Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Sunday, August 1, 2021

Pendar Rindu Pulang



Bagamana menyudahi rindu yang teramat dalam dan menahun pada orang yang telah berubah sangat membencimu?

Itulah yang dialami Jajang.

*

Semburat cahaya menerpa tubuh ringkih di pembaringan. Hadirnya tegaskan wajah sayu penuh kelelahan. Usia telah menggerogoti tubuh yang dulunya begitu kekar dan teguh.

Jajang terkesiap melihat pemandangan itu. Ia ingin mendekat dan berhambur memeluk tubuh tua yang terbaring itu. Sepuluh tahun tak bersua. Rindu begitu besar. Menggunung.

Ragu-ragu Jajang melangkah. Tangannya terangkat coba menggapai wajah penuh lelah. Keraguan menjadi-jadi. Membuat tangannya bergetar. Takut jika luka lama masih membekas.

Belum sempat tangan Jajang mendarat. Lelaki renta itu terjaga. Tatapannya tajam. Tatapan mata menusuk kalbu. Tatapan mata yang membuat Jajang berkunang. Pandangannya kabur. Pikirannya berpilin. Jiwanya terlontar ke tempat lain.

Cahaya terang membuat mata Jajang perih. Beberapa detik kemudian ia sadar. Ia berada di kamar tidurnya.

“Kamu mimpi buruk lagi yah, yang” kata Istrinya yang berbaring di samping. Ikut terbangun karena ulah suaminya.

Jajang menghela nafas panjang. Mimpi buruk? Bukan mimpi buruk tapi mimpi aneh. Ia melihat abahnya terbaring. Mimpi yang sama seminggu ini. Seperti sebuah pertanda.

*

Pagi kembali hadir. Mentari menyapa. Sayang sinarnya tertutup kabut. Ibukota belakangan selalu begitu. Polusi mengkungkung langit. Hingga sinar bening milik sang surya pun membiaskan cahayanya.

Sementara di kulit bumi, manusia mulai beraktifitas diselingi keresahan. Seminggu lagi puasa, kebutuhan pokok selalu meloncat naik. Padahal waktu makan di bulan puasa berkurang.

Keresahan juga merasuki jiwa Jajang. Ia tidak resah dengan harga kebutuhan pokok yang selalu meloncat-loncat setiap bulan Puasa. Tapi ia resah dengan mimpi-mimpi malamnya. Resah dengan perasaan akan abahnya.

Keresahan jiwanya akan bertambah-tambah. Setiap tahun pasti istri dan anak-anaknya akan meminta untuk bertemu dengan orang tua Jajang. Seperti pagi ini.

“Yang, lebaran tahun ini. Jadi pulang ke rumah orang tuamu tidak?”

Pertanyaan yang membuat raut wajah Jajang pias. Ia ingin pulang membawa istri dan anak-anaknya ke kampung halaman. Ia ingin meluluskan permintaan penuh harap istrinya. Namun, ia tak pernah punya keberanian. Ia takut akan luka lama yang pernah tergores di kampung halamannya. Terlalu takut malah.

“Kita lihat nanti saja.”

Istrinya menghela nafas demi mendengar jawaban itu. Jawaban yang sama dari tahun ke tahun.

“Baiklah.”  

Dan hanya jawaban itu yang keluar dari istrinya. Wanita itu juga tidak pernah mau menelisik lebih jauh alasan suaminya. Setelah menikah dengan Jajang, tujuan hidupnya begitu sederhana: suaminya ikhlas ia menjadi istrinya dan suaminya ridho akan apa yang ia lakukan untuk suaminya. Sederhana. Jadi mana berani ia menelisik rahasia suaminya, mengungkit-ungkit masa lalu asal usul suaminya yang telah dikubur dalam-dalam.

*

Mimpi-mimpi malam tentang abah kembali membayangi Jajang. Sempurna hadir tiap malam sebelum sahur. Bagai sebuah siksaan psikologi. Mimpi itu membuatnya tak tahan. Ia tekadkan berani mengambil keputusan.

“Lebaran ini, aku akan mengajakmu pulang ke kampung halamanku, Yang. Menemui keluargaku.”

Kontan saja kabar itu membuat istri dan anak-anaknya gembira.

