Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Sunday, June 20, 2021

Di Persimpangan Cinta



Sungguh aku bingung. Teramat bingung malah dengan kondisiku kini. Semua masalahku disebabkan oleh kedatangan Dion, cinta pertamaku saat kuliah dulu. Ah, kehadirannya melemparkanku pada masa lalu.

Dion. Pertama kali aku kenal ketika sama-sama menjadi mahasiswa baru. Mahasiswa baru dengan pancaran pesona begitu rupa. Menghayutkan tiap gadis yang melihatnya. Hingga wajar ia menjadi idola dan rebutan mahasiswi baru. Termasuk juga aku. Dan alangkah bahagianya aku saat itu, karena akulah yang terpilih menjadi belahan hatinya.

Bertahun-tahun kami larungi hari dengan memadu kasih. Terlebih lagi ia sangat romatis dan selalu membuatku berbunga-bunga. Hingga diujung masa kuliah. Tiba-tiba saja ia harus pergi jauh dariku. Ia memilih pergi ke Amerika. Mengejar cita-citanya. Aku yang tak berdaya oleh pesonanya hanya bisa mengangguk pasrah.

“Aku berjanji akan pulang dan menemui cintaku lagi. Tunggu aku.”

Ia pun pergi begitu saja. Merenggaskan rasa cinta. Menggugurkan kasih. Setahun aku menanti, ia tak memberikan kabar. Dua tahun aku tetap menanti, ia semakin menghilang tanpa jejak. Tahun ketiga penantianku, membuat aku kalut. Tahun keempat, aku hampa dan kehilangan gairah Hidup.

Dukaku semakin purna. Kedua orang tuaku memaksa aku menikah dengan orang yang tak pernah aku cintai. Tapi, tanpa daya aku tak bisa menolak. Pemaksaan dengan cara tak pernah aku sanggup mengerti, memaksa dengan mengiba-ngiba membuat aku mengangguk.

Tanpa cinta aku lewati pernikahan. Sakitnya aku, ternyata Roby, orang yang menikahiku sangat baik. Aku sungguh tersiksa dengan kebaikannya. Sementara aku hanya berpura-pura. Apa daya, cinta tak bisa dipaksa datangnya.

Sepertinya Tuhan berkendak lain, Sampai akhirnya di usia pernikahanku yang ke tiga, aku melahirkan anak. Dan limpahan kasih sayang dari Roby semakin melimpah. Dari kasihanku timbullah secara perlahan rasa cinta. Namun tak pernah sepenuh perasaanku pada Dion.

*

Entahlah, sepuluh tahun berlalu tiba-tiba saja Dion kembali hadir. Ia ternyata masih mengharapkanku menjadi pendampinya. Sikapnya yang romantis, terlebih rasa cintaku padanya yang belum pudar membuat aku tergoda.

Rasa cinta yang mulai tumbuh untuk Roby, seketika terterjang putting beliung bernama Dion. Akhirnya trnpa sepengetahuan Roby aku menjalin hubungan dengan Dion. Ah sungguh aneh. Mungkin bagi sebagian orang sikapku ini salah. Tapi ini cinta. Sulit aku menapikan perasaanku.

Ah, aku menulikan semua. Berdua dengan Dion membuatku sengat bahagia. Kata-kata dan rayuan romantisnya selalu membuatku mabuk. Walau aku tahu itu cuma gombal, tapi aku tak bisa menolaknya. Apalagi Roby tak pernah mengucapkan kata-kata cinta.

“Dina, aku tahu kau telah berkeluarga. Tapi masih kah kau menyimpan keinginan yang dulu kita lambungkan. Maukah kau menjadi pendampingku?” kata Dion di suatu malam. Aku kelu tak mampu menjawabnya.

*

Aku bimbang. Aku tahu ucapan Dion sangat serius. Maka aku konsultasika masalahku pada Rita, karibku.

“Apa, Dion ngajak kamu Nikah. Kamu gila, Din. Roby dan Intan mau di kemanain?” Respon Rita padaku. Ia menggeleng-geleng kepala, bingung melihat sikapku. “Roby itu sangat baik dan setia. Kau sungguh tega.”

