”

“Ah, serius?”

“Serius, Syukurannya aja tadi meriah banget. Hebatnya lagi rumahnya ada di kawasan elit. Kita masih aja di gubuk”

Aku cuma tersenyum kecut dengan kalimat terakhir istriku. “Hah, yang penting halal, daripada istana mewah tapi dibangun dari uang korupsi”

“Iya, iya setuju deh”

“Kok, sekarang aku jadi curiga yah. Rasanya ada yang aneh dengan keluarga Lisa. Pas ditanya dapet rezeki dari mana malah ngehindar gak mau jawab”

“Ohh” responku atas pandangan istriku itu. Sebenarnya dalam hati aku juga sependapat.

Aku membawa cerita istriku menjadi benih kecurigaan. Sikap kecurigaan ini yang membuatku tertarik untuk mengoreknya lebih jauh. Tapi aku tidak akan menanyainya langsung ke Dion. Ia sudah menunjukkan sikap ketertutupannya sewaktu di Bogor. Yang terpenting aku sudah memegang tanggal lahir dan namanya. Karena dua hal itu bisa jadi kunci masukku.

Sehari setelah cerita istri itu, aku langsung mebuka aplikasi komputer yang dimiliki kantor. Ketika jari ini mengetik nama dan tanggal lahir Dion, muncul riwayat transaksi keuangannya di bank, asuransi, dan agen yang membuat mataku membelalak. Degp jantungku seakan berhenti. Oh ternyata...

Aku langsung mencetak laporan transaksi Dion. Dua buah, satu untuk aku bawa pulang ke rumah dan satu lagi buat laporan ke atasan.

Kulihat tatapan mata istriku begitu tajam di wajah yang mengguratkan keseriusan. Dengan teliti ia baca kertas berisi print out laporan yang aku bawa dari kantor. Selesai membaca laporan itu, ia menatap mataku lekat.

“Apa yang akan Kakak lakukan dengan laporan ini”

“Aku belum melaporkan laporan itu ke atasanku. Kau sudah tahu apa yang seharusnya aku lakukan. Aku ingin mendapatkan dukunganmu.”

“Kakak yakin?”

Aku mengagukkan kepala. Menghilangkan keraguannya.

Ia memelukku erat. Kemudian membisikkan kata yang membuatku lebih tegar. “Aku setuju,”

Aku pun melaporkan laporan yang aku dapat ke atasanku. Sikap yang membuat aku harus menghadapi pergulatan emosional di kemudian hari.

*

Kini aku harus menjadi saksi dengan tersangka Dion, sahabat karibku sendiri. Menjawab setiap pertanyaan dari Hakim tentang modus korupsi yang dilakukan Dion.

“Modus yang dilakukan tersangka untuk korupsi dengan cara memasukkan dana miliaran tersebut ke rekening istrinya. Lalu, sang istri memecah ke anak mereka yang baru berusia 5 bulan. Anaknya yang 5 bulan ini juga sudah diasuransi Rp2 miliar, lalu anaknya yang 5 tahun juga diasuransikan pendidikan Rp5 miliar. Uang itu juga dikirim ke ibu mertuanya,” jawabku mantap.

No comments:

Post a Comment