Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Tuesday, June 22, 2021

Efisiensi Tataniaga Kopi ala Communal Coffe

June 22, 2021 0


Kira-kira siapa yang paling untung antara petani dengan tengkulak? Jawabannya sudah umum, tengkulak adalah pihak yang lebih untung dibandingkan petani.

Yogi dan Rantaningtyas dalam bukunya yang berjudul 'Pengantar Ekonomi Pertanian' (2012: 118) mengatakan bahwa suatu saluran tataniaga dianggap lebih efisien dibanding dengan saluran tataniaga yang lain apabila margin tataniaganya lebih rendah dan pembagian keuntungannya adil sesuai dengan jumlah pengorbanan yang disumbangkan pada saluran tataniaga tersebut.

Dalam saluran tataniaga di bidang pertanian, pada umumnya yang mendapatkan keuntungan tertingi adalah pedagang besar, dan keuntungan terendah adalah petani produsen. Padahal pengorbanan tertinggi dikeluarkan oleh petani produsen. Pedagang dalam proses pengaliran produk hasil pertanian hanya dalam hitungan hari, sedangkan petani produsen membutuhkan waktu yang lebih lama dapat mencapai tiga bulan, bahkan satu tahun untuk kopi. Kebutuhan waktu petani mulai dari penanaman sampai pemanenan. Dengan demikian seharusnya petani produsenlah yang layak mendapatkan keuntungan tertinggi.

Hal demikian juga menimpa komunitas petani kopi. Meski tren bisnis kopi terus naik, yang ditandai dengan kedai kopi merk internasional hingga lokal bermunculan. Tapi petani kopi belum tentu ikut menikmati hasil kemajuan ini. Para tengkulak dan kedai-kedai kopilah yang memetik untung besar. 

Kondisi  di atas mendorong Communal Coffee, sebuah komunitas Roasting kopi asal Bandung, untuk membangun sistem alternatif yang lebih adil dan mensejahterakan bersama, terutama bagi para petani kopi mitranya di Sumedang Jawa Barat.

Bermula dari mengolah hasil panen secara mandiri,  para petani kopi kini mampu membuat manajemen stok, hingga ikut menghitung dan menentukan harga jual.

Video di bawah ini adalah contoh kasus yang menarik bagaimana petani kopi dan komunitas roasting kopi memotong rantai tataniaga, membuang tengkulak, dan menetapkan harga produk yang jauh diatas dari harga pasaran di mana tengkulak berseliweran.




Contoh penetapan harga kopi ini bisa dijadikan contoh untuk para petani lainnya dalam menetapkan harga jual dan kerjasama dengan komunitas lain.

Sumber video lengkap watchdoc image.

Sunday, June 13, 2021

Almamater

June 13, 2021 0


Bangunan segi empat dengan kubah limas yang tegak berdiri di samping danau Kenanga itu begitu menarik perhatian Ismu. Seolah berpendar berjuta kharisma dengan daya magnetik mahadahsyat, membuat Ismu tak pernah jemu untuk memandangnya lekat dan dalam. Ada riak yang berlarian ketepian hatinya. Bernyanyikan rasa rindu dan harapan yang menggema.

Itu adalah pusat dan ikon sebuah universitas ternama di negeri ini. Dan kini ini Ismu kembali menapakkan kakinya yang entah keberapa ribu atau jutaan kalinya. Akan tapi, bukan sebagai civitas akademika, melainkan sebagai seorang yang tak diundang keberadaannya di sana; seorang pemulung sampah. Itulah sebabnya, Tiap kali ia berada di pinggir danau Kenanga, bangunan itu yang selalu dipandangnya lamat  lamat dan mendalam. Kebiasaan itu membuatnya nikmat dan tercandu.

"Mu, sudahlah jangan kau pandangi terus rektorat itu. Cepatlah kau ambil sampah  sampah yang bisa dijual dalam tong itu, tegur teh Ifa, menghentikan aktivitas menyapunya yang sekaligus membuyarkan lamunan Ismu. 

Iya, jawab Ismu melenguh. Pandangannya tak tampak secerah tadi.

Kau harus ingat, Mu. Kita di sini untuk cari duit. Bukan untuk melihat rektorat apalagi melamun, tambah teh Ifa menasehati adik sekaligus satu  satunya keluarga yang terisisa. Ismu hanya bisa mangkel memendam perasaannya sambil terus mengorek  ngorek tong sampah. Ini sudah kesekian kalinya ia ditegur teh Ifa. Tapi, Ismu sendiri tak berdaya, ia begitu terguna  guna daya magnetis gedung itu.

*

   Matahari merambat ke barat mengantar senja ke puncak hingga malam menjemut dengan selimut gelap. Rumah satu petak di pinggir kali Ciliwung itu bersinar redup, seperti kerdipan lilin dalam belaian malam kelam.

Teh Ifa merebahkan tubuh penatnya ke tikar. Peluhnya menggariskan guratan wajah keras setelah seharian menyapu bagian tubuh pohon yang berguguran dan sampah yang bermain  main di kampus UI. 

Sementara, Ismu berkutat dengan buku kumal. Ia sedang belajar untuk ujian nasional. Sebenarnya dari tadi ia menantikan kepulangan teh Ifa. Ada sesuatu yang ingin ia utarakan. Ia segan tapi detakan jantungnya berpacu untuk melontarkan kalimat itu.

Teh, dua minggu lagi aku ujian. 

Oh, ya. Pantas kamu semakin rajin belajar. Baguslah berarti pengeluaran kita akan berkurang setelah kamu lulus,”

Bukan itu, Teh. Tapi sebenarnya aku ingin melanjutkan kuliah setelah lulus SMA, tutur Ismu harap  harap cemas menanti respon  teh Ifa.