*

Dua hari setelah aku curhat pada Rita. Roby mengajakku ketemuan. Sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan Roby. Tidak biasanya ia memintaku ketemuan makan siang tak jauh dari kantorku. Aku menunggunya dengan perasaan tak menentu.

Sepuluh menit kemudian ia datang menghampiriku. Langsung duduk tepat di depanku. Wajahnya dingin dan gerak tubuhnya kaku.

“Dik, ada hal serius yang harus kita bicarakan dan selesaikan.” Katanya membuka perbincangan.

“Apa?”

“Ada hal yang kau sembunyikan padaku selama ini. Rita sudah cerita semuanya. Tentang Dion dan masa depan rumah tangga kita!”

Deg. Jantungku berdedug kencang. Aku tak tahu harus berkata apa. Pias sudah. Kebohonganku tersingkap sudah. Ah, Rita kenapa kau membeberkan jalinan hubunganku dengan Dion pada Roby?

“Dik, aku tak tahu mengapa semua ini terjadi pada hidupku. Kenapa kau…”

Ia hilang kata. Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik. Hening. Aku bagai menunggu vonis darinya.

“Aku ingin mengatakan, bahwa kaulah cahaya hatiku.”

Wajahnya mengeras. Lalu ia palingkan ke luar jendela. Menatap kosong. “Dulu aku memalingkan diri dari apa yang namanya cinta. Hingga kau hadir di sisiku. Menjadi pendampingku. Merubah segalanya. Mengubah aku yang selama ini dingin. Aku mulai bisa merasakan cinta secara perlahan.”

Ia berhenti sejenak. Lalu dihirupnya udara begitu dalam. “Selama hidup bersamamu, aku mencoba untuk menjaga kesetianku. Menjaga dengan perasaan tulus untukmu. Karena bagaimanapun juga kaulah isteriku.”

Gemuruh hatiku mendengar ucapannya. Kulihat jelas wajahnya mengeras dan gigi bergemerutuk. Lalu dengan terbata ia melanjutkan, “Tapi, kini semuanya telah berbeda. Kau sudah berubah. Dan itu disebabkan orang yang dulu kau cintai datang kembali. Aku tahu kau masih menyimpan rasa padanya. Dan aku tahu, aku sadar diri bahwa sejak pertama bertemu dan menikah kau tak mencintaiku setulus hati, tapi lebih karena desakan orang tuamu.”

 Matanya memerah. Ada rembesan air mata yang membuatnya berkaca.

“Aku mencintaimu, dik. Sungguh mencintaimu! Tapi aku sadar. Cinta tidak bisa dipaksakan. Sekarang dengan berat hati aku memberikan dua pilihan untukmu. Kau memilih tetap bersamaku dan melanjutkan bahtera kita atau memilih mengejar cinta pertamamu? Apa pun itu aku ikhlas.”

Tergugu aku mendengar pengakuan dan vonisnya. Lidahku yang sedari tadi kelu semakin kaku. Hatiku pun bergemuruh hebat. Disusul hujan yang merembes dari kelopak mata.

Sementara ia mencoba tegar dan melanjutkan kalimatnya. “Aku ikhlas apapun itu. Termasuk memilih cinta pertamamu itu. Tetapi, jika itu terjadi. Aku punya satu permintaan… biarkan intan tetap bersamaku. Karena dialah permata hatiku, pelipur jiwaku.”

Tak kuasa aku menahan haru. Air mataku semakin deras mengalir. Sungguh aku bimbang. Tak tahu harus berbuat apa. Hanya isak yang tak tertahan membuncah.

*

Semenjak pertemuan di café itu, Roby tidak lagi pulang ke rumah. Begitu juga Intan, Roby membawanya menginap di rumah neneknya Intan.

Seminggu ia bilang tidak akan pulang. Agar aku leluasa untuk berpikir jernih dan bis amengambil keputusan.

Huhf. Situasi yang sangat rumit. Dan ini semua disebabkan olehku. Masalahku yang menyeret perkawinanku dengan Roby. Aku sendiri bimbang dan bingung harus memutuskan apa? Terlebih aku teringat janji manisnya Dion, lalu terbayang kebaikan dan kesetiaan Roby serta Intan. Ah, entahlah.

