Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Sunday, July 18, 2021

Mengukir Aksara di Langit Jingga

 


Keremangan dan keredupan itu tiba-tiba saja menyergap Farah dalam keterdesakkan, ketika ia berbulat tekad untuk tetap pada pendiriannya.

“Apa sih maumu? Aku tak habis pikir dengan keputusanmu?!” tanya Lisa menggelegar di   telinga Farah.

“Aku hanya ingin mengabdi,”

“Mengabdi? Kau membuang kesempatan emas jadi dokter, hanya karena kau ingin jadi guru. Dan sekarang, setelah  lulus kuliah kau  ingin  jadi  guru di  pedalaman? Kau sungguh aneh!”

“Kak, aku mohon. Izinkan aku ke sana. Di sana kekurangan tenaga pengajar. Aku lebih   dibutuhkan di sana.” Kata Farah memelas.

Lisa menatap Farah heran. Ia tak habis pikir dengan keputusan adik bungsunya itu. Hatinya mangkel dengan sikap si bungsu, yang sering bertolak belakang dengan  keinginannya.  Apalagi   ia kakak tertua yang berperan sebagai kepala keluarga semenjak ayah mereka meninggal lima tahun silam, pengambil keputusan dalam masalah adik – adiknya. Dan kini, adik bungsunya ingin minta izin pergi ke pedalamam untuk mukim dan kerja di sana.

Lisa menghela nafas panjang. Ia tak ingin meluluskan permintaan itu. Tapi, ia tahu tekad adiknya bulat dan kuat. “Terserah kau lah!  Kau sudah dewasa. Kakak enggak mau ngurusin kamu lagi!”

*

Gadis berjilbab hijau tua itu berjalan merunduk menerjang pagi berselimut dingin dan halimun.   Ia teringat  percakapan dengan kakaknya setahun silam. Ia tahu kakak tertuanya itu kecewa, juga kakak – kakaknya yang lain, yang telah menampung dan membiayai hidupnya selepas kepergian   ayah bunda. Semua itu karena ia lebih memilih jadi seorang guru ketimbang jadi dokter dengan   beasiswa di tangan, apalagi memilih mengajar di pedalaman. Tapi, itu adalah jalan kehidupan yang dipilihnya, jalan perjuangan menggapai asa dan citanya.

Ia terus melangkah maju. Jalan di depannya naik turun, kanan hutan lebat, kiri samudera Hindia. Sekolah yang ditujunya sekitar dua kilo lagi. Ia kini melangkah di ujung barat pulau Jawa,   merangkai kisah hidupnya dalam menggapai asa menebar kalam ilmu pada anak bangsa. Ia   hanya ingin anak bangsa  ini tak selalu menjadi bodoh dan tak lagi jadi kuli di negeri sendiri.

Setahun sudah ia mukim di sana, mengontrak rumah bilik sederhana di tepi pantai. Hari – harinya ia dedikasikan untuk dunia pendidikan. Pagi mengajar di SMP negeri. Sorenya mengajar   baca tulis anak – anak kampung. Sisa waktu luangnya ia isi dengan menulis. Ia merasa   ketenangan dan kedamaian tempatnya kini tinggal, membuatnya mencintai dunia kata.

Ia sarjana pendidikan lulusan terbaik universitas ternama di ibukota yang kini mengabdi sebagai   guru Bantu. Profesi yang tak menjanjikan. Menahan pedihnya susah nafkah di tengah landaan   arus materi. Digaji seadanya, kadang dengan beras, ikan, atau kayu bakar.

Malah lebih sering mengencangkan ikat pinggang. Namun ia tak mengeluh. Ia sadari itu sebagai pajak yang harus dibayarnya dalam langkah perjalanan hidupnya.

Dan…

“Bu Guru…” panggilan itu begitu menggelorakan jiwanya. Betapa kata itu menggairahkan hidupnya untuk senantiasa   mendorong   kakinya   melangkah   menapaki jalan  terjal  berliku,  merambah dunia yang penuh onak, atau bahkan mendaki gunung cadas yang curam.