Teh Ifa menghela nafas panjang. Wajah bergaris keras itu tertegun sejenak. Lalu dengan nada bergetar ia berkata, Sebanarnya teteh juga ingin kamu melanjutkan kuliah, apalagi kamu adikku satu  satunya. Tapi, teteh enggak sanggup membiayai kuliah kamu. Kamu tahu sendiri kan uang kuliah itu mahalnya selangit. Dari mana teteh membiayainya. Kau tahu sendiri berapa sih gaji teteh, hanya cukup untuk makan sehari  hari, itu pun sering kekurangan,”

Aku akan cari duit buat tambahan biaya, balas Ismu, semangatnya masih membara. Gambaran kemegahan UI mampir dalam benaknya. Bermain  main merambatkan inspirasi dan semangat.

 Ismu, bukannya teteh enggak mau kamu kuliah. Tapi kondisi kita yang tidak memungkinkan kamu untuk kuliah saat ini. Semenjak kedua orang tua kita meninggal, hidup kita semakin susah. Kau tahu sendiri bagaimana kita melewati hari dengan keras. Kita butuh uang untuk bertahan hidup, tukas teh Ifa sendu. 

Ismu murung. Wajahnya sekejap berubah menjadi bulan tertutup kabut, tak lagi secerah purnama. Kata  kata teh Ifa bagai badai tsunami yang menyapu bersih semangatnya. Ia hanya bisa termenung mengingat kematian kedua orang tuanya. Ibunya meninggal sebelum sempat ia melihat wajahnya. Raut wajah wanita yang menghadirkannya ke bumi itu, hanya ia tahu lewat selembar foto usang. Ibunya meninggal beberapa saat setelah ia dilahirkan, karena mengalami pendarahan hebat yang berujung maut. Sedangkan ayahnya, meninggal lima tahun lalu ketika pulang kerja, ia keseleo dan kakinya terjepit diantara bantalan rel kereta tepat saat kereta melaju. Tubuh remuk itu di temukan tiga jam kemudian. 

Semanjak saat itu, kehidupan Ismu dan teh Ifa berubah. Hidup mereka semakin susah. Teh Ifa putus sekolah dan melanjutkan pekerjaan ayahnya sebagai penyapu di kawasan UI. Dan mereka hanya mendapatkan warisan sepetak rumah yang posisinya tepat berada di pinggir kali Ciliwung yang setia mengirimkan airnya pada rumah mungil itu jika hujan lebat melanda Bogor dan Depok. 

Lebih baik kau turuti saran teteh. Selepas SMA nanti kamu langsung cari kerja saja. Buat hidup kita yang lebih baik. Jangan pikirkan kuliah, itu hanya khayalan yang tak mungkin  kesampaian, tambah teh Ifa yang membenamkan Ismu semakin dalam ke kubangan kehampaan. Malam begitu pekat, sepekat hati Ismu yang terpadamkan pelita harapannya.

*

Waktu cepat berlalu, ia bagai slide film yang berputar di layar sejarah kehidupan. Dua minggu itu berlalu. Ujian nasional itu dengan tuntas dikerjakan Ismu. Iya yakin hasil ujiannya akan berbuah manis. Upah atas jerih payahnya selama ini, belajar setelah bermandikan keringat mengais sisa sampah yang bernilai jual.

Pikiran tentang UI tak lagi begitu menarik minat Ismu. Ia tak tega melihat perjuangan teh Ifa selama ini. Padahal teh Ifa masih muda, tapi wajahnya terlihat jauh melampaui umur yang sebenarnya. Lagipula ia tak memiliki dana untuk melanjutkan kuliah. Yang ada hanya celengan berisi koin  koin yang entah berapa jumlahnya. Ia akan bekerja, urusan kuliah itu soal nanti.

Namun, pikiran itu sekejap menguap. Lenyap tersapu angin. Dan harapan untuk kuliah kembali bersemi. Itu setelah ia bertemu Jajang, kakak kelasnya dulu.

Kamu mau masuk UI enggak?

Siapa yang enggak mau, Kak. Tapi, masalahnya bukan itu,”

Lantas apa? 

Biaya, jawab Ismu getir. Aku tak punya biaya untuk melanjutkan kuliah, lanjutnya sendu.

Jajang menggaut  manggut. Seketika ia paham. Ia mengerti kondisi keuangan keluarganya Ismu. Tapi, ia sedang membawa kabar gembira dari negeri yang hampir koyak semua mimpi rakyatnya.

Mu, biaya kuliah di UI tuh disesuaikan dengan kemampuan keuangan penanggung jawab si mahasiswa. Teman saya, ada yang bayar seratus ribu per semesternya. Kemarin yang diterima UMB banyak yang minta keringanan. Lagipula kamu bisa juga ngajuin beasiswa atau kerja paruh waktu di sana, tukas Jajang memberikan pendar pelangi di hati Ismu.

Yang bener, Kak? Tanya Ismu seakan tak percaya. 

Bener! Yang penting kamu keterima dulu di sana. Tenang saja nanti saya bantuin kok. Peluang kamu untuk masuk tinggal SNMPTN,

Apa saya bisa, dengan kondisi compang  camping seperti ini masuk UI?

Mu, kemaun tuh selalu melahirkan perjuangan dan pengorbanan untuk mencapai dan mewujudkannya. Sekarang bola ada di tangan kamu, menyerah pada nasib yang berarti kalah atau melangkah maju yang mungkin saja kita menang? jawab Jajang memberikan bersit inspirasi baru bagi Ismu.

Hari itu begitu hangat, mentari hati Ismu bersinar riang. Harapannya pulih. Cita  citanya untuk masuk almamter UI seperti bersambut. Ujian masuk tinggal tiga minggu lagi dan jumat besok adalah hari terakhir pendaftaran. Apalagi tadi Jajang juga memberikan berkas  berkas permohonan beasiswa dari sebuah lembaga untuknya. 

Prekk suara celengan dari tanah lkiat beradu dengan tanah. Celengan Ismu selama SMA itu pecah dan menghamburkan koin  koin uang receh. Itu untuk bayar pendaftaran dan keperluan ngurus surat - surat. Karena besok adalah hari terakhir pendaftaran SNMPTN dan semua persyaratan beasiswanya harus sudah diposkan. Setelah dihitung jumlahnya ada sekitar lima ratus rupiah lebih.

Malam kembali hadir menjemput kepulangan teh Ifa, wajah lelahnya begitu jelas terukir.  Baju orange pun begitu kumal.     