Seminggu berlalu. Belum juga aku bisa mengambil keputusan tegas. Aku terpenjara dalam kelemahanku. Terpedaya perasaanku yang tak tentu arah.

Tiba-tiba saja pak Udin datang ke rumah. Menjemputku katanya. Dari mulut pak Udin keluar cerita kalau dia diminta Roby menjeputku karena Intan jatuh sakit. Lemas persendianku mendengar Intan, anakku jatuh sakit.

 Setibanya di rumah sakit. Aku langsung disambut mertuaku. Lalu mereka mempersilahkanku menemui Intan.

Aih, alangkah terkejutnya aku. Intan terbaring lemas. Ia mengigau memanggil-manggil namaku.

“Sudah dua hari ia mengigau seperti itu. Kangen kamu sepertinya. Sampai kebawa demam” Kata ibu mertuaku.

Aku mendekati Intan. Memeluknya erat, lalu kukecup keningnya. Wajahnya begitu pucat. Ia tak sadar aku didekatnya. Tapi, alangkah anehnya seakan ada koneksi rasa. Aku bisa merasakan perasaannya.

Perasaan sakit dan takut. Yah, wajahnya menggoreskan ketakutan. Ketakutan kalau aku akan meninggalkannya.

“Intan, permata hatiku. Kau membuat hatiku luruh, nak. Pancaran wajahmu menguatkan, mama. Kini mama bisa yakin akan pilihan mama.” Tak terasa butiran-butiran bening meleleh diujung mataku.

 “Masih ada yang bisa dipertahankan atas nama keluarga. Atas keutuhan hubungan kita, nak. Atas kasihku untukmu.” Kupeluk Intan sekali lagi. Sepenuh rasa kasih yang kumiliki.

Sudah waktunya keputusan terucap tegas. Aku pun minta izin sebentar pada ibu mertuaku. Izin untuk ke toilet. Aku ingin menelepon Dion.

*

 Segera saja aku menelepon Dion,

Di ujung sana suara gagah menyapa “Halo, Dina sayang. Kangen yah?”

Aku tak mau menanggapi rayuannya. Keputusanku sudah tegas “Ada yang ingin aku bicarakan serius. Soal keputusanku terhadapmu.”

“Oh ya, sudah sebulan ini aku menantikannya, Dina. Kau pasti memilihku” katanya begitu antusias.

Aku menguatkan jiwaku. Wajah Intan menari-nari di pelupuk mataku. Aku bisa tegas, kataku dalam hati. “Dion, maafkan aku. Aku tak bisa lagi melanjutkan hubungan kita.”

“Apa?” suara Dion nyaring di seberang sana. Ada rasa kaget di sana. “Tapi, bukankah kau sayang padaku. Kau cinta padaku seperti aku mencintaimu?”

Aku tak sanggup menahan rasa. Isak tangisku menyeriak. “Benar. Benar aku masih menyimpan rasa cinta padamu.”

“Lantas Kenapa?” Tanyanya lagi.

“Tapi, semuanya sudah berakhir. Sudah berbeda. Aku sudah berkeluarga. Dan keluargaku layak aku pertahankan. Sudahlah sudahi ini semua. Carilah orang lain.”

“Kenapa? Kenapa kau bicara begitu. Aku tak pernah berpaling darimu.”

“Aku menunggumu. Tapi kau tak datang-datang. Sudahlah. Sekali lagi aku mohon sudahi semua ini. Sekarang bagiku kau hanya menjadi sahabatku. Persahabatan jauh lebih berarti dari pada perasaan yang tak pasti.”

Aku menutup percakapan itu. Aku tak mau dengar lagi apapun sanggahannya. Sudah. Berakhir sudah rasa cintaku padanya. Aku akan pulihkan lagi perasaan pada Roby hingga cinta singgah di sana. Akan aku alihkan rasa cintaku pada Dion ke Intan, seluruh rasa cintaku akan aku tumpahkan pada Intan…

 

Gintung, 9 September 2011.


No comments:

Post a Comment