Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Sunday, June 13, 2021

Almamater



Bangunan segi empat dengan kubah limas yang tegak berdiri di samping danau Kenanga itu begitu menarik perhatian Ismu. Seolah berpendar berjuta kharisma dengan daya magnetik mahadahsyat, membuat Ismu tak pernah jemu untuk memandangnya lekat dan dalam. Ada riak yang berlarian ketepian hatinya. Bernyanyikan rasa rindu dan harapan yang menggema.

Itu adalah pusat dan ikon sebuah universitas ternama di negeri ini. Dan kini ini Ismu kembali menapakkan kakinya yang entah keberapa ribu atau jutaan kalinya. Akan tapi, bukan sebagai civitas akademika, melainkan sebagai seorang yang tak diundang keberadaannya di sana; seorang pemulung sampah. Itulah sebabnya, Tiap kali ia berada di pinggir danau Kenanga, bangunan itu yang selalu dipandangnya lamat  lamat dan mendalam. Kebiasaan itu membuatnya nikmat dan tercandu.

"Mu, sudahlah jangan kau pandangi terus rektorat itu. Cepatlah kau ambil sampah  sampah yang bisa dijual dalam tong itu, tegur teh Ifa, menghentikan aktivitas menyapunya yang sekaligus membuyarkan lamunan Ismu. 

Iya, jawab Ismu melenguh. Pandangannya tak tampak secerah tadi.

Kau harus ingat, Mu. Kita di sini untuk cari duit. Bukan untuk melihat rektorat apalagi melamun, tambah teh Ifa menasehati adik sekaligus satu  satunya keluarga yang terisisa. Ismu hanya bisa mangkel memendam perasaannya sambil terus mengorek  ngorek tong sampah. Ini sudah kesekian kalinya ia ditegur teh Ifa. Tapi, Ismu sendiri tak berdaya, ia begitu terguna  guna daya magnetis gedung itu.

*

   Matahari merambat ke barat mengantar senja ke puncak hingga malam menjemut dengan selimut gelap. Rumah satu petak di pinggir kali Ciliwung itu bersinar redup, seperti kerdipan lilin dalam belaian malam kelam.

Teh Ifa merebahkan tubuh penatnya ke tikar. Peluhnya menggariskan guratan wajah keras setelah seharian menyapu bagian tubuh pohon yang berguguran dan sampah yang bermain  main di kampus UI. 

Sementara, Ismu berkutat dengan buku kumal. Ia sedang belajar untuk ujian nasional. Sebenarnya dari tadi ia menantikan kepulangan teh Ifa. Ada sesuatu yang ingin ia utarakan. Ia segan tapi detakan jantungnya berpacu untuk melontarkan kalimat itu.

Teh, dua minggu lagi aku ujian. 

Oh, ya. Pantas kamu semakin rajin belajar. Baguslah berarti pengeluaran kita akan berkurang setelah kamu lulus,”

Bukan itu, Teh. Tapi sebenarnya aku ingin melanjutkan kuliah setelah lulus SMA, tutur Ismu harap  harap cemas menanti respon  teh Ifa.

Teh Ifa menghela nafas panjang. Wajah bergaris keras itu tertegun sejenak. Lalu dengan nada bergetar ia berkata, Sebanarnya teteh juga ingin kamu melanjutkan kuliah, apalagi kamu adikku satu  satunya. Tapi, teteh enggak sanggup membiayai kuliah kamu. Kamu tahu sendiri kan uang kuliah itu mahalnya selangit. Dari mana teteh membiayainya. Kau tahu sendiri berapa sih gaji teteh, hanya cukup untuk makan sehari  hari, itu pun sering kekurangan,”

Aku akan cari duit buat tambahan biaya, balas Ismu, semangatnya masih membara. Gambaran kemegahan UI mampir dalam benaknya. Bermain  main merambatkan inspirasi dan semangat.

 Ismu, bukannya teteh enggak mau kamu kuliah. Tapi kondisi kita yang tidak memungkinkan kamu untuk kuliah saat ini. Semenjak kedua orang tua kita meninggal, hidup kita semakin susah. Kau tahu sendiri bagaimana kita melewati hari dengan keras. Kita butuh uang untuk bertahan hidup, tukas teh Ifa sendu. 