 “Teh, aku akan kuliah. UI! kata Ismu tegas menyambut kedatangan teh Ifa.

Wajah teh Ifa langsung berkerut, Kamu yakin, tanyanya heran.

Iya, sahut Ismu mantap.

Dan kamu bilang kuliah di UI?

Iya benar, teh Ifa tak salah dengar,

Teh Ifa menggeleng  gelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan keputusan adiknya itu. Kemarin ia bilang mau cari kerja sehabis lulus SMA, sekarang malah mau kuliah. Mu, kakak di UI itu hanya sebagai tukang sapu. Dan kau bilang mau masuk ke sana? Kau bermimpi. Itu hanya impian yang tak bisa kita wujudkan,

Teh, saya akan kuliah sambil kerja. Dan mencari beasiswa,

Kau bermimpi. Khayalanmu terlalu tinggi, Mu. Apakah kau tak bercermin siapa kita. Teteh tak tahu harus bagaimana lagi. Itu terserah kamu. Teteh menyerah. Kau jangan terlalu berharap untuk bisa masuk UI dan dapat beasiswa, di sana tempat orang  orang terbaik di negeri ini menimba ilmu. Sedangkan kau, hanya seorang pemulung sampah! tutur teh Ifa sambil berlalu dari hadapan Ismu.

Malam tanpa purnama. Begitu indah dia hadirnya. Kini dengan jelas sinar gemintang berkelip ria. Hadirnya mampu berikan warna di malam yang pekat. Seperti harapan. Ia menaungi langit dan berkedip genit pada Ismu yang berdiri tepat di pinggir kali Ciliwung.

Harapan. Kenapa masih ada harapan dalam hatik Ismu? Karena harapan adalah mentari di langit jiwa. Penyinar hati dan jiwa yang meredup. Ia bagai secercah cahaya dalam kegelapan. Ia selalu dinanti. Hadirnya dapat walau sekecil apapun selalu dapat mengusir kegelapan. Dan tiada yang dibutuhkan saat terjerembab dalam lubang kegetiran selain harapan. Bukankah, hampir setiap kelapangan itu hadir setelah kesulitan. Dan banyak keberhasilan dicapai setelah hampir tiada lagi harapan yang tersisa, setelah keputusasaan. 

Maka salahkah jika aku berharap untuk hidupku ke depan. Dan juga untuk hidup teh Ifa sendiri? Kurasa tidak! Karena harapan memang diciptakan dalam hati manusia untuk mengukur sejauh mana ia berjuang dalam mencapai harapannya itu. Mimpinya itu.

Baiklah. Biar kusimpan semua kata  kata bernada putus asa the Ifa sebagai cambuk menuju harapanku. Lirih Ismu membatin.

*

Semua keperluan pendaftaran dan syarat  syarat beasiswa telah Ismu rampungkan. Wajahnya begitu lelah malam ini. Dari mentari belum beranjak naik, ia telah mondar  mandir, ke pak Rt, Pak lurah, tukang fotocopi, bank, kantor pos  dan kampus UNJ. Tapi, ia tak boleh berleha  leha. Ujian masuk tinggal sebentar lagi.

Hari  hari berlalu ditengah aktivitasnya sebagai pemulung Ismu tetap belajar untuk bisa keterima masuk UI, universitas yang begitu dikenalnya sejak kecil. Beberapa hari yang lalu ia telah dinyatakan lulus SMA. Dan kini fokusnya hanya satu; SNMPTN.

Waktu terus berjalan tanpa kenal henti, apalagi siaran tunda. Detik  detik ujian itu semakin dekat. Namun nuansa meredup. Pagi sebelum ujian, teh Ifa jatuh sakit. Tubuh ringkih milik teh Ifa itu sepertinya sudah tak kuat lagi menahan rasa sakit. Terpaksa  ia harus di bawa ke puskesmas. 

Jam setengah delapan puskesmas baru buka. Lama mereka menanti, tadinya Ismu ingin membawa kakaknya itu ke dokter, namun uang lagi  lagi membuatnya tak berdaya, selain harus menunggu di sini, karena berobat di puskesmas jauh lebih murah. 

Gundah begitu mendera Ismu, seharusnya dia sudah berada di Fisip UI untuk ujian SNMPTN. Tapi, kini ia malah masih berada di puskesmas Beji. Ia hanya bisa mondar  mandir menuggu kakaknya yang tergolek lemah.

Mu, kalau kamu ingin berangkat, berangkat saja. Biar teteh pulang sendiri, seru teh Ifa lirih, guratan kesakitan membias dari wajahnya yang pasi. Ia luruh pada keinginan adiknya yang tampak gelisah.

Hufh Ismu ragu. Ia bimbang. Tak tega rasanya melihat kakaknya harus seperti itu. Ia adalah satu  satunya yang tertinggal dari kularganya. Tapi, di lain pihak, ia juga harus mengikuti ujian untuk bisa masuk UI, untuk bia\sa mendapatkan beasiswa. 

Aku harus bagaimana ya, Rabb.

Mu, berangkat saja. Maafkan teteh yah, pinta teh Ifa.

Sebenarnya Ismu masih bingung. Tapi, ia mengangguk. 

Pergilah! semoga sukses, Mu, seru teh Ifa yang dibalas senyuman oleh Ismu.

Secepar angin Ismu berlari mengejar sisa waktu yang ada. Ia tahu, seharusnya datang itu jam setengah delapan, tapi melihat teh Ifa yang jatuh sakit ia tak tega untuk meninggalkannya. Ia baru mau pergi setelah teh Ifa memintanya. Tapi, yang terpenting dalam benak Ismu, ujian itu mulai jam delapan tepat, dan sekarang jam delapan kurang lima menit. Masih ada sisa waktu walaupun pasti ia akan telat.

Nafas Ismu tersenggal. Keringat bercucuran. Sekarang jam delapan lewat lima belas menit. Tadi macet dan ada kecelakaan. 

