Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Sunday, August 1, 2021

Pendar Rindu Pulang

August 01, 2021 0
Pendar Rindu Pulang


Bagamana menyudahi rindu yang teramat dalam dan menahun pada orang yang telah berubah sangat membencimu?

Itulah yang dialami Jajang.

*

Semburat cahaya menerpa tubuh ringkih di pembaringan. Hadirnya tegaskan wajah sayu penuh kelelahan. Usia telah menggerogoti tubuh yang dulunya begitu kekar dan teguh.

Jajang terkesiap melihat pemandangan itu. Ia ingin mendekat dan berhambur memeluk tubuh tua yang terbaring itu. Sepuluh tahun tak bersua. Rindu begitu besar. Menggunung.

Ragu-ragu Jajang melangkah. Tangannya terangkat coba menggapai wajah penuh lelah. Keraguan menjadi-jadi. Membuat tangannya bergetar. Takut jika luka lama masih membekas.

Belum sempat tangan Jajang mendarat. Lelaki renta itu terjaga. Tatapannya tajam. Tatapan mata menusuk kalbu. Tatapan mata yang membuat Jajang berkunang. Pandangannya kabur. Pikirannya berpilin. Jiwanya terlontar ke tempat lain.

Cahaya terang membuat mata Jajang perih. Beberapa detik kemudian ia sadar. Ia berada di kamar tidurnya.

“Kamu mimpi buruk lagi yah, yang” kata Istrinya yang berbaring di samping. Ikut terbangun karena ulah suaminya.

Jajang menghela nafas panjang. Mimpi buruk? Bukan mimpi buruk tapi mimpi aneh. Ia melihat abahnya terbaring. Mimpi yang sama seminggu ini. Seperti sebuah pertanda.

*

Pagi kembali hadir. Mentari menyapa. Sayang sinarnya tertutup kabut. Ibukota belakangan selalu begitu. Polusi mengkungkung langit. Hingga sinar bening milik sang surya pun membiaskan cahayanya.

Sementara di kulit bumi, manusia mulai beraktifitas diselingi keresahan. Seminggu lagi puasa, kebutuhan pokok selalu meloncat naik. Padahal waktu makan di bulan puasa berkurang.

Keresahan juga merasuki jiwa Jajang. Ia tidak resah dengan harga kebutuhan pokok yang selalu meloncat-loncat setiap bulan Puasa. Tapi ia resah dengan mimpi-mimpi malamnya. Resah dengan perasaan akan abahnya.

Keresahan jiwanya akan bertambah-tambah. Setiap tahun pasti istri dan anak-anaknya akan meminta untuk bertemu dengan orang tua Jajang. Seperti pagi ini.

“Yang, lebaran tahun ini. Jadi pulang ke rumah orang tuamu tidak?”

Pertanyaan yang membuat raut wajah Jajang pias. Ia ingin pulang membawa istri dan anak-anaknya ke kampung halaman. Ia ingin meluluskan permintaan penuh harap istrinya. Namun, ia tak pernah punya keberanian. Ia takut akan luka lama yang pernah tergores di kampung halamannya. Terlalu takut malah.

“Kita lihat nanti saja.”

Istrinya menghela nafas demi mendengar jawaban itu. Jawaban yang sama dari tahun ke tahun.

“Baiklah.”  

Dan hanya jawaban itu yang keluar dari istrinya. Wanita itu juga tidak pernah mau menelisik lebih jauh alasan suaminya. Setelah menikah dengan Jajang, tujuan hidupnya begitu sederhana: suaminya ikhlas ia menjadi istrinya dan suaminya ridho akan apa yang ia lakukan untuk suaminya. Sederhana. Jadi mana berani ia menelisik rahasia suaminya, mengungkit-ungkit masa lalu asal usul suaminya yang telah dikubur dalam-dalam.

*

Mimpi-mimpi malam tentang abah kembali membayangi Jajang. Sempurna hadir tiap malam sebelum sahur. Bagai sebuah siksaan psikologi. Mimpi itu membuatnya tak tahan. Ia tekadkan berani mengambil keputusan.

“Lebaran ini, aku akan mengajakmu pulang ke kampung halamanku, Yang. Menemui keluargaku.”

Kontan saja kabar itu membuat istri dan anak-anaknya gembira.

Berpilin berputar lalu terdampar pada sepuluh tahun lalu. Saat itu Jajang baru akademi pendidikan di Serang.

Waktu yang dijanjikan tiba. Setelah pagi mereka merayakan kemenangan. Siang harinya berbegas ke terminal. Menumpang bus antar kota antar provinsi ke arah ujung barat pulau Jawa.

