Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Sunday, October 1, 2017

Tanah sepetak, sayur sebaskom, dan ikan segentong: cara mudah bertanam di lahan sempit

 
Kerusakan lingkungan yang diikuti oleh pemanasan global sangat berpengaruh pada kehidupan manusia. Salah satunya adalah masalah keamanan pangan. Bebarapa tahun lalu, terjadi kelaparan di berbagai belahan dunia yang disebabkan pemanasan global. Contohnya adalah Venezuela, sebuah negeri pertanian yang justru pernah mengalami momen kelaparan. Dan kita pun panik saat cabai melonjak tinggi, sampai Menteri pun bilang tanam sendiri saja.
Setidaknya ada tiga isu besar yang dihadapi terkait isu pangan yang berkenaan dengan lingkungan hidup. Isu pertama adalah jumlah penduduk yang meningkat, tentu saja menyebabkan kebutuhan pangan yang meningkat juga. Isu kedua adalah perubahan iklim, Perubahan iklim menjadi lebih ekstrim akibat pemanasan global berdampak pada terganggunya produksi pangan. Isu ketiga adalah alih fungsi lahan baik untuk perumahan maupun industri juga menyebabkan berkurangnya lahan untuk produksi pangan.
Mengenai berkurangnya lahan untuk produksi pangan. Sebenarnya kita dapat membuat alternative lahan pertanian Mari berhitung berapa lahan kosong yang tersedia di sekitar rumah kita? Menurut kementrian Pertanian pada tahun 2011 Potensi lahan pekarangan di Indonesia mencapai 10,3 juta hektar. Jika dibandingkan dengan luas lahan pertanian di Indonesia, maka potensi perkarangan mencapai angka 14%. Sampai saat ini, sebagaian besar lahan perkarangan masih belum dimanfaatkan sebagai areal pertanaman.
Saya melihat Angka di atas merupakan angka yang luar biasa besar bagi potensi penghijauan sekaligus sumber penyedia bahan pangan. Tulisan kali ini akan memerikan gambaran tentang penyelamatan bumi dari rumah dan lingkungan sekitar dengan model pemanfaatan perkarangan dan lahan tidur untuk penghijauan dengan sayuran dan ikan.

Mari menanam sayuran di pekarangan rumah

Keterbatasan lahan perkarang yang sempit dapat disiasati dengan cara budidaya tanaman sayuran menggunakan bahan untuk bertanam dari paralon secara vertikultur dan bahan dari kantong plastik (polybag). Budidaya tanaman sayuran dengan teknologi vertikultur dan kantong plastik tidak membutuhkan lahan luas, dapat memanfaatkan ruang-ruang di atas got atau teras rumah.
Penanaman secara vertikultur adalah pemeliharaan tanaman yang ditata secara tegak, baik tegak lurus atau mengarah vertical dengan sudut tertentu. Nah contohnya adalah berikut ini:
sayuran dengan teknik vertikultur
Pagar juga dapat dimanfaatkan untuk tanaman sayuran ini. Jenis tamanam yang dapat digunakan adalah jenis yang merambat. Salah satunya adalah kecipir.
Beda rumah juga akan berbeda teknologi penanaman sayurannya. Hal ini disebabkan karena luas lahannya yang berbeda-beda. Berikut ini basis komoditas dan contoh model budidaya di perkarang rumah:
No
Kelompok Lahan
Model Budidaya
Basis Komoditas
1
Rumah tipe 21 (luas tanah sekitar 36 m2) tanpa halaman
–  Vertikultur (model gantung, tempel, tegak, rak)
– Pot/polibag/tanam langsung
–  sawi, kucai, pakcoi, kangkung, bayam, kemangi, ceisin, kemangi, selada, bawang daun
– cabai, tomat, buncis tegak
2
Rumah tipe 36 (luas tanah sekitar 72 m2) halaman sempit
–Vertikultur (model gantung, tempel, tegak, rak)
– Pot/polibag/tanam langsung
–  sawi, kucai, pakcoi, kangkung, bayam, kemangi, ceisin, kemangi, selada, bawang daun
– cabai, tomat, buncis tegak
3
Rumah tipe 45 (luas tanah sekitar 90 m2) halaman sedang
–  Vertikultur (model gantung, tempel, tegak, rak)
–  Pot/polibag/tanam langsung
–  sawi, kucai, pakcoi, kangkung, bayam, kemangi, ceisin, kemangi, selada, bawang daun
–  sayuran; cabai, tomat, buncis tegak.  Tanaman buah; buah papaya, jambu biji, sirsak, srikaya, belimbing, jeruk nipis, labu kuning. Tanaman pangan; talas, ubi jalar, ubi ketela, gamyong
4
Rumah tipe 54 (luas tanah sekitar 120 m2) halaman luas
–   Vertikultur (model gantung, tempel, tegak, rak)
–  Pot/polibag/tanam langsung
–  Kolam ikan mini
–  sawi, kucai, pakcoi, kangkung, bayam, kemangi, ceisin, kemangi, selada, bawang daun
–  sayuran; cabai, tomat, buncis tegak.  Tanaman buah; buah papaya, jambu biji, sirsak, srikaya, belimbing, jeruk nipis, labu kuning. Tanaman pangan; talas, ubi jalar, ubi ketela, gamyong
– pemeliharaan ikan lele, nila
5
Lahan terbuka hijau
          Tanaman buah
           intensifkan pagar
          Tanaman pangan
–  Mangga,rambutan, dsb
– kecipir, talas, sereh, kelor, daun mengkokan
– aneka umbi, aneka talas, aneka jagung, aneka serelia