Hei, kamu ngapain di sini? bentak seorang security. Pemulung enggak boleh masuk. Di sini lagi ada ujian, cacinya yang seketika menggoreskan luka di sanubari Ismu. Perih rasanya. 

Hei, cepat pergi! bentak security lagi. 

Pak, saya mau ikut ujian, kata Ismu.

Kau ini ngaco! Pemulung mau ikut ujian? Udah jangan ngada  ngada,” sahut security heran.

Pak, ini kartu ujian saya! Benar pak saya mau ikut ujian, kata Ismu sambil menyodorkan kartu peserta SNMPTN-nya. 

Sang security, mengambil kartu itu dan membacanya sekilas, Maafkan saya dek, yah. Saya enggak tau kalau kalo kamu juga mau ikut ujian. Saya kira kamu mau mungut sampah. Kamu kan yang biasanya mungutin sampah di sekitar sini, pinta sang security dengan nada menyesal.

Iya, saya sudah terlambat,

Iya, cepet kamu masuk. Kamu udah terlambat lama,

Ismu bergegas pergi ke ruangan tempatnya ujian. Beruntung ia tetap diperbolehkan ikut ujian, walaupun ia terlambat setengah jam. Tapi, ia harus menerima resikonya, waktu yang tersedia untuk mengerjakan soal itu semakin smepit. Tapi, ia yakin dan berdoa, meminta kepada Yang di atas mempermudah usahanya.

*

Satu bulan waktu yang telah terlewati. Malam itu tak berbeda dengan malam  malam sebelumnya. Rumah satu petak di pinggir kali Ciliwung itu memendarkan cahaya temaram. 

Ismu dan teh Ifa beristirahat setelah seharian mengais rejeki. Teh Ifa sendiri kondisinya sudah membaik, kata dokter ia hanya kelelahan dan butuh istirahat. Tapi, siapa yang peduli dengan kerasnya hidup. Rejeki harus tetap dicari. Apalagi Ismu, keterima kuliah di UI.

Tok..tok Assalamualaikum, terdengar suara orang di balik pintu rumah mungil itu.

Waalaikum salam, eh pak Rt ada apa? sahut Ismu berbalas pertanyaan.

Ini ada surat buat kamu, Mu, kata pak Rt sambil menyodorkan amplop.

Oh, terimakasih, Pak,

Iya, sama  sama. Saya pamit, assalamualaikum.

Waalaikum salam,

Amplop surat itu berkopkan lembaga yang berkas  berkasnya dulu pernah ia terima dari Jajang. Lembaga yang ia ajukan untuk mendapatkan beasiswa.

Tak sabar ia robek surat itu dan membacanya. Hatinya begitu semerbak bunga di musim semi. Siap mekar dengans egala keindahan dan keharumannya. Jelas dalam surat itu bertuliskan;

Selamat. permohonan anda untuk mendapatkan beasiswa, kami terima. Selamat bergabung dengan kami!


Perpustakaan Iqro Masjid UI

Friday, March 5, 2021

Kenapa kami tidak menjual ampas bir, dedak padi, dan onggok

March 05, 2021 1

Heboh miras belakangan ini membuat saya ingin sedikit cerita tentang beberapa produk yang tidak saya jual, salah satunya adalah ampas bir!



Sebagai penjual baku pakan ternak, Nusfeed.id yang berbasis web memiliki positioning yang lumayan di halaman pencarian Google. Dengan posisi tersebut kami sering menerima penawaran produk lokal dan mancanegara, maupun permintaan produk dari peternak. Apalagi kami juga menjual beberapa bahan baku pakan yang statusnya market leader. Namun ada beberapa produk yang kami memilih untuk tidak menjualnya, bahkan bahan produk yang termasuk umum digunakan seperti dedak padi dan onggok. Lalu satu bahan baku alternatif pakan hasil samping dari industri miras, yaitu itu ampas bir.

Kami pernah dihubungi oleh salah satu pabrik menawarkan ampas bir, saat itu kami memilih untuk menolak penawaran tersebut. Salah satu konsideran kami adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi,

Dari Anas bin Malik, ia berkata, "Rasulullah SAW Melaknat tentang khamr sepuluh golongan: yang memerasnya, Yang minta diperaskannya, yang meminumnya, yang mengantarkannya, yang minta diantarinya, yang menuangkannya, yang menjualnya, yang makan harganya, yang membelinya, dan yang minta dibelikannya".

[HR. Tirmidzi juz 2, hal. 380, no. 1313]

Jadi ada 10 golongan yang dilaknat karena terlibat urusan Miras. Kami tidak ingin terlibat menjadi bagian dari salah satu rantai industri miras lewat menjual by produknya, yaitu ampas bir. Berbisnis dengan pabrik pembuat bir.

Ampas Bir adalah bahan pakan yang merupakan limbah pengolahan gandum (malt) menjadi bir yang mengandung nutrien yang cukup baik terutama protein dan energi. Dengan profil kandungan gizi seperti itu, memang menjadikan ampas bir salah satu bahan baku pakan alternatif dalam dunia peternakan. Namun karena produk ini berasal dari industri miras, kami bersikap untuk tidak menjualnya.

Adakah yang bertanya kepada kami tentang produk tersebut? Sangat banyak! Malah dari foto profilnya ada yang pencinta Habib, pecinta sholawat, pencinta ngaji paling sunnah, dan sebagainya.

Bagi saya sendiri cukup miris. Bagaimanapun juga produk peternakan yang diternakkan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, bukan feedlotter, lebih ditujukan sebagai hewan kurban untuk Idul Adha. Sedangkan hewan kecilnya kambing dan domba, selain untuk kurban juga untuk aqiqah.
Baik untuk kurban maupun aqiqah adalah tujuan ibadah, tapi hewan kurbannya dikasih pakan ampas bir dari industri miras yang diharamkan. Wow sekali bukan!

Alasan Tidak Jual Dedak Padi dan Onggok

Kami juga tidak menjual dedak padi dan onggok. Alasannya bukan karena haram. Tetapi karena kami tidak bisa menjamin kualitasnya.