Saat yang menyenangkan bagi istri dan anak-anaknya.  Tapi bagai masa penantian penghakiman bagi jajang.

Jajang resah. Duduknya sangat tidak nyaman. Kursi empuk dengan sandaran terasa bagai kursi pesakitan. Keringat dingin merembas pori-porinya. Ia masih belum bisa merangkai fragmen yang akan terjadi saat mereka tiba di kampung halamannya.

Bus singgah di sebuah terminal kota provinsinya. Satu dua pengamen menampilkan atraksi. Sampai seorang pengamin dengan gitar berwarna coklat tua naik dan menyanyikan sebuah lagu. Lagu lama Iwan Fals. Lagu yang membawa Jajang melayang ke masa lalu.

Saat itu Jajang baru lulus sekolah menengah atas. Sebagai anak laki-laki terbesar di keluarganya, ia bertekad mencari pekerjaan. Membantu ekonomi keluarga dan mengurangi beban abahnya. Sayang sekali krisis ekonomi yang disusul krisis multidimensi tengah melanda. Pekerjaan yang dicari tidak pernah ada, yang ada justru pemutusan hubungan kerja massal. Ekonomi Negara yang katanya subur makmur kolaps seketika.

Di desa serba sulit, meski kampung halamannya tidak jauh dari ibukota Negara, tetapi pembangunannya sangat jauh tertinggal. Apalagi dampak krisis juga membuat kehidupan yang sudah serba sulit makin sulit. Ditambah lagi ekonomi keluarganya yang nyaris sekarat.

Ia jadi gelap mata demi memenuhi tuntutan cacing-cacing diperut yang menuntut atas kelaparannya. Melupakan petuah abahnya. Melupakan ajaran orang yang dikenal sangat baik. Orang yang penuh kasih sayang kepada keluarganya. Dengan dingin mencuri seekor kambing milik tetangga desa. Lalu menjualnya untuk makan keluarga.

  Tragis aksinya tercium. Ia babak belur dihajar massa. Tubuh lebam penuh luka. Dijebloskan dalam terali besi dingin penjara.

“Abah tidak mendidikmu untuk jadi seperti ini, Jajang! Tidak pernah. Abah susah payah menyekolahkanmu agar kau punya masa depan yang lebih baik. Bukan jadi pencuri.” Kalimat abah bagai halilintar menyambar Jajang.

Abah begitu marah. Sangat marah. Tatapannya merah menyala melihat anak lelaki terbesarnya jadi pesakitan.

“Kau melupakan petuah abah. Abah tidak pernah mendidik anak-anaknya jadi maling. Abah selalu mengajarkan untuk mencari penghasilan yang hahal. Tak pernah ada dalam tradisi dalam keluarga kita memakan makanan dari uang haram. Lebih baik miskin. Lebih baik kelaparan, dan itu lebih baik dari pada mencuri!”

“Bukankah itu abah katakan berkali-kali kepada anak-anak abah? Kenapa kau melakukan apa yang abah sangat benci. Mencuri?”

“Kau melakukan kesalahan besar. Abah tidak mau melihatmu lagi pulang ke rumah. Kau menconreng harga diri abah”

Kalimat itu yang membuat Jajang jauh lebih sakit dan perih daripada luka lebam di sekujur tubuhnya. Maka keluar dari sel ia langsung pergi meminggalkan kampung halamannya. Rasa bersalahnya kepada abah begitu besar. Ia tidak pernah berani pulang ke rumahnya bertemu abah. Bertemu sosok yang sangat di segani warga karena sikap sederhana dan menolak setiap pemberian yang asal usulnya tidak jelas.

Pergi jauh meninggalkan kampung halamannya menuju ibu kota. Hidup dari satu stasiun ke stasiun lain. Sayangnya ibu kota tidak ramah. ia terjerembab ke julang hitam anak jalanan. Menjadi preman dengan bekal silat yang dulu diajarkan guru ngajinya. Bekal yang seharusnya diamalkan untuk membela kebaikan. Malah membebalkan hati menghalakan yang haram demi urusan perut.

Sampai ketika ia menodong seorang bapak paruh bayah. Ia seperti menemukan sosok abahnya. Rasa bersalahnya kembali timbul. Apalagi bapak itu membalas kelakuannya dengan balasan yang sangat berbeda. Balasan kebaikan.

Jajang ikut dengan orang itu sebagai pembantu di tokonya. Menjalani kehidupan baru dengan janji kehidupan yang lebih baik. Melarung masa-masa kelamnya. Memperbaiki diri dengan nasehat demi nasehat bijak. Bekerja pada orang itu seperti bekerja kepada abahnya.