Dari mana pupuknya Untuk menanam di pekarangan rumah?


Tidak usah jauh-jauh mencari pupuk untuk tanaman sayuran, juga tidak perlu membeli, karena kita dapat membuatnya sendiri dari sampah rumah kita. Setidaknya ada dua tahapan dalam mengelola sampah yang dihasilkan oleh keluarga kita. Saya akan jabarkan sebagai berikut:
Langkah pertama adalah pengelompokan sampah. Sampah dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu sampah organik dan non-organik.sampah organik dan non-organik ini dapat dikelompokkan lagi menjadi dapat didaur ulang dan tidak dapat di daur ulang. Contohnya adalah gambar di bawah ini:
Setelah pengelompokan sampah. Tahap selanjutnya adalah pengomposan. Sampah-sampah organik yang tidak dapat didaur ulang diolah menjadi pupuk kompos. Pengomposan ini dapat dilakukan dengan menggunakan drum bekas atau pagar bambu. Kompos ini dapat digunakan untuk menanam sayuran maupun tanaman obat dengan media polybag maupun vertikultur.
Kalau anda tidak ingin repot bisa menggunakan air cucian beras. Air cucian beras juga dapat dijadikan pupuk organik cair loh. Caranya dengan diberikan bakteri dan gula. Bisa lihat videonya di bawah ini


Menanam ikan di halaman rumah

Kita juga dapat memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam ikan dengan menggunakan teknologi kolam terpal. Teknologi kolam terpal berkembang dari budidaya lele.Kolam terpal pertama kali ditemukan dan diujicobakan pada tahun 1999 oleh Bapak Mujarob, seorang petani di Bekasi, Jawa Barat.Tujuannya adalah apabila banjir ikan tidak hilang hanyut terbawa banjir.Kini, budidaya terpal telah berkembang di beberapa daerah.
Kolam terpal merupakan salah satu alternatif teknologi  budidaya yang diterapkan pada lahan sempit, lahan minim air, atau lahan yang tanahnya porous, terutama tanah berpasir. Artinya kolam terpal merupakan salah satu solusi untuk pengembangan budidaya ikan di lahan kritis dan sempit.  Oh ya, air kolam lele sangat bermanfaat untuk mengairi pohon jeruk atau belimbing karena  bisa membuat buahnya jauh lebih banyak dan lebih manis.
Di desa Serdang Wetan kecamatan Legok Kabupaten Tangerang ada contoh menarik tentang pemanfaatan pekarangan untuk menanam ikan lele. Nama programnya adalah satu rumah seribu ekor lele yang diiniasi oleh kelompok budidaya ikan Karya Mitra Abadi.Nah, Pakan lelenya berasal dari sisa makanan orang-orang loh, seperti nasi sisa dan tulang-tulang ikan.  Nah ternyata, lele-lelenya tumbuh dan terawat dengan baik juga tuh.