Nusfeed.id hanya berperan sebagai perantara. Perantara antara pabrik si pemilik barang dengan peternak sebagai pembeli barang. Onggok dan dedak Padi ini berasal dari industri yang berskala kecil menengah. Secara manajemen kualitas mereka akan sangat berbeda dibandingkan pabrik besar seperti Bogasari untuk dedak gandum.

Terlebih kasus pengoplosan dedak padi dengan sekam kasar yang digiling halus itu terjadi masif. Kami tidak bisa menjamin produknya bebas oplosan. Nah karena kami tidak bisa menjamin kualitasnya Apakah dioplos atau tidak, hal itu yang membuat kami menolak penawaran dari para penjual dedak padi. Kami tidak ingin mengecewakan konsumen, terlebih permintaan dedak padi besar dan digunakan untuk tender proyek pemerintah.

Kasus onggok (by produk pengolahan ketela pohon menjadi sagu) pun sama seperti dedak padi. Onggok sering dioplos dengan pasir putih. Produk ini kalau diberikan kepada sapi misalnya, akan tetap dimakan oleh sapi. Yang namanya pasir lama-kelamaan tidak bisa diproses oleh usus sapi, akhirnya menumpuk lalu membuat sapi sakit dan mati. Ketika diperiksa post mortem, didapatilah banyak pasir ini. 

Kasus seperti ini sering terjadi. Bahkan salah satu konsumen Saya pernah mempolisikan supplier onggok gara-gara dioplos dengan pasir tadi.

Begitulah ceritanya Kenapa kami tidak menjual ampas bir, dedak padi, dan onggok.

Saturday, February 27, 2021

Dibalik tampilan baru dan pangkalan data tanaman Taman Kupu-kupu Sukardi

February 27, 2021 1

Ada yang baru dari website Taman kupu-kupu sukardi! iya nama domain dan tamplate yang berubah drastis. Dahulu masih gratisan dengan nama tamankupusukardi.blogspot.com dengan tamplate dari sora tamplet didominasi warna gelap. Tercatat saya membuat weblog ini bulan Maret 2020. Bulan Februari ini berbenah. warna template berubah cerah dan nama domain sudah top level domain (TLD) di tamankupukupusukardi.my.id.


Perubahan ini dilandasi pergeseran fungsi sumber informasi. Sebagai tempat konservasi kupu-kupu dengan mengedepankan fungsi edukasi biologi, ketersediaan informasi tanaman dan tumbuhan yang ada menjadi vital. Awalnya kami mendesain pengunjung sebagai peneliti di alam liar, untuk identifikasi tanaman dan hewan menggunakan aplikasi yang familiar bagi peneliti. kami menyarankan aplikasi plantnet untuk identifikasi tanaman dan leps.fieldguide untuk identifikasi jenis kupu-kupu, namun dua aplikasi tersebut  masih asing di mata pengunjung. Malah pengunjung lebih banyak bertanya nama tanaman ketimbang menggunakan aplikasi, sehingga kurang berhasil seperti desain awalnya. 

Berkaca dari kejadian di lapangan, kami ingin menggeser penyediaan informasi menggunakan QR code. Nama tanaman dipasang di tanaman dan jika pengunjung ingin informasi lebih detail tentang informasi tanaman tersebut, pengunjung tinggal scan kode QR yang terdapat di nama tanaman. Kode QR berisi url ke situs yang berisi data tanaman mulai dari deskripsi, manfaat, klasifikasi ilmiah dan lain-lain. Tentu kami membutuhkan website yang representatif untuk kebutuhan ini.

Source: Harianjogja.com


Engine website sendiri tidak berubah, masih tetap blogspot. Hanya template dan nama domain yang berubah. Tamplate kami beralih ke produk lokal Tangerang, yaitu Dunia Blanter. Tampilan tamplete dipilih lebih clean dan cerah. Untuk domain kami memilih Exabytes, karena promonya dan ragam metode pembayarannya sih.

Pangkalan data Tanaman dan Hewan

Pengerjaan pangkalan data tanaman sudah dilakukan mulai tanggal 14 Februari sampai 25 Februari. Setidaknya ada lebih dari 40 tanaman terdata. Kami membagi tanaman ke dalam tiga fungsi yaitu tanaman nektar, tanaman inang, dan tanaman pendukung. Informasi tanaman sendiri terdiri atas Deskripsi singkat, Manfaat tanaman, Habitat, Syarat Iklim, Fungsi, Katagori (Annual, Bianeal, Paraneal), dan Klasifikasi Ilmiah. 

Dalam pengerjaan pangkalan data ini, saya sendiri baru tahu bahwa berbagai jenis tanaman yang ditanam dalam taman itu memiliki manfaat kesehatan. Anda dapat menelusur kahsiat tanaman berdasarkan nama penyakit. Nanti akan kluar tanaman yang memiliki khasiat mengobati penyakit tersebut. 

Panggalan data untuk hawan terdiri atas dua katagori, yaitu kupu-kupu itu sendiri dan hewan pradator bagi kupu-kupu. Data dari hewan ini masih dalam tahap pengerjaan. Untuk informasinya sendiri terdiri atas Deskripsi singkat, Manfaat, Habitat, Cara Berkembang biak, Jenis Makanan, Katagori, dan Klasifikasi Ilmiah.

---

Demikianlah cerita sabtu ini, semoga bermanfaat.

Thursday, February 18, 2021

Memanfaatkan Pekarangan Untuk Tanaman Obat Keluarga

February 18, 2021 0

Memanfaatkan Pekarangan Untuk Tanaman Obat Keluarga

Ahmad Yunus


Pandemi Covid 19 yang memaksa sebagian besar waktu manusia untuk dirumah saja, mendorong orang untuk mencari hobi baru. Hobi baru yang dapat membunuh Rasa jenuh tapi tetap dapat dilakukan di rumah saja. Salah satu hobi yang booming selama pandemi ini adalah kegiatan berkebun dengan memanfaatkan lahan pekarangan. 