Jajang tipikal cerdas dan pekerja yang tekun. Ia menjaga kepercayaan dengan baik. Toko itu berkembang dari tahun ke tahun. Sampai tahun kelima ia dipecaya mengelola cabang toko. Membuat orang tua yang dulu pernah ditodongnya seperti menemukan harta karun. Membuat orang tua itu tak segan-segan meminta Jajang menikahi anak gadisnya.

Jajang menikah dengan wanita baik-baik dari keturuan yang baik pula. Janji kehidupan yang lebih baik telah datang. Keluarga kecil itu tumbuh bermekaran bagai bunga di musim semi. Anak-anak kecil mulai hadir mengisi kehidupan mereka. Hanya saja, istri dan anak-anaknya tidak pernah tahu keluarga Jajang di Kampung. Jajang sempurna menyimpanya begitu rapat, karena ulah bodohnya dulu.

Semua kenangan itu bagai slide film yang diputar. Berlatar musik jalanan. Hadir dalam benak Jajang yang resah.

Aku pergi meninggalkan coreng hitam di muka bapak yang membuat malu keluargaku. Aku ingin kembali mungkinkah mereka mau menerima rinduku.

Seperti penggalan lirik lagu itu. Pertanyaan terbesar yang membuncah di dada Jajang. Sebuah luka yang ia buat dan mencoreng martabat abahnya, apakah mereka mau menerimanya lagi. Menerima kerinduan yang sekian lama tertanam mengurat mengakar tumbuh rimbun?

*

Langkah kaku Jajang memasuki halama rumah yang dulu pernah membesarkannya. Seorang wanita tua yang duduk di teras rumah tampak kaget melihat rombongan kecil keluarga Jajang. Ia kemudian berteriak haru

“Jajang”

Jajang berhambur memeluk tubuh tua itu.

“Mak, Jajang pulang.” Ujar Jajang lirih sambil mencium tangan emaknya.

“Akhirnya kau pulang, nak. Sudah lama kami menunggu kepulanganmu.”

Ibu anak itu melepas rindu. Berbincang haru akan kabar masing-masing. Jajang memperkanalkan anak dan istrinya. Wanita tua itu begitu berbinar melihat istri dan anak Jajang.

Sampai jajang bertanya kabar abahnya

“Abah bagaimana kabarnya”

Wanita tua itu sedetik kemudian terdiam. Wajahnya muram.

“Abahmu sudah lama sakit. Semenjak kepergianmu dulu. Ia begitu kehilangan. Tubuhnya melemah dan sakit-sakitan. Sekarang terbaring dalam rumah”

Jajang pias. Ayahny ternyata menyimpan rindu yang sama. Rindu kepulangan dirinya. Rindu bertemu.

Jajang langsung lari masuk rumah. Ia menuju kamar ayahnya. Pintu terkuak, ia melihat sosok abahnya yang ringkih.

Abah terkejut akan kedatangan Jajang. Mulutnya kaku merapalkan nama anaknya.

Sementara Jajang sudah bersimpuh meminta maaf akan luka masa lalu. Tindakan bodohnya.

Lengan abah mengusap kepala Jajang. Dengan lirih ia berkata ”Abah mencintaimu, anakku. Itu sebabnya abah mengharapkan pertemuan ini. Agar kamu tahu abah tetap mencintaimu. Karena itu abah tidak pernah usai mendoakan keselamatanmu. Sampai nafas ini hilang diambil kembali pemilik-Nya.”

Ruang itu berpendar penuh cahaya. Cahaya kerinduan yang akhirnya menemukan pelampiasaannya…

 

Sunday, July 25, 2021

Pelajaran Bercerita

July 25, 2021 0
Pelajaran Bercerita

Dentang bel sekolah berbunyi melengking. Andi, siswa kelas enam SD, segera berlari menuju gerbang. Berharap penjaga mau baik hati memberikan jalan.

Tergoboh badan besarnya melaju. Peluh mengucur di tubuhnya. Harapannya menjadi nyata, penjaga sekolah berbaik hati membukakan pagar. Ia pun melesat menuju kelas.

Berhasil masuk kelas hanya berselang beberapa detik dengan bu Luna. tidak ada yang boleh terlembat di kelasnya bu Luna. terlembat sedetik saja, hukumannya di keluarkan dari kelas.

Di kursinya, Andi duduk dengan gelisah. Mengibas-ngibaskan bukunya kearah badan. Mengusir gerah dengan nafas tersenggal. Sialnya noda berwarna merah di bajunya tak mau pergi.

Pelajaran kali ini adalah pelajaran bercerita di depan kelas. Dan bu Luna langsung memulai pelajaran. Setiap siswa diminta bercerita tentang pengalaman hari kemarin atau hari ini di depan kelas.

