Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Sunday, July 25, 2021

Pelajaran Bercerita



Dentang bel sekolah berbunyi melengking. Andi, siswa kelas enam SD, segera berlari menuju gerbang. Berharap penjaga mau baik hati memberikan jalan.

Tergoboh badan besarnya melaju. Peluh mengucur di tubuhnya. Harapannya menjadi nyata, penjaga sekolah berbaik hati membukakan pagar. Ia pun melesat menuju kelas.

Berhasil masuk kelas hanya berselang beberapa detik dengan bu Luna. tidak ada yang boleh terlembat di kelasnya bu Luna. terlembat sedetik saja, hukumannya di keluarkan dari kelas.

Di kursinya, Andi duduk dengan gelisah. Mengibas-ngibaskan bukunya kearah badan. Mengusir gerah dengan nafas tersenggal. Sialnya noda berwarna merah di bajunya tak mau pergi.

Pelajaran kali ini adalah pelajaran bercerita di depan kelas. Dan bu Luna langsung memulai pelajaran. Setiap siswa diminta bercerita tentang pengalaman hari kemarin atau hari ini di depan kelas.

Satu persatu siswa kelas enam SD itu maju ke muka kelas, bercerita kisahnya masing-masing. Lalu tibalah giliran Andi untuk maju ke muka kelas.

Andi memulai ceritanya.

***

Hari ini aku hampir terlambat sekolah. Padahal aku bangun pagi. Sarapan dan berangkat ke sekolah. Pagi-pagi sekali.

Diantar ibu ke jalan raya. Katanya biar tidak terjadi apa-apa. Setelah naik angkot, ibu pun pulang ke rumah. Angkot ini adalah angkot biru langgananku. Disopiri oleh mang Acim, tetangga rumah.

Jalanan ramai. Banyak macetnya. Tapi, banyak sekali motor di jalan kejar-kejaran. Berliuk-liuk di antara mobil-mobil.

Sampailah angkot yang kami tumpangi di depan sebuah sekolah TK tak jauh dari rumah. Ada seorang ibu yang mengantar anak TK berkepang dua di rambutnya meminta turun dari Angkot.

Si ibu itu pun turun duluan, ia hendak memapah anak TK itu untuk ikut turun. Tapi sebelum tangannya meraih anak TK. Sebuah motor berwarna merah yang ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm kuning melaju cepat di samping kiri angkot. Tanpa ampun menerjang tubuh ibu itu sampai terbang jauh.

Darah muncrat ke sana-kemari. Termasuk ke bajuku. Aku menunjuk noda merah di dekat kantong bajuku.

Aku teriak histeris. Penumpang angkot juga teriak histeris. Si anak TK menangis meraung-raung.

Tubuh ibu itu tersungkur ke tanah. Sementara si penumpang motor melaju dengan cepat meninggalkan tubuh wanita itu. Berlari secepat mungkin dengan motornya. Lari tak bertanggung jawab.

Warga di sekitar sekolah TK berlarian kearah ibu yang tertabrak itu. Seruan-seruan ramai.

Aku melihat tubuh ibu itu. Kepalanya pecah terbentur aspal. Matanya melotot. Baju putihnya kotor sekali. Merah di sekujur tubuhnya. Mengerikan sekali.

Sedangkan si anak TK meraung-raung memanggil ibunya yang sudah menjadi mayat.

Jalanan pun macet. Polisi datang memeriksa. Mang Acin, sopir mobil angkot yang kunaiki dimintai keterangan. Lama sekali.

Aku mendesah apakah hari ini akan terlambat. Ternyata, hanya hampir terlambat.

***

Andi selesai bercerita di depan kelas.

Satu kelas terdiam. Bu Luna terbengong. Murid-murid lelaki mulutnya terbuka, menggantung seperti huruf O. Beberapa anak perempuan berhimpitan duduknya dengan wajah ngeri.

Tak ada tepuk tangan seperti anak-anak lain yang selesai bercerita. Yang ada hanya bunyi bel berdentang tanda istirahat.

Bu Luna bergegas mengambil alih kelas. Mengatakan bahwa cerita Andi hanyalah sebuah cerita yang belum tentu benar. Kemudian membubarkan kelas untuk istirahat sekolah.

Andi hanya terdiam.

***

Seminggu kemudian di kelas bercerita yang diampu oleh Bu Luna. Anak -anak kelas enam kembali di minta bercerita di depan kelas. Satu perssatu murid maju ke muka kelas membawakan ceritanya masing-masing. Ada cerita tentang liburan ke pantai, mengunjungi kakek, dan cerita kanak-kanak lainnya.