Mengingat gaya hidup back to nature yang bergema belakangan ini, dengan preferensi masyarakat lebih memilih bahan-bahan alami daripada produk kimia. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) menyatakan bahwa dibandingkan obat modern, obat tradisional memiliki kelebihan berupa efek samping yang relatif kecil, dan komponen dalam satu bahan memiliki efek yang saling mendukung. Ngetrend lagi lah obat herbal di masyarakat kita dewasa ini. Apalagi sejak pandemi, penjual empon-empon juga ikut naik trending di media Massa dan media sosial. Tidak ada salahnya kalau anda mulai menanam tanaman obat di pekerangan rumah untuk mengisi waktu di rumah selama pandemi ini. 

Tanaman obat keluarga atau biasa disingkat TOGA, dapat dijadikan pilihan karena bermanfaat untuk pengobatan. Tumbuhan ini biasanya digunakan sebagai pengobatan untuk pertolongan pertama seperti batuk, diare, dan demam. Sebagian jenis tanaman TOGA yang sudah banyak dibudidayakan ini mudah perawatannya.

Apa itu tanaman Obat keluarga?

Tanaman Obat Keluarga (TOGA) menurut Susi Mindarti dan Bebet Nurbaeti dalam Buku Saku Tanaman Obat Keluarga (TOGA), pada hakekatnya adalah tanaman berkhasiat yang ditanam di lahan pekarangan yang dikelola oleh keluarga. Ditanam dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan tradisional yang dapat dibuat sendiri.

Manfaat TOGA menurut Susi Mindarti dan Bebet Nurbaeti adalah untuk memenuhi keperluan alam bagi kehidupan, termasuk keperluan mengatasi masalah kesehatan secara tradisional (Obat). Pada dasarnya bahwa obat yang berasal dari sumber bahan alami, khususnya tanaman telah memperlihatkan peranannya dalam penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat.

Salah satu fungsi TOGA adalah sebagai sarana untuk mendekatkan tanaman obat kepada upaya-upaya kesehatan masyarakat yang antara lain meliputi: Upaya preventif (pencegahan), Upaya promotif (meningkatkan / menjaga kesehatan), dan  Upaya kuratif (penyembuhan penyakit).

Lihat juga

Tanah sepetak, sayur sebaskom, dan ikan segentong: cara mudah bertanam di lahan sempit

Ceritanya mulai Berkebun

Pekarangan untuk Tanaman Obat Keluarga

Pemanfaatan pekarangan dengan berkebun mempunyai banyak keuntungan dari segi ekonomi. Terutama dalam meningkatan pendapatan keluarga misalnya sebagai warung hidup, lumbung hidup, apotek hidup, sehingga perlu dikembangkan secara intensif. Kenyataan saat ini, harga obat yang beredar di pasaran sangat tinggi dan lebih sering lagi dokter tidak ada, khususnya di daerah pedalaman yang minim akses transportasinya. Oleh karena itu penyediaan tanaman yang berfungsi sebagai obat herbal di pekarangan sangat membantu keluarga mengatasi masalah kesehatan.

Khususnya di Indonesia, TOGA atau dikenal juga dengan apotik hidup merupakan tanaman yang ditanam pada area di sekeliling rumah, halaman rumah, ditempatkan dalam pot atau ditanam pada kebun yang luasnya berukuran kecil. Pupuk untuk merangsang pertumbuhan TOGA dapat menggunakan sampah organik yang dihasilkan rumah tangga dengan mengolahnya terlebih dulu menjadi pupuk kompos.



Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan budidaya TOGA di lahan perkarangan adalah lahan pekarangan biasanya memiliki luas lahan terbatas dan mempunyai sifat berbeda dengan kebun atau ladang. Suaibatul Aslamiah dkk, dalam jurnal PengabdianMu, menekankan jenis tanaman obat sebaiknya dipilih yang penting dan bermanfaat, juga harus memperhatikan faktor keindahan serta memperhatikan kondisi halaman, kontur tanah, mudah dibudidayakan, tidak menyita tempat, dan bentuk serta adanya pohon atau bangunan lain.

Faktor paling penting dalam mengatur lahan untuk tanaman obat, menurut  Suaibatul Aslamiah dkk, adalah memperhatikan keindahan, tidak merusak atau mengganggu pemandangan, juga harus diperhatikan keberadaan elemen taman lain (pohon peneduh atau tanaman hias lain, kandang ternak, tiang bendera, lampu penerang jalan, jalan setapak, kolam ikan dan lain-lain).

Aseptianova dalam Jurnal Batoboh mengatakan bahwa bagian tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat di antaranya adalah bagian buah, batang, daun dan akar atau umbi. Daftar tanaman berikut dapat anda jadikan pilihan untuk ditanam sebagai TOGA di pekarangan rumah anda. 


Nama tanaman

Khasiat dan kegunaan :

Jahe Merah

(Zingiber officinale)

1. Sakit kepala karena dingin: Diparut untuk diborehkan pada tengkuk.

2. Perut mulas: 3 rimpang jahe merah dicuci, diparut dan diperas air perasan kasih garam sedikit diminum 3 kali sehari 1 sendok teh.

3. Air liur terlalu banyak: Mengunyah daun muda.

4. Urat syaraf lemah: Air jahe, kuning telur, madu, air jeruk nipis dicampur lalu minum.

5. Luka-luka berbau busuk: Kompres parutan jahe dengan garam

6. Terkilir: Diurut parutan jahe dengan garam

Kencur

(Kaempferia galanga)

1. Batuk: Mengunyah rimpang kencur dengan garam.

2. Radang lambung: Kencur, kapulogo, bawang merah, beras ditumbuk kemudian direbus saring airnya minum.

3. Muntah-muntah: Air perasan kencur ditambah garam sedikit minum.

4. Rimpangnya untuk menyembuhkan batuk dan keluarnya dahak, menghilangkan rasa sakit, masuk angin, bengkak atau luka, menguatkan pencernaan, merangsang napsu makan, anti muntah.