Ismu murung. Wajahnya sekejap berubah menjadi bulan tertutup kabut, tak lagi secerah purnama. Kata  kata teh Ifa bagai badai tsunami yang menyapu bersih semangatnya. Ia hanya bisa termenung mengingat kematian kedua orang tuanya. Ibunya meninggal sebelum sempat ia melihat wajahnya. Raut wajah wanita yang menghadirkannya ke bumi itu, hanya ia tahu lewat selembar foto usang. Ibunya meninggal beberapa saat setelah ia dilahirkan, karena mengalami pendarahan hebat yang berujung maut. Sedangkan ayahnya, meninggal lima tahun lalu ketika pulang kerja, ia keseleo dan kakinya terjepit diantara bantalan rel kereta tepat saat kereta melaju. Tubuh remuk itu di temukan tiga jam kemudian. 

Semanjak saat itu, kehidupan Ismu dan teh Ifa berubah. Hidup mereka semakin susah. Teh Ifa putus sekolah dan melanjutkan pekerjaan ayahnya sebagai penyapu di kawasan UI. Dan mereka hanya mendapatkan warisan sepetak rumah yang posisinya tepat berada di pinggir kali Ciliwung yang setia mengirimkan airnya pada rumah mungil itu jika hujan lebat melanda Bogor dan Depok. 

Lebih baik kau turuti saran teteh. Selepas SMA nanti kamu langsung cari kerja saja. Buat hidup kita yang lebih baik. Jangan pikirkan kuliah, itu hanya khayalan yang tak mungkin  kesampaian, tambah teh Ifa yang membenamkan Ismu semakin dalam ke kubangan kehampaan. Malam begitu pekat, sepekat hati Ismu yang terpadamkan pelita harapannya.

*

Waktu cepat berlalu, ia bagai slide film yang berputar di layar sejarah kehidupan. Dua minggu itu berlalu. Ujian nasional itu dengan tuntas dikerjakan Ismu. Iya yakin hasil ujiannya akan berbuah manis. Upah atas jerih payahnya selama ini, belajar setelah bermandikan keringat mengais sisa sampah yang bernilai jual.

Pikiran tentang UI tak lagi begitu menarik minat Ismu. Ia tak tega melihat perjuangan teh Ifa selama ini. Padahal teh Ifa masih muda, tapi wajahnya terlihat jauh melampaui umur yang sebenarnya. Lagipula ia tak memiliki dana untuk melanjutkan kuliah. Yang ada hanya celengan berisi koin  koin yang entah berapa jumlahnya. Ia akan bekerja, urusan kuliah itu soal nanti.

Namun, pikiran itu sekejap menguap. Lenyap tersapu angin. Dan harapan untuk kuliah kembali bersemi. Itu setelah ia bertemu Jajang, kakak kelasnya dulu.

Kamu mau masuk UI enggak?

Siapa yang enggak mau, Kak. Tapi, masalahnya bukan itu,”

Lantas apa? 

Biaya, jawab Ismu getir. Aku tak punya biaya untuk melanjutkan kuliah, lanjutnya sendu.

Jajang menggaut  manggut. Seketika ia paham. Ia mengerti kondisi keuangan keluarganya Ismu. Tapi, ia sedang membawa kabar gembira dari negeri yang hampir koyak semua mimpi rakyatnya.

Mu, biaya kuliah di UI tuh disesuaikan dengan kemampuan keuangan penanggung jawab si mahasiswa. Teman saya, ada yang bayar seratus ribu per semesternya. Kemarin yang diterima UMB banyak yang minta keringanan. Lagipula kamu bisa juga ngajuin beasiswa atau kerja paruh waktu di sana, tukas Jajang memberikan pendar pelangi di hati Ismu.

Yang bener, Kak? Tanya Ismu seakan tak percaya. 

Bener! Yang penting kamu keterima dulu di sana. Tenang saja nanti saya bantuin kok. Peluang kamu untuk masuk tinggal SNMPTN,

Apa saya bisa, dengan kondisi compang  camping seperti ini masuk UI?

Mu, kemaun tuh selalu melahirkan perjuangan dan pengorbanan untuk mencapai dan mewujudkannya. Sekarang bola ada di tangan kamu, menyerah pada nasib yang berarti kalah atau melangkah maju yang mungkin saja kita menang? jawab Jajang memberikan bersit inspirasi baru bagi Ismu.

Hari itu begitu hangat, mentari hati Ismu bersinar riang. Harapannya pulih. Cita  citanya untuk masuk almamter UI seperti bersambut. Ujian masuk tinggal tiga minggu lagi dan jumat besok adalah hari terakhir pendaftaran. Apalagi tadi Jajang juga memberikan berkas  berkas permohonan beasiswa dari sebuah lembaga untuknya. 

Prekk suara celengan dari tanah lkiat beradu dengan tanah. Celengan Ismu selama SMA itu pecah dan menghamburkan koin  koin uang receh. Itu untuk bayar pendaftaran dan keperluan ngurus surat - surat. Karena besok adalah hari terakhir pendaftaran SNMPTN dan semua persyaratan beasiswanya harus sudah diposkan. Setelah dihitung jumlahnya ada sekitar lima ratus rupiah lebih.