Tibalah giliran Andi maju ke muka kelas. Semua penghuni kelas terdiam untuk mendengarkan ceritanya.

***

Hari ini aku hampir terlambat sekolah. Padahal aku bangun pagi. Sarapan dan berangkat ke sekolah. Pagi-pagi sekali.

Diantar ibu ke jalan raya. Katanya biar tidak terjadi apa-apa. Setelah naik angkot, ibu pun pulang ke rumah. Seperti biasa, angkot langgananku. Angkot berwarna biru yang disopiri oleh mang Acim.

Jalanan ramai. Banyak macetnya. Tapi, banyak sekali motor di jalan kejar-kejaran. Berliuk-liuk di antara mobil-mobil.

Di dalam angkot aku melihat anak TK berkepang dua di rambutnya duduk persis di depanku. Anak TK yang minggu lalu ibunya ditabrak mati oleh motor. Ia diantar ke sekolah oleh seorang lelaki paruh baya. Mungkin itu ayahnya yang menggantikan ibunya mengantar anak itu ke sekolah.

Wajah anak itu begitu murung. Tak tampak raut gembira sama sekali dari wajahnya.

Tibalah mobil angkot yang kami tumpangi ke depan sebuah sekolah TK yang tak terlalu jauh dari rumahku. Bapak paruh baya yang mengantar anak TK itu meminta berhenti.

Ia pun turun dari mobil. Lalu berdiri dari luar untuk memapah anak TK berkepang dua di rambutnya.

Anak TK itu berdiri di pintu angkot hendak meloncat keluar. Seperti angsa yang akan terbang ke pangkuan induknya. Tapi tiba-tiba saja. Kejadiannya begitu cepat.

Sebuah motor berwarna merah yang ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm kuning melaju cepat di samping kiri angkot. Tanpa ampun menerjang tubuh anak TK itu sampai terbang jauh.

Lelaki paruh baya berteriak histeris. Aku pun berteriak histeris kaget. Begitu juga penumpang angkot.

Semua mata tertuju pada kejadian itu. Sedangkan Sebuah motor berwarna merah yang ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm kuning melaju cepat meninggalkan lokasi kejadian. Tanpa merasa berdosa. Kecepatannya tidak bisa di kejar oleh lelaki paruh baya yang mengantar anak TK.

Lokasi itu ramai seperti minggu lalu.

Aku melihat tubuh anak TK berkepang dua di kepalanya itu. Kepalanya pecah terbentur aspal. Kepangnya berantakan tak berbentuk. Matanya melotot. Baju putihnya kotor sekali. Merah di sekujur tubuhnya. Mengerikan sekali.

Sedangkan si bapak separuh baya yang mengatar anak TK berkepang dua di kepalanya itu meraung-raung seperti bocah yang kehilangan mainan. Ia histeris bagai kesurupan memanggil-manggil nama anak TK berkepang dua di keplanya yang sudah menjadi mayat.

Jalanan pun macet. Polisi datang memeriksa. Mang Acin, sopir mobil angkot yang kunaiki dimintai keterangan. Lama sekali.

Aku mendesah apakah hari ini akan terlambat. Ternyata, hanya hampir terlambat.

***

Andi selesai menceritakan kejadian yang dialaminya pagi hari ini.

Satu kelas terdiam. Bu Luna terbengong. Murid-murid lelaki mulutnya terbuka, menggantung seperti huruf O. Beberapa anak perempuan berhimpitan duduknya dengan wajah ngeri.

Tak ada tepuk tangan seperti anak-anak lain yang selesai bercerita. Yang ada hanya bunyi bel berdentang tanda istirahat.

Bu Luna bergegas mengambil alih kelas. Mengatakan bahwa cerita Andi hanyalah sebuah cerita yang belum tentu benar. Bahkan menuding Andi hanyalah berkhayal.

“Cerita Andi hanyalah khayalan anak-anak. Jadi jangan terlalu dipercaya. Bisa jadi cerita tadi hanyalah bohong,’ ujar bu Luna

Kelas pun riuh. Menuding Andi berbohong. Andi mencoba mengatakan bahwa kejadian itu sungguh terjadi.

Bu Luna dengan keras membentak meja. Satu kelas terdiam. Menyuruh murid-murid terdiam. Kemudian bu Luna membubarkan kelas untuk istirahat sekolah.

Andi hanya terdiam.

***

Minggu ketiga bulan Januari. Awan hitam menggulung-gulung di langit.