Berpilin berputar lalu terdampar pada sepuluh tahun lalu. Saat itu Jajang baru akademi pendidikan di Serang.

Waktu yang dijanjikan tiba. Setelah pagi mereka merayakan kemenangan. Siang harinya berbegas ke terminal. Menumpang bus antar kota antar provinsi ke arah ujung barat pulau Jawa.

Saat yang menyenangkan bagi istri dan anak-anaknya.  Tapi bagai masa penantian penghakiman bagi jajang.

Jajang resah. Duduknya sangat tidak nyaman. Kursi empuk dengan sandaran terasa bagai kursi pesakitan. Keringat dingin merembas pori-porinya. Ia masih belum bisa merangkai fragmen yang akan terjadi saat mereka tiba di kampung halamannya.

Bus singgah di sebuah terminal kota provinsinya. Satu dua pengamen menampilkan atraksi. Sampai seorang pengamin dengan gitar berwarna coklat tua naik dan menyanyikan sebuah lagu. Lagu lama Iwan Fals. Lagu yang membawa Jajang melayang ke masa lalu.

Saat itu Jajang baru lulus sekolah menengah atas. Sebagai anak laki-laki terbesar di keluarganya, ia bertekad mencari pekerjaan. Membantu ekonomi keluarga dan mengurangi beban abahnya. Sayang sekali krisis ekonomi yang disusul krisis multidimensi tengah melanda. Pekerjaan yang dicari tidak pernah ada, yang ada justru pemutusan hubungan kerja massal. Ekonomi Negara yang katanya subur makmur kolaps seketika.

Di desa serba sulit, meski kampung halamannya tidak jauh dari ibukota Negara, tetapi pembangunannya sangat jauh tertinggal. Apalagi dampak krisis juga membuat kehidupan yang sudah serba sulit makin sulit. Ditambah lagi ekonomi keluarganya yang nyaris sekarat.

Ia jadi gelap mata demi memenuhi tuntutan cacing-cacing diperut yang menuntut atas kelaparannya. Melupakan petuah abahnya. Melupakan ajaran orang yang dikenal sangat baik. Orang yang penuh kasih sayang kepada keluarganya. Dengan dingin mencuri seekor kambing milik tetangga desa. Lalu menjualnya untuk makan keluarga.

  Tragis aksinya tercium. Ia babak belur dihajar massa. Tubuh lebam penuh luka. Dijebloskan dalam terali besi dingin penjara.

“Abah tidak mendidikmu untuk jadi seperti ini, Jajang! Tidak pernah. Abah susah payah menyekolahkanmu agar kau punya masa depan yang lebih baik. Bukan jadi pencuri.” Kalimat abah bagai halilintar menyambar Jajang.

Abah begitu marah. Sangat marah. Tatapannya merah menyala melihat anak lelaki terbesarnya jadi pesakitan.

“Kau melupakan petuah abah. Abah tidak pernah mendidik anak-anaknya jadi maling. Abah selalu mengajarkan untuk mencari penghasilan yang hahal. Tak pernah ada dalam tradisi dalam keluarga kita memakan makanan dari uang haram. Lebih baik miskin. Lebih baik kelaparan, dan itu lebih baik dari pada mencuri!”

“Bukankah itu abah katakan berkali-kali kepada anak-anak abah? Kenapa kau melakukan apa yang abah sangat benci. Mencuri?”

“Kau melakukan kesalahan besar. Abah tidak mau melihatmu lagi pulang ke rumah. Kau menconreng harga diri abah”

Kalimat itu yang membuat Jajang jauh lebih sakit dan perih daripada luka lebam di sekujur tubuhnya. Maka keluar dari sel ia langsung pergi meminggalkan kampung halamannya. Rasa bersalahnya kepada abah begitu besar. Ia tidak pernah berani pulang ke rumahnya bertemu abah. Bertemu sosok yang sangat di segani warga karena sikap sederhana dan menolak setiap pemberian yang asal usulnya tidak jelas.

Pergi jauh meninggalkan kampung halamannya menuju ibu kota. Hidup dari satu stasiun ke stasiun lain. Sayangnya ibu kota tidak ramah. ia terjerembab ke julang hitam anak jalanan. Menjadi preman dengan bekal silat yang dulu diajarkan guru ngajinya. Bekal yang seharusnya diamalkan untuk membela kebaikan. Malah membebalkan hati menghalakan yang haram demi urusan perut.

