Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Sunday, July 4, 2021

Kyai Anom di Pusaran Ratu Wanten Girang





Urusan ini kok tiba-tiba menjadi kapiran begini. Berita dari kotak ajaib itu cepat nian menyebar ke seluruh negeri. Hanya peristiwa penangkapan. Tapi menggemparkan tatar Wanten Girang. Kerajaan di ujung Jawadwipa ini heboh. Salah satu keluarga trah penguasanya diciduk Penegak Anti Ruswah.

Ah, ini membuat runyam pikiran. Kyai Anom menggeleng-gelengkan kepala. Pening.

Bagaimana pun juga kyai Anom memiliki hubungan yang dekat dengan trah penguasa Wanten Girang. Ini yang membuatnya resah. Ia adalah penasehat sekaligus guru spiritual dari Nyi Kanjeng sang Ratu Wanten Girang.

Sehari berselang. Banyak sekali kabar-kabar mengenai trah penguasa Wanten Girang. Buruknya, semua adalah kabar kejelakan keluarga itu. Dan paling hebaoh tak lain adalah hilangnya sang Ratu dari astana kepemimpinannya. Benar-benar buruk.

Kyai Anom mendesah berat. Ia tetap harus menemui keluarga itu.

***

Nyi Kanjeng mencium  lengan kyai Anom penuh takjim.

Kyai Anom melihat wajah gelisah dan bingung di wajah Nyi Kanjeng. Urusan ini membuat sang Ratu benar-benar goyah, terlebih ia baru saja menjanda. Benar-benar situasi yang buruk baginya.Jelas sekali ia menghindari tampil di khalayak umum. Tak peduli berapa banyak kuli carik berita mengejarnya.

“Yang sabar, Ratu. Ini semua ujian” ujar kyai Anom.

Yang diberikan nasehat menangis terisak. Menjelaskan bahwa keadaan sekarang adalah rencana jahat untuk menghancurkan dirinya dan keluarganya. Banyak pihak yang iri pada keluarganya karena kepemimpinan di tatar Wanten Girang. Keberhasilan usaha keluarganya yang merajai pembangunan di Wanten Girang.

Sang ratu butuh dukungan kyai Anom. Setidaknya kebesaran dan pengaruh Kyai Anom dapat mengurangi gejolak rakyat Wanten Girang.

Sehari kemudian. Setelah seminggun sang Ratu menghilang dari khalayak. Untuk pertama kalinya setalah sang rayi diciduk gara-gara sengketa sayembara pemimpin kadipaten Girang, sang Ratu penguasa Wanten Girang tampil. Ia hadir acara istigosah yang digagas kyai Anom. Rasa percaya dirinya hadir kembali.

Turunnya kyai Anom memimpin istigosah itu mendapat pemberitaan luas. Untuk sementara sang Ratu dapat bernafas lega. Begitu juga kyai Anom.

Kyai Anom memang memiliki hubungan khusus dengan trah penguasa Wanten Girang. Ketika Nyi Kanjeng bertarung dalam sayembara mencari pemimpin tatar Wanten Girang, Kyai Anom mendukung penuh Nyi Kanjeng, bahkan Kyai Anom mengumpulkan para santri untuk mendoakan dan mendukung Nyi Kanjeng. Tak sampai di situ, Kyai Anom juga mengumpulkan seluruh kyai sepuh pemimpin pesantren se Wanten Girang, lagi-lagi untuk mendoakan dan mendukung Nyi Kanjeng. Hasilnya luar biasa, Nyi Kanjeng dengan seluruh bala pendukungnya menang telak atas lawan-lawan politiknya.

Nyi Kanjeng yang kemudian menjadi sang Ratu di tatar Wanten Girang pun tak menutup mata atas jasa-jasa Kyai Anom. Pondokan di pesantren kyai Anom pun diperluas oleh Nyi Kanjeng. Kyai Anom pun diangkat jadi pimpinan para kyai sepuh di Wanten Girang, diberi gedong juga alat transportasinya.

***

Ternyata urusan belum selesai hanya dengan istigosah. Masalah pencidukan adik Nyi Kanjeng baru tahap awal. Baru memasuki magrib, belum sampai ke pekatnya tengah malam.

Kasus-kasus berikutnya muncul. Bukan lagi soal penyumpatan ketua Mahkamah Hakim dengan upeti yang membuat sang rayi diciduk. Juga muncul kasus-kasus memperkaya diri sendiri dengan jabatan dan kekuasaan.

Kasus sunatan kas Negara di kadipaten Citangger yang dipimpin ipar sang Ratu lah yang membuat Nyi Kanjeng tersungkur di jeratan hukum. Tanpa ampun, Penegak Anti Ruswah, menyeretnya ke penyidikan.

Ramai lagilah bumi tatar Wanten Girang. Berita-berita heboh sang Ratu Wanten Girang hilir mudik di kotak ajaib, di lembaran kata. Lebih ramai lagi memberikatan kebobrokan trah keluarga penguasa Wanten Girang.