Satu persatu siswa kelas enam SD itu maju ke muka kelas, bercerita kisahnya masing-masing. Lalu tibalah giliran Andi untuk maju ke muka kelas.

Andi memulai ceritanya.

***

Hari ini aku hampir terlambat sekolah. Padahal aku bangun pagi. Sarapan dan berangkat ke sekolah. Pagi-pagi sekali.

Diantar ibu ke jalan raya. Katanya biar tidak terjadi apa-apa. Setelah naik angkot, ibu pun pulang ke rumah. Angkot ini adalah angkot biru langgananku. Disopiri oleh mang Acim, tetangga rumah.

Jalanan ramai. Banyak macetnya. Tapi, banyak sekali motor di jalan kejar-kejaran. Berliuk-liuk di antara mobil-mobil.

Sampailah angkot yang kami tumpangi di depan sebuah sekolah TK tak jauh dari rumah. Ada seorang ibu yang mengantar anak TK berkepang dua di rambutnya meminta turun dari Angkot.

Si ibu itu pun turun duluan, ia hendak memapah anak TK itu untuk ikut turun. Tapi sebelum tangannya meraih anak TK. Sebuah motor berwarna merah yang ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm kuning melaju cepat di samping kiri angkot. Tanpa ampun menerjang tubuh ibu itu sampai terbang jauh.

Darah muncrat ke sana-kemari. Termasuk ke bajuku. Aku menunjuk noda merah di dekat kantong bajuku.

Aku teriak histeris. Penumpang angkot juga teriak histeris. Si anak TK menangis meraung-raung.

Tubuh ibu itu tersungkur ke tanah. Sementara si penumpang motor melaju dengan cepat meninggalkan tubuh wanita itu. Berlari secepat mungkin dengan motornya. Lari tak bertanggung jawab.

Warga di sekitar sekolah TK berlarian kearah ibu yang tertabrak itu. Seruan-seruan ramai.

Aku melihat tubuh ibu itu. Kepalanya pecah terbentur aspal. Matanya melotot. Baju putihnya kotor sekali. Merah di sekujur tubuhnya. Mengerikan sekali.

Sedangkan si anak TK meraung-raung memanggil ibunya yang sudah menjadi mayat.

Jalanan pun macet. Polisi datang memeriksa. Mang Acin, sopir mobil angkot yang kunaiki dimintai keterangan. Lama sekali.

Aku mendesah apakah hari ini akan terlambat. Ternyata, hanya hampir terlambat.

***

Andi selesai bercerita di depan kelas.

Satu kelas terdiam. Bu Luna terbengong. Murid-murid lelaki mulutnya terbuka, menggantung seperti huruf O. Beberapa anak perempuan berhimpitan duduknya dengan wajah ngeri.

Tak ada tepuk tangan seperti anak-anak lain yang selesai bercerita. Yang ada hanya bunyi bel berdentang tanda istirahat.

Bu Luna bergegas mengambil alih kelas. Mengatakan bahwa cerita Andi hanyalah sebuah cerita yang belum tentu benar. Kemudian membubarkan kelas untuk istirahat sekolah.

Andi hanya terdiam.

***

Seminggu kemudian di kelas bercerita yang diampu oleh Bu Luna. Anak -anak kelas enam kembali di minta bercerita di depan kelas. Satu perssatu murid maju ke muka kelas membawakan ceritanya masing-masing. Ada cerita tentang liburan ke pantai, mengunjungi kakek, dan cerita kanak-kanak lainnya.

Tibalah giliran Andi maju ke muka kelas. Semua penghuni kelas terdiam untuk mendengarkan ceritanya.

***

Hari ini aku hampir terlambat sekolah. Padahal aku bangun pagi. Sarapan dan berangkat ke sekolah. Pagi-pagi sekali.

Diantar ibu ke jalan raya. Katanya biar tidak terjadi apa-apa. Setelah naik angkot, ibu pun pulang ke rumah. Seperti biasa, angkot langgananku. Angkot berwarna biru yang disopiri oleh mang Acim.

Jalanan ramai. Banyak macetnya. Tapi, banyak sekali motor di jalan kejar-kejaran. Berliuk-liuk di antara mobil-mobil.

Di dalam angkot aku melihat anak TK berkepang dua di rambutnya duduk persis di depanku. Anak TK yang minggu lalu ibunya ditabrak mati oleh motor. Ia diantar ke sekolah oleh seorang lelaki paruh baya. Mungkin itu ayahnya yang menggantikan ibunya mengantar anak itu ke sekolah.

Wajah anak itu begitu murung. Tak tampak raut gembira sama sekali dari wajahnya.

