Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Sunday, June 27, 2021

Kado Lebaran

 


Deburan ombak pantai utara Jawa bergemuruh. Burung camar terbang melayang di langit biru. Kapal roro perlahan meninggalkan pelabuhan Merak. Memecah gelombang meniti selat sunda menuju pelabuhan bakauheuni lampung.

Di atas geladak kapal, zaskia termenung memandang laut. Pelabuhan merak perlahan menghilang. Dari pandangn mata. Hanya gunung karang yang tampak berdiri tegak, melambaikan selamat jalan.

Tujuh tahun sudah, zaskia meninggalkan kampong halamannya. Keluarga, teman, dan para sahabat yang telah ia tinggalkan seperti memanggilnya untuk pulang. Hutan, sungai, pantai berpasir yang berpasir putih tempat bermainnya di waktu kecil menarik dirinya untuk kembali kembali kalianda.

Rindu yang memuncak di dada tak tertahankan. Dia ingin cepat sampai untuk menghirup udara bersih dan merangkai kembali cerita lama.

Tanpa terasa waktu berlalu. Kapal roro merapat ke dermaga pelabuhan bakauheuni. Setelah tujuh tahun menapak hidup di pulau Jawa, zaskia mendaratkan kembali kakinya di tanah kelahirannya.

Langit gelap selepas isya. Zaskia tiba di depan pintu rumah yang dulu pernah ia huni.

“Assalamu’alaikum,” salam Zaskia tertahan.

“Wa’alaikum salam, tunggu sebentar,” jawab seorang perempuan di dalam rumah.

“Zaskian…” suara wanita itu tertahan, bergetar seakan tidak percaya.

“Ibu,” sambut Zaskian sambil melepaskan tas yang digenggamnya. Lalu memeluk tubuh perempuan itu, yang tak lain adalah ibunya. Meluruhkan rindu menahun.

“Kamu pulang juga, nak,” kata sang ibu membiru haru

“ya bu, Zaskia pulang,”

“Siapa bu?” Tanya seorang lelaki dari dalam rumah.

“ini, pak. Zaskia. Anak kita sudah pulang,” jawab ibu dengan penuh semangat menjawab pertanyaan lelaki tadi yang tak lain adalah ayah Zaskia.

“oh! Zaskia. Pulang juga anak itu,” ujar bapak zaskia dingin sambil berlalu masuk kamar.

Zaskia hanya terdiam melihat sikap ayahnya itu.

“Sudah jangan pikirkan sikap bapakmu. Memang dia seperti itu. Kamu pasti capek. Sekarang masuk, istirahat!”

Zaskia memasuki rumah itu didampingi ibunya. Diantar menuju kamarnya, yang tujuh tahun sudah tidak ditempatinya. Zaskia tertegun ketika membuka kamarnya. Kamar yang sudah lama tak berpenghuni itu masih tertata rapi, bersih dan tidak ada debu yang hinggap.

Zaskia melihat ibunya. Sang ibu menjawab dengan senyum penuh makna.

“ibu, tahu suatu saat kamau pasti akan pulang ke rumah ini.”

Di atas tempat tidur itu, Zaskia menitikan air mata. Suara takbir yang membahana di langit kalianda seperti tak mampu menahan rasa sakit atas sikap bapaknya tadi. Luka lama yang dulu pernah tergores kini tersibak kembali. Luka yang membuat dirinya harus pergi meninggalkan kampong halaman dengan rasa perih sakit hati. Isak tangisnya pecah. Air matanya mengalir. Ia teringat peristiwa lama itu. Peristiwa yang bermula saat ia hendak lulus SMA.

Bapaknya yang seorang guru menginginkan zaskia mengikuti jejaknya serta jejak ibu  dan kakak-kakaknya menjadi guru. Tapi zaskia tidak ingin. Dia lebih tertarik pada bidang perhubungan. Hingga suatu malam, perbedaan pendapat itu meruncing.

“Zaskia, sebentar lagi kamu lulus SMA. Kamu sudah memikirkan ke mana nanti akan menlanjutkan?” Tanya bapak membuka dialog.

“Sudah, pak”

“Zaskia, bapak ingin kamu seperti bapak, ibu, dan kakak-kakakmu. Menjadi seorang guru!”

“Zaskia tidak berminat menjadi seorang guru,” ujar Zaskia yang membuat bapaknya kaget

“Terus kamu ingin jadi apa? Apalagi kamu anak perempuan. Ayah ingin kamu sebagai anak terakhir membahagiakan bapak dengan jadi seorang guru,”

“Tapi, Zaskia nggak mau. Zaskia lebih suka bidang perhubungan,”

“Perhubungan apa? Kamu ingin jadi apa? Kenapa tertarik pada perhubungan itu?” cecar bapak.

“Perhubungan apa saja. Zaskia lebih milih perhubungan karena lebih menantang.”

Bapak tersentak atas jawaban Zaskia, dengan suara mengeras marah bapak berkata “Hanya itu, kerena lebih menantang. Terus hidup kamu nanti seperti apa? Masa depan kamu bagaimana?”

Zaskia hanya terdiam. Pertanyaan itu membuatnya tergagap. Ia ingin melawan tapi mulutnya tertahan.

“pokoknya kamu harus jadi guru. Titik! Bapak gak mau dengar alasan kamu lagi,”

Jiwa muda Zaskia panas. Ia memilih perhubungan kerena luas dan besarnya negeri ini. Masih teramat banyak wilayah yang tertinggal dan sulit dijangkau. Ia hanya ingin agar bermanfaat menghubungkan banyak daerah, menghubungkan orang-orang, dan tentu saja membuka akses pada kehidupan yang lebih baik.

Lagi pula, menurut Zaskia, tugas seorang guru sangat berat baginya. Dia ingin bapaknya tahu apa yang ia pikirkan. Tapi dia juga tahu sikap bapaknya yang tegas akan sebuah keputusan. Hingga akhirnya amarah mudanya pecah jua, tak tertahankan lagi.

“zaskia juga gak mau jadi guru. Pokoknya kalau kuliah zaskia milih perhubungan.” Tegas zaskia sambil berlalu dengan derai air mata yang tumpah dari kelompak matanya. Berlalu meninggalkan bapak, ibu, dan kakak-kakaknya di ruang keluarga.

Di dalam kamarnya tumpah ruah semua perasaan.

Ibunya yang melihat zaskia menjadi tidak tega.

“Zas, sudah jangan nangis,” pinta ibu.

“Ibu, zaskia nggak ingin jadi guru. Zaskia lebih suka perhubungan,” kata zaskia tersendat-sendat.

“Yah, ibu tahu kamu nggak mau jadi guru.”

“Ibu ngedekung kalau zaskia ngelanjutin ke perhubungan?” Tanya zaskia.

“Ibu ngedukung kalau itu lebih baik buatmu dan buat kamu bahagia.” Ujar ibu dengan penuh kasih sayang.

Isak tangis zaskia mulai mereda. Kepalayang yang ditutupi kain kerudung dibelai mesra ibunya. Lukanya sedikit terobati

Satu bulan kemudian zaskia pamit untuk melanjutkan pendidikannya di pulau, Jawa. Dengan berat hati ibu dan kakak-kakaknya melepas zaskia. Zaskia pergi tanpa perpisahan dengan bapaknya.

*

No comments:

Post a Comment