Budikdamber, pelihara ikan dan sayur dalam ember

Satu lagi konsep memanfaatkan halaman rumah untuk berkebun yang sedang viral, budikdamber. Budikdamber merupakan singkatan dari budidaya ikan dalam ember. Budikdamber dikembangkan oleh Bapak Juli Nursandi, S.Pi, M.Si dari Politeknik negeri Lampung. Teknik ini merupakan teknik pengembangan dari aquaponik dimana ikan dan tanaman tumbuh dalam satu tempat. Solusi ini didapat untuk mengatasi masalah lahan dalam budidaya tanaman dan ikan. Budikdamber cocok untuk wilayah perkotaan dimana lahan pekarangan pun sudah semakin sempit, kualitas dan kuantitas airnya juga sudah semakin berkurang. Budikdamber bida diterapkan untuk mengatasi solusi pangan masa depan.


Alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat budikdamber adalah :
  1. Ember ukuran 80 L atau bisa lebih kecil ukuran 15 L
  2. Benih ikan lele/ikan nila yang tahan terhadap kualitas air.
  3. Benih kankung/benih sayuran dataran rendah.
  4. Gelas plastic ukuran 250 ml
  5. Arang batok kelapa atau arang kayu.
  6. Kawat yang agak lentur untuk mengaitkan gelas pada ember
  7. Tang
  8. Solder
Cara pembuatan budikdamper :
  1. Sediakan gelas untuk tempat bibit kangkung sebanyak 10-15 buah, lubangi dengan solder pada bagian samping dan bawah gelas.
  2. Untuk benih kangkung (ukuran bijinya besar) bisa ditaruh pada arang yang telah dihaluskan, lalu tutup dengan arang lagi. Jika ukuran benihnya kecil, bisa ditaruh dalam kapas, lalu tutup dengan arang yang telah dihaluskan. Jika ingin menanam kangkung yang sudah disemai terlebih dahulu, kangkung di masukan dengan akarnya dengan ukuran bibit kangkung sebesar kurang lebih 10 cm. Isikan arang batok kelapa sebanyak 50-80 % ukuran gelas.
  3. Potong kawat sepanjang 12 cm dan buat kait untuk pegangan gelas dalam ember.
  4. Isi ember dengan air sebanyak 60 liter diamkan selama dua hari.
  5. Isi ember dengan bibit ikan lele ukuran 5-12 cm(semakin besar semakin baik) sebanyak 60-100 ekor diamkan selama 1-2 hari.
  6. Setelah itu rangkai gelas kangkung dalam ember
Untuk pemeliharaan budikdamber, letakkan ember di tempat terkena matahari maksimal. Berikan pakan kepada ikan sesuai ukuran sekenyangnya bisa 2-3 kali dengan waktu tetap.(5-7cm pakan pf800,10cm pf1000, >12cm 781-2,781-1, 781). Perlu selalu diperhatikan keadaan ember, ikan dan tanaman. Amati nafsu makan ikan setiap hari. Apabila nafsu makan ikan menurun, air berbau busuk (NH3, H2S), ikan menggantung (kepala di atas, ekor ke bawah) segera ganti air atau lakukan sipon (Penyedotan kotoran di dasar ember dengan selang).
Akhir kata Sebenarnya dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk penghijauan sekaligus produksi bahan pangan merupakan bentuk kepedulian dan kemauan memberi manfaat kepada lingkungan sekitar. Meskipun, banyak orang yang berumah sangat sederhana. Selain itu, keuntungannya adalah makanan yang ditanam dilokasi akan lebih segar karenanya lebih bergizi. Dan tentunya, dapat mengurangi biaya kebutuhan rumah tangga.
Di atas telah dijabarkan beberapa solusi yang dapat dicoba oleh kita di rumah masing-masing. Selamat mencoba.

No comments:

Post a Comment