Sampai ketika ia menodong seorang bapak paruh bayah. Ia seperti menemukan sosok abahnya. Rasa bersalahnya kembali timbul. Apalagi bapak itu membalas kelakuannya dengan balasan yang sangat berbeda. Balasan kebaikan.

Jajang ikut dengan orang itu sebagai pembantu di tokonya. Menjalani kehidupan baru dengan janji kehidupan yang lebih baik. Melarung masa-masa kelamnya. Memperbaiki diri dengan nasehat demi nasehat bijak. Bekerja pada orang itu seperti bekerja kepada abahnya.

Jajang tipikal cerdas dan pekerja yang tekun. Ia menjaga kepercayaan dengan baik. Toko itu berkembang dari tahun ke tahun. Sampai tahun kelima ia dipecaya mengelola cabang toko. Membuat orang tua yang dulu pernah ditodongnya seperti menemukan harta karun. Membuat orang tua itu tak segan-segan meminta Jajang menikahi anak gadisnya.

Jajang menikah dengan wanita baik-baik dari keturuan yang baik pula. Janji kehidupan yang lebih baik telah datang. Keluarga kecil itu tumbuh bermekaran bagai bunga di musim semi. Anak-anak kecil mulai hadir mengisi kehidupan mereka. Hanya saja, istri dan anak-anaknya tidak pernah tahu keluarga Jajang di Kampung. Jajang sempurna menyimpanya begitu rapat, karena ulah bodohnya dulu.

Semua kenangan itu bagai slide film yang diputar. Berlatar musik jalanan. Hadir dalam benak Jajang yang resah.

Aku pergi meninggalkan coreng hitam di muka bapak yang membuat malu keluargaku. Aku ingin kembali mungkinkah mereka mau menerima rinduku.

Seperti penggalan lirik lagu itu. Pertanyaan terbesar yang membuncah di dada Jajang. Sebuah luka yang ia buat dan mencoreng martabat abahnya, apakah mereka mau menerimanya lagi. Menerima kerinduan yang sekian lama tertanam mengurat mengakar tumbuh rimbun?

*

Langkah kaku Jajang memasuki halama rumah yang dulu pernah membesarkannya. Seorang wanita tua yang duduk di teras rumah tampak kaget melihat rombongan kecil keluarga Jajang. Ia kemudian berteriak haru

“Jajang”

Jajang berhambur memeluk tubuh tua itu.

“Mak, Jajang pulang.” Ujar Jajang lirih sambil mencium tangan emaknya.

“Akhirnya kau pulang, nak. Sudah lama kami menunggu kepulanganmu.”

Ibu anak itu melepas rindu. Berbincang haru akan kabar masing-masing. Jajang memperkanalkan anak dan istrinya. Wanita tua itu begitu berbinar melihat istri dan anak Jajang.

Sampai jajang bertanya kabar abahnya

“Abah bagaimana kabarnya”

Wanita tua itu sedetik kemudian terdiam. Wajahnya muram.

“Abahmu sudah lama sakit. Semenjak kepergianmu dulu. Ia begitu kehilangan. Tubuhnya melemah dan sakit-sakitan. Sekarang terbaring dalam rumah”

Jajang pias. Ayahny ternyata menyimpan rindu yang sama. Rindu kepulangan dirinya. Rindu bertemu.

Jajang langsung lari masuk rumah. Ia menuju kamar ayahnya. Pintu terkuak, ia melihat sosok abahnya yang ringkih.

Abah terkejut akan kedatangan Jajang. Mulutnya kaku merapalkan nama anaknya.

Sementara Jajang sudah bersimpuh meminta maaf akan luka masa lalu. Tindakan bodohnya.

Lengan abah mengusap kepala Jajang. Dengan lirih ia berkata ”Abah mencintaimu, anakku. Itu sebabnya abah mengharapkan pertemuan ini. Agar kamu tahu abah tetap mencintaimu. Karena itu abah tidak pernah usai mendoakan keselamatanmu. Sampai nafas ini hilang diambil kembali pemilik-Nya.”

Ruang itu berpendar penuh cahaya. Cahaya kerinduan yang akhirnya menemukan pelampiasaannya…

 

No comments:

Post a Comment