Di beberapa kadipaten muncul aksi pandit-pandit menentang kekuasaan Nyi Kanjeng sebagai Ratu Wanten Girang. Begitu juga di Bale Rakyat semakin keras mengkritik kepemimpinan Ratu Wanten Girang.

Kyai Anom mengelus dada. Semakin berat dan runyam urusan ini.

***

Nyi Kanjeng bersimpuh penuh air mata di hadapan Kyai Anom.

“Abah Yayi, doakan saya lepas dari semua maasalah ini” pinta Nyi Kanjeng mengiba.

Kyai Anom yang turut bersedih atas musibah yang menimpa trah Nyi Kanjeng mengabulkan permohonan Nyi Kanjeng itu.

Malam itu juga ia berpesan kepada istrinya jika mengisi pengajian ibu-ibu di pondokan agar jangan lupa mendoakan Nyi Kanjeng.

Esoknya sungguh tak diduga. Istri Kyai Anom mengadu, bahwa ibu-ibu diam saja ketika diminta mendoakan keselamatan Nyi Kanjeng sang Ratu Wanten Girang.

Kyai Anom mendelik kaget. Berani sekali ibu-ibu tidak meneruti perkataan istrinya.

Ia ingat kalau hari ini mengisi tablig di alun-alun kadipaten. Ini kesempatan untuk mendoakan Nyi Kanjeng di hadapan banyak orang.

Kyai Anom pun tampil penuh karisma di acara tablig itu. Alun-alun yang dipenuhi lautan manusia terpesona olah ceramah kyai Anom.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu, mari kita doakan Hajah Nyi Kanjeng, pemimpin kita agar selamat dan segera lepas dari musibah yang menimpa keluarganya.”

Hadirin terdiam. Tak ada satupun yang ikut mengamini doa Kyai Anom.

Kyai Anom berdehem. Mengulangi doa untuk keselamatan Nyi Kanjeng sang Ratu Wanten Girang. Lagi-lagi hadirin diam seribu bahasa. Tidak ada satu pun yang mengamini.

Wajah Kyai Anom memerah. Ia mencoba untuk yang ketiga kalinya memimpin jamaah yang hadir untuk sama-sama mendoakan Nyi Kanjeng. Dan lagi-lagi hadirin membeku. Tak ada satu kata Amin pun yang keluar dari lautan manusia itu.

Kyai Anom masygul.

***

Penyidikan atas Ratu Wanten Girang terus meningkat.

Pada satu jumat kramat di Gedong Penegak Anti Ruswah. Ketika matarahi mulai membesar di ufuk barat. Sebuah pengumuman resmi terluncurkan bahwa Nyi Kanjeng sang Ratu Wanten Girang di tahan. Bagai kecepatan cahaya, kabar ini menjalar ke seluruh negeri, termasuk tatar Wanten Girang.

Tak berselang lama, sebelum pekatnya malam menyergap, di rumah Kyai Anom, Nyi Hajah istri dari Kyai Anom mengadu.

“Banyak ibu-ibu yang tidak datang ke pengajian”

Kyai Anom yang gelisah atas musibah yang menimpa Nyi Kanjeng hanya menjawab ringan aduan istrinya itu, “mungkin kelelahan habis panen di sawah”

Sampai esok harinya ia sedikit gamang. Banyak wali santri yang mengambil kembali anaknya untuk pulang. Lebih dari separuh. Pesantren terbesar di Wanten Girang besok bisa jadi lumbung kosong.

Begitu juga dengan undangan tablig, semuanya dibatalkan. Kharismanya seperti memudar. Entah karena apa,

“Ya, Allah ada apa dengan semua ini.” Desahnya dalam hati.

Sampai ia disadarkan oleh kehadiran Asep, lurah pondok, yang tergesa-gesa menemuainya. Mengabarkan banyak desas-desus akan sikapnya yang tidak pro rakyat karena mendukung Nyi Kanjeng.

Kyai Anom pias.

Hanya butuh satu minggu untuk membuat pesantren yang susah payah di rintis kakeknya menjadi sepi dan hilang pengaruh.

***

Di bawah tiang soko guru gedong Penegak Anti Ruswah. Diantara lingkaran penuh juru carik berita. Pusat semua pandangan  mata. Untuk pertama kalinya ada istigosah yang mendoakan pimpinan Penegak Anti Ruswah agar terlindung dari guna-guna serta segala macam ilmu hitam keluarga trah penguasa Wanten Girang. Rombongan pendukung Penegak Anti Ruswah untuk memberantas kejahatan di Wanten Girang.

Berkilau-kilau cahaya kotak ajaib menangkap sosok pemimpin istigosah yang datang langsung dari tatar Wanten Girang. Kyai penuh kharismatik dan berwibawa. Sang kyai pemimpin pesantren terbesar di Wanten Girang: Kyai Anom.

 

Mandala Wangi, 20-12-2013

No comments:

Post a Comment