Malam kembali hadir menjemput kepulangan teh Ifa, wajah lelahnya begitu jelas terukir.  Baju orange pun begitu kumal.     

 “Teh, aku akan kuliah. UI! kata Ismu tegas menyambut kedatangan teh Ifa.

Wajah teh Ifa langsung berkerut, Kamu yakin, tanyanya heran.

Iya, sahut Ismu mantap.

Dan kamu bilang kuliah di UI?

Iya benar, teh Ifa tak salah dengar,

Teh Ifa menggeleng  gelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan keputusan adiknya itu. Kemarin ia bilang mau cari kerja sehabis lulus SMA, sekarang malah mau kuliah. Mu, kakak di UI itu hanya sebagai tukang sapu. Dan kau bilang mau masuk ke sana? Kau bermimpi. Itu hanya impian yang tak bisa kita wujudkan,

Teh, saya akan kuliah sambil kerja. Dan mencari beasiswa,

Kau bermimpi. Khayalanmu terlalu tinggi, Mu. Apakah kau tak bercermin siapa kita. Teteh tak tahu harus bagaimana lagi. Itu terserah kamu. Teteh menyerah. Kau jangan terlalu berharap untuk bisa masuk UI dan dapat beasiswa, di sana tempat orang  orang terbaik di negeri ini menimba ilmu. Sedangkan kau, hanya seorang pemulung sampah! tutur teh Ifa sambil berlalu dari hadapan Ismu.

Malam tanpa purnama. Begitu indah dia hadirnya. Kini dengan jelas sinar gemintang berkelip ria. Hadirnya mampu berikan warna di malam yang pekat. Seperti harapan. Ia menaungi langit dan berkedip genit pada Ismu yang berdiri tepat di pinggir kali Ciliwung.

Harapan. Kenapa masih ada harapan dalam hatik Ismu? Karena harapan adalah mentari di langit jiwa. Penyinar hati dan jiwa yang meredup. Ia bagai secercah cahaya dalam kegelapan. Ia selalu dinanti. Hadirnya dapat walau sekecil apapun selalu dapat mengusir kegelapan. Dan tiada yang dibutuhkan saat terjerembab dalam lubang kegetiran selain harapan. Bukankah, hampir setiap kelapangan itu hadir setelah kesulitan. Dan banyak keberhasilan dicapai setelah hampir tiada lagi harapan yang tersisa, setelah keputusasaan. 

Maka salahkah jika aku berharap untuk hidupku ke depan. Dan juga untuk hidup teh Ifa sendiri? Kurasa tidak! Karena harapan memang diciptakan dalam hati manusia untuk mengukur sejauh mana ia berjuang dalam mencapai harapannya itu. Mimpinya itu.

Baiklah. Biar kusimpan semua kata  kata bernada putus asa the Ifa sebagai cambuk menuju harapanku. Lirih Ismu membatin.

*

Semua keperluan pendaftaran dan syarat  syarat beasiswa telah Ismu rampungkan. Wajahnya begitu lelah malam ini. Dari mentari belum beranjak naik, ia telah mondar  mandir, ke pak Rt, Pak lurah, tukang fotocopi, bank, kantor pos  dan kampus UNJ. Tapi, ia tak boleh berleha  leha. Ujian masuk tinggal sebentar lagi.

Hari  hari berlalu ditengah aktivitasnya sebagai pemulung Ismu tetap belajar untuk bisa keterima masuk UI, universitas yang begitu dikenalnya sejak kecil. Beberapa hari yang lalu ia telah dinyatakan lulus SMA. Dan kini fokusnya hanya satu; SNMPTN.

Waktu terus berjalan tanpa kenal henti, apalagi siaran tunda. Detik  detik ujian itu semakin dekat. Namun nuansa meredup. Pagi sebelum ujian, teh Ifa jatuh sakit. Tubuh ringkih milik teh Ifa itu sepertinya sudah tak kuat lagi menahan rasa sakit. Terpaksa  ia harus di bawa ke puskesmas. 

Jam setengah delapan puskesmas baru buka. Lama mereka menanti, tadinya Ismu ingin membawa kakaknya itu ke dokter, namun uang lagi  lagi membuatnya tak berdaya, selain harus menunggu di sini, karena berobat di puskesmas jauh lebih murah. 

Gundah begitu mendera Ismu, seharusnya dia sudah berada di Fisip UI untuk ujian SNMPTN. Tapi, kini ia malah masih berada di puskesmas Beji. Ia hanya bisa mondar  mandir menuggu kakaknya yang tergolek lemah.