Kunyit

(Curcuma longa Linn)

1. Radang usus buntu dan radang rahim: Air perasan umbi

2. Radang amandel: Air perasan kunyit, kuning telor, kapur sirih.

3. Asma: Air perasan kunyit, isi buah pinang, kapur sirih dan madu.

4. Sembelit: Air perasan rimpang dan garam.

Lengkuas

(Alpinia galangal)

1. Anti rematik, pegal linu (rimpang)

2. Masuk angina (rimpang)

3. Menguatkan / radang lambung (rimpang)

4. Radang anak telinga (air perasan)

5. Batuk rejan (rimpang)

Serai

(Cymbopogon citratus)

1. Nyeri lambung

2. Bahan baku minyak atsiri (parfum)

3. Gatal-gatal (minyak)

4. Pegal-pegal (batang, daun)

5. Penyegar masakan (batang, daun)

Salam

(Syzygium polyanthum)

1. Mengobati diare

2. K e n c i n g manis

3. Sakit maag

4. Mabuk akibat alkohol

5. Kudis dan gatal

6. Penurun darah tinggi

K a t u k

(Sauropus androgynous)

1. Merangsang ASI (daun)

2. Peluruh kencing (daun)

3. Membersihkan darah (daun)

4. Patek/kutil (daun)

Sambiloto

(Andrographis paniculata)

1. Kencing manis (seluruh bagian tanaman)

2. Anti malaria (seluruh bagian tanaman).

3. Anti syphilis (seluruh bagian tanaman).

4. Penguat lambung (seluruh bagTanaman).

5. Membersihkan darah, semua radang

6. Tifus.

Sirih Merah

(Piper ornatum)

1.      Sebagai antiseptic,

2.       Mengobati stroke,

3.       Batu ginjal,

4.       Radang prostat,

5.       Nyeri sendi,

6.       Hepatitis,

7.       Diabetes,

8.       Asam urat,

9.       Kolestrol,

10.   Batuk,

11.   Keputihan,

12.   Radang mata,

13.   Maag,

14.   Memperhalus

kulit.

Temulawak

(Curcuma xanthorrhiza )

1. Mengatasi masalah sistem pencernaan. Temulawak juga bermanfaat untuk mengatasi perut kembung, membantu pencernaan yang tidak lancar, dan meningkatkan nafsu makan.

2. Mengatasi osteoarthritis. Osteoarthritis adalah penyakit sendi degeneratif, di mana sendi-sendi menjadi terasa sakit dan kaku.

3. Mencegah serta membantu pengobatan kanker

4. Obat antiradang. Temulawak mengandung senyawa antiradang yang bisa menghambat produksi prostaglandin E2 yang memicu peradangan.

5. Antibakteri dan antijamur. Kandungan antibakteri dalam temulawak memiliki manfaat terutama cukup efektif untuk membasmi bakteri jenis Staphylococcus dan Salmonella.

6. Obat jerawat. Dalam dunia kecantikan, temulawak juga bisa digunakan sebagai obat jerawat.

7. Menjaga kesehatan liver. Temulawak merupakan salah satu bahan alami yang bisa dijadikan pilihan untuk membantu menjaga kesehatan hati.

8. Obat diuretic. Diuretik merupakan zat yang membantu membersihkan tubuh dari garam (natrium) dan air, sehingga tak terjadi penumpukan cairan di dalam tubuh.

9. Antispasmodik. antispasmodik merupakan golongan obat yang memiliki sifat sebagai relaksan otot polos.

Lidah Buaya

(Aloe vera)

1. Mengobati Luka Bakar. Lidah buaya banyak digunakan untuk mengobati luka bakar secara topikal, dengan cara dioleskan ke kulit.

2. Meredakan GERD. Gastroesophageal reflux (GERD) merupakan gangguan pencernaan yang sering mengakibatkan mual, muntah, atau rasa terbakar pada ulu hati.

3. Menurunkan Kadar Gula Darah. Dikutip dari sebuah penelitian yang dimuat di International Journal of Phytotherapy and Phytopharmacy, mengonsumsi dua sendok makan jus lidah buaya per hari dapat menyebabkan kadar gula darah turun pada penderita diabetes tipe 2.

4. Mengurangi Plak Gigi. Berkumur dengan lidah buaya dapat membunuh bakteri Streptococcus mutans yang menyebabkan plak gigi serta jamur Candida albicans.

3 dari 6 halaman

5. Menangani Sariawan. Studi membuktikan bahwa penggunaan lidah buaya efektif mengurangi peradangan dan ukuran sariawan. Selain itu, lidah buaya dapat menurunkan rasa nyeri yang cukup menyiksa akibat sariawan.

6. Memperlambat Penuaan Kulit

7. Mengatasi Jerawat. Lidah buaya memiliki sifat antibakterial sehingga dapat mencegah bakteri menginfeksi pori-pori kulit.

8. Berpotensi Melawan Kanker Payudara

9. Mengatasi Kerontokan Rambut. Penggunaan lidah buaya pada rambut dapat membantu mengatasi masalah Kerontokan Rambut

10. Melancarkan Pencernaan. Kandungan aloin atau barbaloin di dalam lidah buaya memiliki efek pencahar alami.


Tanaman obat  tidak hanya sengaja ditanam masyarakat namun juga sering kali hanya tumbuh liar di sekitar rumah atau jalan-jalan. Tanaman obat banyak terdapat disekitar rumah dan sering kali tidak disadari oleh kita. Sering-sering lah perhatikan tanaman di sekitar anda dan cari tahu lewat gawai anda tentang tanaman tersebut, siapa tahu tanaman tersebut memiliki khasiat sebagai obat.

Sebagai informasi tambahan, dari sekitar 30 ribu spesies tumbuhan yang ada di kepulauan Indonesia, diperkirakan 9.600 spesies adalah tumbuhan obat, namun baru sekitar 300 spesies yang dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional. Luar biasa bukan potensinya?


Referensi

Aseptianova. PEMANFAATAN TANAMAN OBAT KELUARGA UNTUK PENGOBATAN KELUARGA DI KELURAHAN KEBUN BUNGA KECAMATAN SUKARAMI-KOTA PALEMBANG. Jurnal Batoboh, Vol 4 , No 1, Maret 2019, pp. 1-25.