Tibalah mobil angkot yang kami tumpangi ke depan sebuah sekolah TK yang tak terlalu jauh dari rumahku. Bapak paruh baya yang mengantar anak TK itu meminta berhenti.

Ia pun turun dari mobil. Lalu berdiri dari luar untuk memapah anak TK berkepang dua di rambutnya.

Anak TK itu berdiri di pintu angkot hendak meloncat keluar. Seperti angsa yang akan terbang ke pangkuan induknya. Tapi tiba-tiba saja. Kejadiannya begitu cepat.

Sebuah motor berwarna merah yang ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm kuning melaju cepat di samping kiri angkot. Tanpa ampun menerjang tubuh anak TK itu sampai terbang jauh.

Lelaki paruh baya berteriak histeris. Aku pun berteriak histeris kaget. Begitu juga penumpang angkot.

Semua mata tertuju pada kejadian itu. Sedangkan Sebuah motor berwarna merah yang ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm kuning melaju cepat meninggalkan lokasi kejadian. Tanpa merasa berdosa. Kecepatannya tidak bisa di kejar oleh lelaki paruh baya yang mengantar anak TK.

Lokasi itu ramai seperti minggu lalu.

Aku melihat tubuh anak TK berkepang dua di kepalanya itu. Kepalanya pecah terbentur aspal. Kepangnya berantakan tak berbentuk. Matanya melotot. Baju putihnya kotor sekali. Merah di sekujur tubuhnya. Mengerikan sekali.

Sedangkan si bapak separuh baya yang mengatar anak TK berkepang dua di kepalanya itu meraung-raung seperti bocah yang kehilangan mainan. Ia histeris bagai kesurupan memanggil-manggil nama anak TK berkepang dua di keplanya yang sudah menjadi mayat.

Jalanan pun macet. Polisi datang memeriksa. Mang Acin, sopir mobil angkot yang kunaiki dimintai keterangan. Lama sekali.

Aku mendesah apakah hari ini akan terlambat. Ternyata, hanya hampir terlambat.

***

Andi selesai menceritakan kejadian yang dialaminya pagi hari ini.

Satu kelas terdiam. Bu Luna terbengong. Murid-murid lelaki mulutnya terbuka, menggantung seperti huruf O. Beberapa anak perempuan berhimpitan duduknya dengan wajah ngeri.

Tak ada tepuk tangan seperti anak-anak lain yang selesai bercerita. Yang ada hanya bunyi bel berdentang tanda istirahat.

Bu Luna bergegas mengambil alih kelas. Mengatakan bahwa cerita Andi hanyalah sebuah cerita yang belum tentu benar. Bahkan menuding Andi hanyalah berkhayal.

“Cerita Andi hanyalah khayalan anak-anak. Jadi jangan terlalu dipercaya. Bisa jadi cerita tadi hanyalah bohong,’ ujar bu Luna

Kelas pun riuh. Menuding Andi berbohong. Andi mencoba mengatakan bahwa kejadian itu sungguh terjadi.

Bu Luna dengan keras membentak meja. Satu kelas terdiam. Menyuruh murid-murid terdiam. Kemudian bu Luna membubarkan kelas untuk istirahat sekolah.

Andi hanya terdiam.

***

Minggu ketiga bulan Januari. Awan hitam menggulung-gulung di langit.

Seperti minggu-minggu sebelumnya. Hari ini adalah kelas bu Luna. kelas bercerita. Anak-anak  kelas enam kembali di minta bercerita di depan kelas. Satu perssatu murid maju ke muka kelas membawakan ceritanya masing-masing. Ada cerita tentang liburan ke pantai, mengunjungi kakek, cerita bermain ketika hujan dan cerita kanak-kanak lainnya.

Tibalah giliran Andi maju ke muka kelas. Semua penghuni kelas terdiam untuk mendengarkan ceritanya.

Bu Luna mendelik ke arah Andi,

“Jangan cerita khayalan tentang motor dan kecelakaan lagi, Andi” ujar bu Luna

Seluruh kelas riuh setuju.

Andi termenung ia teringat kejadian pagi hari tadi.

***

Hari ini aku hampir terlambat sekolah. Padahal aku bangun pagi. Sarapan dan berangkat ke sekolah. Pagi-pagi sekali.

Diantar ibu ke jalan raya. Katanya biar tidak terjadi apa-apa. Setelah naik angkot, ibu pun pulang ke rumah. Seperti biasa, angkot langgananku. Angkot berwarna biru yang disopiri oleh mang Acim.

Jalanan ramai. Banyak macetnya. Tapi, banyak sekali motor di jalan kejar-kejaran. Berliuk-liuk di antara mobil-mobil.