Mu, kalau kamu ingin berangkat, berangkat saja. Biar teteh pulang sendiri, seru teh Ifa lirih, guratan kesakitan membias dari wajahnya yang pasi. Ia luruh pada keinginan adiknya yang tampak gelisah.

Hufh Ismu ragu. Ia bimbang. Tak tega rasanya melihat kakaknya harus seperti itu. Ia adalah satu  satunya yang tertinggal dari kularganya. Tapi, di lain pihak, ia juga harus mengikuti ujian untuk bisa masuk UI, untuk bia\sa mendapatkan beasiswa. 

Aku harus bagaimana ya, Rabb.

Mu, berangkat saja. Maafkan teteh yah, pinta teh Ifa.

Sebenarnya Ismu masih bingung. Tapi, ia mengangguk. 

Pergilah! semoga sukses, Mu, seru teh Ifa yang dibalas senyuman oleh Ismu.

Secepar angin Ismu berlari mengejar sisa waktu yang ada. Ia tahu, seharusnya datang itu jam setengah delapan, tapi melihat teh Ifa yang jatuh sakit ia tak tega untuk meninggalkannya. Ia baru mau pergi setelah teh Ifa memintanya. Tapi, yang terpenting dalam benak Ismu, ujian itu mulai jam delapan tepat, dan sekarang jam delapan kurang lima menit. Masih ada sisa waktu walaupun pasti ia akan telat.

Nafas Ismu tersenggal. Keringat bercucuran. Sekarang jam delapan lewat lima belas menit. Tadi macet dan ada kecelakaan. 

Hei, kamu ngapain di sini? bentak seorang security. Pemulung enggak boleh masuk. Di sini lagi ada ujian, cacinya yang seketika menggoreskan luka di sanubari Ismu. Perih rasanya. 

Hei, cepat pergi! bentak security lagi. 

Pak, saya mau ikut ujian, kata Ismu.

Kau ini ngaco! Pemulung mau ikut ujian? Udah jangan ngada  ngada,” sahut security heran.

Pak, ini kartu ujian saya! Benar pak saya mau ikut ujian, kata Ismu sambil menyodorkan kartu peserta SNMPTN-nya. 

Sang security, mengambil kartu itu dan membacanya sekilas, Maafkan saya dek, yah. Saya enggak tau kalau kalo kamu juga mau ikut ujian. Saya kira kamu mau mungut sampah. Kamu kan yang biasanya mungutin sampah di sekitar sini, pinta sang security dengan nada menyesal.

Iya, saya sudah terlambat,

Iya, cepet kamu masuk. Kamu udah terlambat lama,

Ismu bergegas pergi ke ruangan tempatnya ujian. Beruntung ia tetap diperbolehkan ikut ujian, walaupun ia terlambat setengah jam. Tapi, ia harus menerima resikonya, waktu yang tersedia untuk mengerjakan soal itu semakin smepit. Tapi, ia yakin dan berdoa, meminta kepada Yang di atas mempermudah usahanya.

*

Satu bulan waktu yang telah terlewati. Malam itu tak berbeda dengan malam  malam sebelumnya. Rumah satu petak di pinggir kali Ciliwung itu memendarkan cahaya temaram. 

Ismu dan teh Ifa beristirahat setelah seharian mengais rejeki. Teh Ifa sendiri kondisinya sudah membaik, kata dokter ia hanya kelelahan dan butuh istirahat. Tapi, siapa yang peduli dengan kerasnya hidup. Rejeki harus tetap dicari. Apalagi Ismu, keterima kuliah di UI.

Tok..tok Assalamualaikum, terdengar suara orang di balik pintu rumah mungil itu.

Waalaikum salam, eh pak Rt ada apa? sahut Ismu berbalas pertanyaan.

Ini ada surat buat kamu, Mu, kata pak Rt sambil menyodorkan amplop.

Oh, terimakasih, Pak,

Iya, sama  sama. Saya pamit, assalamualaikum.

Waalaikum salam,

Amplop surat itu berkopkan lembaga yang berkas  berkasnya dulu pernah ia terima dari Jajang. Lembaga yang ia ajukan untuk mendapatkan beasiswa.

Tak sabar ia robek surat itu dan membacanya. Hatinya begitu semerbak bunga di musim semi. Siap mekar dengans egala keindahan dan keharumannya. Jelas dalam surat itu bertuliskan;

Selamat. permohonan anda untuk mendapatkan beasiswa, kami terima. Selamat bergabung dengan kami!


Perpustakaan Iqro Masjid UI

No comments:

Post a Comment