Wajah – wajah purnama dengan senyum sang surya yang begitu antusias menyerap ilmu di   tengah keterbatasaan itu, telah memberinya sumber energi yang setiap saat dapat menyulut api semangatnya untuk tetap menebar kalam – kalam ilmu.

*

Malam menjelang. Tubuhnya terasa lemas. Belum sejumput makanan pun yang masuk dan  mengganjal lapar di perutnya. Baru tegukan air minum yang membanjiri lambung. Energinya terkuras habis hari ini.

Ia memejamkan mata. Membawanya memasuki pustaka luar biasa luasnya. Sebuah pustaka di   dalam taman hati. Dan si Putih, gadis penjaga taman itu telah menyambut kedatangannya.

“Sudah sebulan ini kau selalu datang kemari.”

“Iya. Hanya ketenangan hati yang purna bisa membawaku kemari. Gerbangnya terbuka oleh ketulusan,” jawab Farah sambil berjalan menuju batang kayu tempat duduk.

“Kau masih sanggup bertahan dengan semua ini?”

“Masih. Di sini aku mendapatkan ketenangan dan kedamaian jiwa yang sebelumnya tak pernah   aku rasakan.”

Si Putih berjalan mendekati Farah. Ditatapnya tajam gadis yang ada di hadapannya. “Ceritakan padaku awal mula kau mau jadi seorang guru!” pinta si Putih.

Farah menerawang ke langit biru jernih. Mulutnya terbuka dan mulai berkata, “Siang sepulang sekolah di bis itu…” 

*

“Kenapa kau  terus melongok ke bukuku?” Tanya Farah jengkel pada anak kecil di sampingnya.

“Bukunya bagus yah, Kak?”

Eh, nih bocah, ditanya malah balik Tanya, gumannya keki dalam hati. “Emangnya kenapa?”

“Kalau saya punya duit, saya  juga mau koleksi buku – buku bermutu, biar pinter,”

“Kamu sekolah?” Tanya Elah agak penasaran dengan lelaki penjual makanan kecil di sampingnya itu.

“Tidak! Saya tidak sekolah sekarang. Saya cuma sampai kelas dua SD.  Orang tua saya tidak   sanggup ngebiayainya,”

“Kamu suka baca?”

“Suka! Saya sangat suka baca. Apa saja saya baca buat nambah pengetahuan. Buku kan   gerbangnya pengetahuan. Ah, andai saja ada yang mau mengajari saya layaknya para guru di   sekolah, saya pasti sudah tambah pinter!” kata anak itu melemah, sesaat ia terdiam. “Kak,   kemajuan suatu bangsa itu ditentukan oleh tingkat pendidikan warganya kan?” Tanya anak itu membuat Farah terperangah.

*

Hujan rintik-rintik turun perlahan membuat sore itu memburamkan suasana kelas darurat di bawah jembatan tol ibu kota yang bising menyamarkan keluh Yudia.

“Lihat mereka! Kasihan mereka. Mereka juga sama seperti kita, anak bangsa ini yang berhak medapatkan pendidikan. Tapi, di usia sekecil itu mereka harus memecah karang dengan tangan mungilnya,” kata Yudia sedih.

Farah mendesah berat  menyaksikan pemandangan asing di depan matanya. Anak – anak kecil usia sekolah yang baru berdatang ke kelas darurat di bawah jembatan, mereka baru saja usai  mencari uang, mereka juga ada yang masih menyandang kecekan tutup limun, gitar, kaleng – kaleng tempat menggapit uang. Seperti burung yang kembali ke sarangnya.

“Sedangkan kita masih begitu bebasnya melenggang ke sekolah dengan duit ortu, tanpa sedikit pun merasa membebani mereka, ataupun merasa malu pada mereka yang bernasib kurang  beruntung,”   lanjut Yudia.

*

“Karena ocehan bocah di bis itu, dan anak – anak jalanan itu?” terka si Putih.

“He’eh. Bocah kecil di bis itu membuka mataku. Dan anak – anak  jalanan yang dulu pernah   kuajar merengkuh hatiku untuk jadi pendidik buat mereka,”

“Dan kau pun merelakan beasiswa jadi dokter melayang dari tanganmu?!”