Di dalam angkot aku melihat bapak paruh bayah yang minggu lalu mengantar anak TK berkepang dua di rambutnya. Lelaki paruh baya itu duduk persis di sebelah mang Acim. Bapak paruh baya yang minggu lalu Anak TK berkepang dua di rambutnya ditabrak mati oleh motor.

Aku tidak tahu mau kemana lelaki paruh baya itu.

Wajah lelaki paruh baya itu begitu murung. Tak tampak raut gembira sama sekali dari wajahnya.

Tibalah mobil angkot yang kami tumpangi ke depan sebuah sekolah TK yang tak terlalu jauh dari rumahku. Jalan sedikit tersendat. Bapak paruh baya yang berwajah murung itu meminta berhenti.

Ia pun membayar beberapa rupiah kepada mang Acim. Beriap mau turun dari mobil. Tangannya sudah memegang pintu mobil, bersiap untuk membukanya.

Tapi tiba-tiba saja. Kejadiannya begitu cepat.

Sebuah motor berwarna merah yang ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm kuning melaju cepat di samping kiri angkot. Tepat dengan dibukanya pintu mobil oleh lelaki paruh baya.

Tanpa ampun motor berwarna merah yang ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm kuning yang melaju cepat menerjang pintu angkot.

Pintu berdebam terbang jauh. Sedangkan motor berwarna merah yang ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm kuning ringsek tak berbentuk menerjang tiang listrik. Sementara lelaki berjaket biru dan helm kuning mendarat tepat di got pinggir jalan.

Aku pun berteriak histeris kaget. Begitu juga penumpang angkot.

Semua mata tertuju pada kejadian itu. Lokasi itu ramai seperti minggu lalu dan lalunya lagi .

Aku melihat tubuh lelaki berjaket biru dan helm kuning. Helm di kepalanya pecah terbentur batu kali yang menjadi tembok got. Isi kepalany tak berbentuk. Matanya hancur terkena kaca helm. Jaket birunya kotor sekali. Merah dan hitam di sekujur tubuhnya. Mengerikan sekali.

Sedangkan si bapak separuh baya yang hendak turun tadi mendekati pinggir got. Ia menatap tajam dan mengeluarkan sumpah serapah kepada lelaki berjaket biru dan helm kuning sang pengendara motor berwarna merah yang sudah menjadi mayat.

“Mampus luh!”

Puas sekali lelaki separuh baya itu meluapkan kesenangan.

Jalanan pun macet. Polisi datang memeriksa. Mang Acin, sopir mobil angkot yang kunaiki dimintai keterangan, disamping angkotnya yang kini rusak. Lama sekali.

Aku mendesah apakah hari ini akan terlambat. Ternyata, hanya hampir terlambat.

***

“Andi, kenapa kamu diam saja di situ!” bentak Bu Luna

Andi tersadar. Ia belum mengeluarkan sepatah kata pun di kelas bercerita hari ini. Ia ingin menceritakan kejadian pagi hari ini. Tapi, sudahlah ia memutuskan lain.

“Aku tidak punya cerita hari ini.”

 

 

#Di sebuah angkot menuju 3 Raksa

Sunday, July 18, 2021

Mengukir Aksara di Langit Jingga

July 18, 2021 0
Mengukir Aksara di Langit Jingga

 

Keremangan dan keredupan itu tiba-tiba saja menyergap Farah dalam keterdesakkan, ketika ia berbulat tekad untuk tetap pada pendiriannya.

“Apa sih maumu? Aku tak habis pikir dengan keputusanmu?!” tanya Lisa menggelegar di   telinga Farah.

“Aku hanya ingin mengabdi,”

“Mengabdi? Kau membuang kesempatan emas jadi dokter, hanya karena kau ingin jadi guru. Dan sekarang, setelah  lulus kuliah kau  ingin  jadi  guru di  pedalaman? Kau sungguh aneh!”

“Kak, aku mohon. Izinkan aku ke sana. Di sana kekurangan tenaga pengajar. Aku lebih   dibutuhkan di sana.” Kata Farah memelas.

Lisa menatap Farah heran. Ia tak habis pikir dengan keputusan adik bungsunya itu. Hatinya mangkel dengan sikap si bungsu, yang sering bertolak belakang dengan  keinginannya.  Apalagi   ia kakak tertua yang berperan sebagai kepala keluarga semenjak ayah mereka meninggal lima tahun silam, pengambil keputusan dalam masalah adik – adiknya. Dan kini, adik bungsunya ingin minta izin pergi ke pedalamam untuk mukim dan kerja di sana.