Seperti minggu-minggu sebelumnya. Hari ini adalah kelas bu Luna. kelas bercerita. Anak-anak  kelas enam kembali di minta bercerita di depan kelas. Satu perssatu murid maju ke muka kelas membawakan ceritanya masing-masing. Ada cerita tentang liburan ke pantai, mengunjungi kakek, cerita bermain ketika hujan dan cerita kanak-kanak lainnya.

Tibalah giliran Andi maju ke muka kelas. Semua penghuni kelas terdiam untuk mendengarkan ceritanya.

Bu Luna mendelik ke arah Andi,

“Jangan cerita khayalan tentang motor dan kecelakaan lagi, Andi” ujar bu Luna

Seluruh kelas riuh setuju.

Andi termenung ia teringat kejadian pagi hari tadi.

***

Hari ini aku hampir terlambat sekolah. Padahal aku bangun pagi. Sarapan dan berangkat ke sekolah. Pagi-pagi sekali.

Diantar ibu ke jalan raya. Katanya biar tidak terjadi apa-apa. Setelah naik angkot, ibu pun pulang ke rumah. Seperti biasa, angkot langgananku. Angkot berwarna biru yang disopiri oleh mang Acim.

Jalanan ramai. Banyak macetnya. Tapi, banyak sekali motor di jalan kejar-kejaran. Berliuk-liuk di antara mobil-mobil.

Di dalam angkot aku melihat bapak paruh bayah yang minggu lalu mengantar anak TK berkepang dua di rambutnya. Lelaki paruh baya itu duduk persis di sebelah mang Acim. Bapak paruh baya yang minggu lalu Anak TK berkepang dua di rambutnya ditabrak mati oleh motor.

Aku tidak tahu mau kemana lelaki paruh baya itu.

Wajah lelaki paruh baya itu begitu murung. Tak tampak raut gembira sama sekali dari wajahnya.

Tibalah mobil angkot yang kami tumpangi ke depan sebuah sekolah TK yang tak terlalu jauh dari rumahku. Jalan sedikit tersendat. Bapak paruh baya yang berwajah murung itu meminta berhenti.

Ia pun membayar beberapa rupiah kepada mang Acim. Beriap mau turun dari mobil. Tangannya sudah memegang pintu mobil, bersiap untuk membukanya.

Tapi tiba-tiba saja. Kejadiannya begitu cepat.

Sebuah motor berwarna merah yang ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm kuning melaju cepat di samping kiri angkot. Tepat dengan dibukanya pintu mobil oleh lelaki paruh baya.

Tanpa ampun motor berwarna merah yang ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm kuning yang melaju cepat menerjang pintu angkot.

Pintu berdebam terbang jauh. Sedangkan motor berwarna merah yang ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm kuning ringsek tak berbentuk menerjang tiang listrik. Sementara lelaki berjaket biru dan helm kuning mendarat tepat di got pinggir jalan.

Aku pun berteriak histeris kaget. Begitu juga penumpang angkot.

Semua mata tertuju pada kejadian itu. Lokasi itu ramai seperti minggu lalu dan lalunya lagi .

Aku melihat tubuh lelaki berjaket biru dan helm kuning. Helm di kepalanya pecah terbentur batu kali yang menjadi tembok got. Isi kepalany tak berbentuk. Matanya hancur terkena kaca helm. Jaket birunya kotor sekali. Merah dan hitam di sekujur tubuhnya. Mengerikan sekali.

Sedangkan si bapak separuh baya yang hendak turun tadi mendekati pinggir got. Ia menatap tajam dan mengeluarkan sumpah serapah kepada lelaki berjaket biru dan helm kuning sang pengendara motor berwarna merah yang sudah menjadi mayat.

“Mampus luh!”

Puas sekali lelaki separuh baya itu meluapkan kesenangan.

Jalanan pun macet. Polisi datang memeriksa. Mang Acin, sopir mobil angkot yang kunaiki dimintai keterangan, disamping angkotnya yang kini rusak. Lama sekali.

Aku mendesah apakah hari ini akan terlambat. Ternyata, hanya hampir terlambat.

***

“Andi, kenapa kamu diam saja di situ!” bentak Bu Luna

Andi tersadar. Ia belum mengeluarkan sepatah kata pun di kelas bercerita hari ini. Ia ingin menceritakan kejadian pagi hari ini. Tapi, sudahlah ia memutuskan lain.

“Aku tidak punya cerita hari ini.”

 

 

#Di sebuah angkot menuju 3 Raksa

No comments:

Post a Comment