Farah mengangkat bahunya. “Seperti itulah... Ada dunia baru yang lebih menarik perhatianku, dari sekedar gelar prestise jadi dokter.”

“Dan juga celaan dari kakak – kakakmu yang kesemuanya dokter?!”

“Kau sudah tahu itu.”

 “Kau sungguh aneh! Negeri ini hendak karam oleh tangan – tangan kotor pemimpinnya, dan kau masih mau mengabdi, menyangga struktur retak negeri kumpulan bedebah ini,”

“Tak ada yang aneh!” Farah mencoba menyanggah.

”Kau tahu, putih? Anak – anak bangsa ini seperti batu intan yang sejatinya bagus, tapi ia tak tersentuh apalagi terolah dengan baik, ia hanya jadi  batu jalanan biasa yang tak seorang pun mau memicingkan mata padanya,” ujar Farah seraya menatap orang yang berdiri di depannya itu, sesaat ia terdiam untuk kemudian melanjutkan perkataannya, “Ada sebuah cerita tentang seorang petani yang menemukan telur elang. Petani itu memungutnya untuk dimasak. Tapi, melihat  bentuknya yang bagus, ia jadi sungkan. Akhirnya, telur elang itu ia eramkan dengan telur ayam. Sampai akhirnya telur elang itu menetas bersama telur – telur ayam. Karena tinggal dan hidup dengan ayam, sang elang dibesarkan dan didik untuk  jadi ayam. Hingga akhir  hayatnya, sang  elang hidup sebagai seekor ayam, tak pernah ia gunakan sayapnya yang kokoh itu untuk terbang jelajahi angkasa, tak juga ia gunakan cakarnya yang kekar itu untuk menerkam buruannya, tak   ia gunakan juga paruhnya yang kuat dan tajam itu untuk mengoyak mangsanya,”

“Kau mengibaratkan anak bangsa ini seperti elang yang dibesarkan oleh ayam dan didik oleh   keluarga ayam hingga jadi ayam. Tak pernah dilatih dan menggunakan potensi yang dimilikinya?”

“Seperti itu. Padahal kemeriahan peradaban suatu bangsa itu memang ditentukan oleh  tingkat  pendidikan masyarakatnya.”

“Kau curhat?” Tanya Putih baru  tersadar   rupanya ia.

“Iya. Aku curhat. Bukannya   kaulah tempat curhatku selama ini?”

“Iya. Iya. Kau mau katakan apa lagi, Farah?”

“Kau tahu Kasim Arifin, Putih? Aku ingin mengabdi seperti ia yang digambarkan dalam pusinya Taufiq Ismail!”

“Tidak! Aku tak tahu. Seperti apa orang itu sampai kau pun ingin seperti ia?”

“Kasim Arifin adalah mahasiswa tingkat akhir IPB yang pada tahun 1964 pergi ke pulau Seram untuk tugas membina masyarakat tani di sana. Tapi, ia menghilang lima belas tahun lamanya.

“Di Waimital, ia jadi petani. Ia menyemai benih padi, orang – orang menyemai benih padi. Ia membenamkan pupuk di bumi, orang – orang ikut membenamkan pupuk. ia menggariskan strategi irigasi, orang – orang menggali tali irigasi. Ia mengukur klimatologi hujan, orang – orang menampung air hujan. Ia membesarkan anak cengkeh, orang desa panen cengkeh. Ia meransum  gizi sapi Bali, orang – orang membesarkan sapi Bali. Ia mengukur cuaca musim kemarau, orang – orang waspada musim kemarau.

“Ia menabung kerja – kerjanya dalam sunyi yang panjang. Menumpuknya hingga jadi gunungan karya. Di Waimital ia mencetak harapan. Tanpa mesin – mesin, tanpa anggaran belanja. Ia merobohkan kolom gaji  dan karir birokrasi.

“Tahun 1979, Ia diwisuda. Ia terharu karena penghargaan almamaternya, tapi pada hakikatnya ia tak memerlukan gelar akademik. Mahasiwa – mahasiswa IPB menggerubunginya dan   mengaguminya sebagai teladan keikhlasan pengalaman ilmu pertanian di pedesaan. Berbagai   tawaran pekerjaan disampaikan kepadanya, tapi ia kembali lagi ke Waimital usai wisuda. Baru setelah itu ia menerima pekerjaan sebagai dosen di tanah kelahirannya, Aceh,”

“Kau ingin seperti ia?” Tanya si Putih menggoda.