Lisa menghela nafas panjang. Ia tak ingin meluluskan permintaan itu. Tapi, ia tahu tekad adiknya bulat dan kuat. “Terserah kau lah!  Kau sudah dewasa. Kakak enggak mau ngurusin kamu lagi!”

*

Gadis berjilbab hijau tua itu berjalan merunduk menerjang pagi berselimut dingin dan halimun.   Ia teringat  percakapan dengan kakaknya setahun silam. Ia tahu kakak tertuanya itu kecewa, juga kakak – kakaknya yang lain, yang telah menampung dan membiayai hidupnya selepas kepergian   ayah bunda. Semua itu karena ia lebih memilih jadi seorang guru ketimbang jadi dokter dengan   beasiswa di tangan, apalagi memilih mengajar di pedalaman. Tapi, itu adalah jalan kehidupan yang dipilihnya, jalan perjuangan menggapai asa dan citanya.

Ia terus melangkah maju. Jalan di depannya naik turun, kanan hutan lebat, kiri samudera Hindia. Sekolah yang ditujunya sekitar dua kilo lagi. Ia kini melangkah di ujung barat pulau Jawa,   merangkai kisah hidupnya dalam menggapai asa menebar kalam ilmu pada anak bangsa. Ia   hanya ingin anak bangsa  ini tak selalu menjadi bodoh dan tak lagi jadi kuli di negeri sendiri.

Setahun sudah ia mukim di sana, mengontrak rumah bilik sederhana di tepi pantai. Hari – harinya ia dedikasikan untuk dunia pendidikan. Pagi mengajar di SMP negeri. Sorenya mengajar   baca tulis anak – anak kampung. Sisa waktu luangnya ia isi dengan menulis. Ia merasa   ketenangan dan kedamaian tempatnya kini tinggal, membuatnya mencintai dunia kata.

Ia sarjana pendidikan lulusan terbaik universitas ternama di ibukota yang kini mengabdi sebagai   guru Bantu. Profesi yang tak menjanjikan. Menahan pedihnya susah nafkah di tengah landaan   arus materi. Digaji seadanya, kadang dengan beras, ikan, atau kayu bakar.

Malah lebih sering mengencangkan ikat pinggang. Namun ia tak mengeluh. Ia sadari itu sebagai pajak yang harus dibayarnya dalam langkah perjalanan hidupnya.

Dan…

“Bu Guru…” panggilan itu begitu menggelorakan jiwanya. Betapa kata itu menggairahkan hidupnya untuk senantiasa   mendorong   kakinya   melangkah   menapaki jalan  terjal  berliku,  merambah dunia yang penuh onak, atau bahkan mendaki gunung cadas yang curam.

Wajah – wajah purnama dengan senyum sang surya yang begitu antusias menyerap ilmu di   tengah keterbatasaan itu, telah memberinya sumber energi yang setiap saat dapat menyulut api semangatnya untuk tetap menebar kalam – kalam ilmu.

*

Malam menjelang. Tubuhnya terasa lemas. Belum sejumput makanan pun yang masuk dan  mengganjal lapar di perutnya. Baru tegukan air minum yang membanjiri lambung. Energinya terkuras habis hari ini.

Ia memejamkan mata. Membawanya memasuki pustaka luar biasa luasnya. Sebuah pustaka di   dalam taman hati. Dan si Putih, gadis penjaga taman itu telah menyambut kedatangannya.

“Sudah sebulan ini kau selalu datang kemari.”

“Iya. Hanya ketenangan hati yang purna bisa membawaku kemari. Gerbangnya terbuka oleh ketulusan,” jawab Farah sambil berjalan menuju batang kayu tempat duduk.

“Kau masih sanggup bertahan dengan semua ini?”

“Masih. Di sini aku mendapatkan ketenangan dan kedamaian jiwa yang sebelumnya tak pernah   aku rasakan.”

Si Putih berjalan mendekati Farah. Ditatapnya tajam gadis yang ada di hadapannya. “Ceritakan padaku awal mula kau mau jadi seorang guru!” pinta si Putih.

Farah menerawang ke langit biru jernih. Mulutnya terbuka dan mulai berkata, “Siang sepulang sekolah di bis itu…” 

*

“Kenapa kau  terus melongok ke bukuku?” Tanya Farah jengkel pada anak kecil di sampingnya.

“Bukunya bagus yah, Kak?”

Eh, nih bocah, ditanya malah balik Tanya, gumannya keki dalam hati. “Emangnya kenapa?”

“Kalau saya punya duit, saya  juga mau koleksi buku – buku bermutu, biar pinter,”

“Kamu sekolah?” Tanya Elah agak penasaran dengan lelaki penjual makanan kecil di sampingnya itu.