Aslamiah, Suaibatul, et al. "Peningkatan Kesehatan Masyarakat melalui Pemberdayaan Wanita dalam Pemanfaatan Lahan Pekarangan dengan Tanaman Obat Keluarga (TOGA)." PengabdianMu, vol. 2, no. 2, 2017, pp. 111-117.

Mindarti, Susi dan Bebet Nurbaeti. 2015. Buku Saku Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Tt. BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN (BPTP) JAWA BARAT



Wednesday, February 10, 2021

Mewujudkan Ide Membangun Playground dari Ban Bekas

February 10, 2021 0

Mewujudkan Ide Membangun Playground dari Ban Bekas

Ahmad Yunus



Hari ini anak-anak semakin kekurangan lahan untuk bermain. Berbeda dengan zaman saya kecil yang tersedia banyak tanah lapang untuk bermain outdor dengan memainkan berbagai macam permainan tradisional seperti gobak sodor, engklek, dan lain-lain. Minimnya lahan bermain anak membuat mereka lebih diasyikan dengan gadget yang berpengaruh pada kemampuan motoriknya. 

Dikutip dari parenting.co.id Fenomena anak dengan kemampuan motorik lemah mulai terjadi belakangan, ketika penggunaan gadget mulai mewabah hingga ke anak-anak batita sekalipun. Misalnya saja, semakin banyak anak usia TK yang bahkan belum mampu memegang pensil dengan benar, atau anak SD kelas 3 yang tulisan tangannya masih jelek. Selain itu, menurut sebuah penelitian yang dilakukan di sekolah-sekolah di Inggris, banyak pula anak yang mengalami keterlambatan berbicara atau kemampuan berbahasa yang kurang atau cadel akibat penggunaan gadget yang berlebihan.

Keterampilan motorik sendiri ada dua macam, yaitu keterampilan motorik halus (Fine Motor Skill) dan keterampilan motorik kasar (Gross Motor Skill). Kemampuan motorik halus, seperti yang dikutip dari situs productivemamas.com, merupakan kemampuan mengkoordinasi gerakan otot kecil  dari anggota tubuh yang melibatkan jari kaki, jari tangan, pergerakan mulut dengan koordinasi mata. Contoh dari kegiatan ini adalah menulis, menggunting, merobek kertas, dan bermain musik. Menstimulasi keterampilan ini dapat berguna untuk memacu anak menekuni bidang seperti art atau musik. 

Berbeda dengan keterampilan motorik halus, Keterampilan motorik kasar lebih menekankan kepada  kemampuan mengkoordinasi gerakan otot besar di keseluruhan anggota tubuh, terutama tangan dan kaki. Keterampilan Motorik kasar, seperti yang dikutip dari situs productivemamas.com, merupakan keterampilan untuk merangkak, berdiri, berlari, berjalan, melempar, atau bisa dibilang kemampuan fisik. Keterampilan motorik kasar ini dapat membantu anak agar cepat mandiri dan mendorong anak menemukan bakat dari keterampilan fisiknya. Untuk meningkatkan keterampilan motorik kasar, anak diarahkan pada kegiatan yang menggerakkan seluruh tubuh terutama lengan dan tungkai. Permainan dan olahraga secara berkelompok atau massal adalah kegiatan yang banyak direkomendasikan untuk meningkatkan keterampilan motorik kasar anak.

Dampak lain keterbatasan lapangan untuk bermain anak-anaik selain kecanduan gadget, adalah anak-anak memanfaatkan tempat yang tidak semestinya untuk bermain. Bermain di jalan kampung atau perumahan adalah contohnya, bermain di lokasi ini membuat anak-anak riskan tertabrak oleh kendaraan yang lalu lalang. Ada juga yang bermain di tempat lebih berbahaya seperti bantaran sungai, bukan satu dua berita kasus anak-anak hilang dan meninggal terseret arus sungai saat bermain. 

Eksekusi Membangun Playground dari Ban Bekas

Berangkat dari kondisi tersebut saya tergerak untuk membuat playground atau lapangan bermain yang ramah untuk anak-anak. Tidak hanya ramah anak, tapi juga ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah ban bekas dan disulap jadi wahana bermain anak.

Syarat utama untuk membuat playground adalah lahan, saya memanfaatkan ruang  lapang di Taman Kupu-kupu Sukardi yang berlokasi di Desa Gintung Kecamatan Sukadiri Kabupaten Tangerang.  Playground yang dikembangkan di taman kupu-kupu Sukardi mengambil tema hewan. Selaras dengan konsep konservasi yang kami gaungkan, sebagai bentuk kepedulian atas lingkungan, maka saya memilih menggunakan material dari bahan bekas. 

Ban bekas dipilih sebagai material utama karena tersedia di sekitar kami. Sebagiannya didapat dengan meminta kepada bengkel dan sebagian lagi dengan cara membeli. Ban bekas, jika diolah dengan terampil dapat menjadi wahana bermain menarik di playground. Untuk warna sendiri di pilih warna-warna terang karena akan memancing ketertarikan anak.

Bicara soal pendanaan, pembangunan playground tidak menggunakan dana hibah dari pemerintah. Dana yang digunakan murni dari kantong pribadi dan donasi dari masyarakat. Untuk mendukung pembangunan playground ini, saya membuka donasi online lewat situs kitabisa.com.

Saat ini sudah berhasil membuat tiga wahana bermain anak memamfaatkan ban bekas dengan dana yang terkumpul lewat donasi online.  Tiga sarana bermain dari pembangunan playgorund tahap pertama adalah halang rintang dari ban bekas, tempat duduk berbentuk hewan Jerapah dan Zebra, serta  jungkat jungkit besar. 

Rencananya bulan maret kami akan menambahkan empat fasilitas dan wahana bermain anak. Adapun rencana global penambahan fasilitas  adalah Pembuatan ayunan dari ban bekas, Pembuatan lapangan Engklek, Mainan keseimbangan berbentuk kuda dari ban bekas, Tempat duduk hewan siput dari ban bekas. Ayo dukung kami dengan berdonasi di proyek playground Taman Kupu-kupu Sukardi. Kami masih menerima Donasi secara online via Kitabisa.com/tamankupu2sukardi.