“Aku ingin hidupku berarti dan bermakna bagi orang lain. Aku ingin  menjadi pahlawan tanpa  nama, orang yang hadirnya tak diperhatikan, tapi kepergiannya begitu dirindukan. Kita tak   menjadi apa dalam masyarakat, tapi apa yang bisa kita persembahkan buat mereka...” Farah tergugu, kemudian ia melanjutkan kata-katanya ”bukan sekedar gelar tanpa prestasi nyata. Piala kejayaan suatu bangsa terus bergulir, mungkin saat ini bangsa ini sedang berada di titik nadir,   tapi nanti pasti akan dapat merebut piala kejayaannya. Walaupun saat kejayaan itu bukan sekarang. Tapi, setidaknya aku sudah mendekatkan ke sana dengan membuka mata anak – anak bangsa ini melihat dunia.”

“Wah, kau semakin dewasa yah! Kau masih ingin di sini? Aku mau menambah koleksi buku di perpustakaan ini,”

“Iya. Aku mau membaca ilmu dan merangkai kata di sini. Kau pergi saja! Nanti aku tutup   taman ini sendiri.”

*

Bertahun ia yang telah pergi kini kembali. Para kakaknya sudah menyambutnya kembali.

“Apa yang kau dapat di sana? Susah harta, susah jabatan. Lihat aku! Aku sudah jadi direktur di   rumah sakit?!” Tanya Lisa sinis.

 “Kau sok idealis dengan menjadi relawan. Lihat dirimu! Kau miskin. Sedangkan aku sudah punya klinik sendiri sekarang,” sambut Gani, kakaknya yang ketiga.

“Kau semakin dusun. Bodoh dan tolol. Yang kau cari cuma mimpi kosong. Kau hanya menabung penyakit TBC. Lihatlah kami semua telah sukses. Aku kini jadi dokter spesialis di   rumah sakit ternama negeri ini. Sedangkan kau?” Caci Sarah, kakak keduanya.

Farah tak menjawab. Ia hanya diam mendengarkan meriam kata kakak – kakaknya itu. Dalam   hati ia berbisik lirih, kebahagiaan itu kosa kata ruhani yang tak ternilai dengan uang dan jabatan, andai mereka tahu.

*

Farah kembali ke dunianya. Berkutat pada rutinitasnya bertahun – tahun ini. Pagi ini wajahnya tak secerah mentari. Matanya tak seterang bintang. Binarnya meredup. Sudah tiga hari ini  perutnya kosong. Belum secuil makanan pun yang hinggap ke mulutnya. Musibah kelaparan  membuat gajinya tak terbayar. Honorarium tulisannya pun belum dikirim. Terpaksa ia melewati hari dangan perut diikat kencang. Tapi, melihat wajah  – wajah  muridnya bersemangat, ia pun jadi semangat.

“Bu guru, ibu  mau nulis buku lagi kan? Buat perpustakaan makin banyak bukunya.” celoteh seorang muridnya.

“Ibu akan terus menulis untuk kalian.”

“Bu, tulisin cerita tentang aku dong!” rajuk seorang murid perempuan di kelasnya.

 “Tentu sayang. Tentu Ibu  akan  menulis tentang kalian. Masa depan memang akan jadi milik kalian.”

“Horee!” serentak murid – murid kelas satu sekolah menengah pertama itu berteriak senang.

Ia menerawang ke angkasa. Tatapannya menembus keca jendela kelas yang pecah. Langit  begitu   jenih memayungi khatulistiwa. Dalam hati ia bersyair;

Inilah lagu rindu yang kunyanyikan, wahai hari catatlah hari ini sebuah perjuangan dan pengorbanan,  karena kau akan melihat nanti kejayaannya[1].

 

Catatan:

Dimuat di Koran Satelit News Sabtu, 7 Agustus 2010

 

 

 

 

 



[1] Puisi Anis Matta

No comments:

Post a Comment