“Tidak! Saya tidak sekolah sekarang. Saya cuma sampai kelas dua SD.  Orang tua saya tidak   sanggup ngebiayainya,”

“Kamu suka baca?”

“Suka! Saya sangat suka baca. Apa saja saya baca buat nambah pengetahuan. Buku kan   gerbangnya pengetahuan. Ah, andai saja ada yang mau mengajari saya layaknya para guru di   sekolah, saya pasti sudah tambah pinter!” kata anak itu melemah, sesaat ia terdiam. “Kak,   kemajuan suatu bangsa itu ditentukan oleh tingkat pendidikan warganya kan?” Tanya anak itu membuat Farah terperangah.

*

Hujan rintik-rintik turun perlahan membuat sore itu memburamkan suasana kelas darurat di bawah jembatan tol ibu kota yang bising menyamarkan keluh Yudia.

“Lihat mereka! Kasihan mereka. Mereka juga sama seperti kita, anak bangsa ini yang berhak medapatkan pendidikan. Tapi, di usia sekecil itu mereka harus memecah karang dengan tangan mungilnya,” kata Yudia sedih.

Farah mendesah berat  menyaksikan pemandangan asing di depan matanya. Anak – anak kecil usia sekolah yang baru berdatang ke kelas darurat di bawah jembatan, mereka baru saja usai  mencari uang, mereka juga ada yang masih menyandang kecekan tutup limun, gitar, kaleng – kaleng tempat menggapit uang. Seperti burung yang kembali ke sarangnya.

“Sedangkan kita masih begitu bebasnya melenggang ke sekolah dengan duit ortu, tanpa sedikit pun merasa membebani mereka, ataupun merasa malu pada mereka yang bernasib kurang  beruntung,”   lanjut Yudia.

*

“Karena ocehan bocah di bis itu, dan anak – anak jalanan itu?” terka si Putih.

“He’eh. Bocah kecil di bis itu membuka mataku. Dan anak – anak  jalanan yang dulu pernah   kuajar merengkuh hatiku untuk jadi pendidik buat mereka,”

“Dan kau pun merelakan beasiswa jadi dokter melayang dari tanganmu?!”

Farah mengangkat bahunya. “Seperti itulah... Ada dunia baru yang lebih menarik perhatianku, dari sekedar gelar prestise jadi dokter.”

“Dan juga celaan dari kakak – kakakmu yang kesemuanya dokter?!”

“Kau sudah tahu itu.”

 “Kau sungguh aneh! Negeri ini hendak karam oleh tangan – tangan kotor pemimpinnya, dan kau masih mau mengabdi, menyangga struktur retak negeri kumpulan bedebah ini,”

“Tak ada yang aneh!” Farah mencoba menyanggah.

”Kau tahu, putih? Anak – anak bangsa ini seperti batu intan yang sejatinya bagus, tapi ia tak tersentuh apalagi terolah dengan baik, ia hanya jadi  batu jalanan biasa yang tak seorang pun mau memicingkan mata padanya,” ujar Farah seraya menatap orang yang berdiri di depannya itu, sesaat ia terdiam untuk kemudian melanjutkan perkataannya, “Ada sebuah cerita tentang seorang petani yang menemukan telur elang. Petani itu memungutnya untuk dimasak. Tapi, melihat  bentuknya yang bagus, ia jadi sungkan. Akhirnya, telur elang itu ia eramkan dengan telur ayam. Sampai akhirnya telur elang itu menetas bersama telur – telur ayam. Karena tinggal dan hidup dengan ayam, sang elang dibesarkan dan didik untuk  jadi ayam. Hingga akhir  hayatnya, sang  elang hidup sebagai seekor ayam, tak pernah ia gunakan sayapnya yang kokoh itu untuk terbang jelajahi angkasa, tak juga ia gunakan cakarnya yang kekar itu untuk menerkam buruannya, tak   ia gunakan juga paruhnya yang kuat dan tajam itu untuk mengoyak mangsanya,”

“Kau mengibaratkan anak bangsa ini seperti elang yang dibesarkan oleh ayam dan didik oleh   keluarga ayam hingga jadi ayam. Tak pernah dilatih dan menggunakan potensi yang dimilikinya?”

“Seperti itu. Padahal kemeriahan peradaban suatu bangsa itu memang ditentukan oleh  tingkat  pendidikan masyarakatnya.”

“Kau curhat?” Tanya Putih baru  tersadar   rupanya ia.

“Iya. Aku curhat. Bukannya   kaulah tempat curhatku selama ini?”

“Iya. Iya. Kau mau katakan apa lagi, Farah?”

“Kau tahu Kasim Arifin, Putih? Aku ingin mengabdi seperti ia yang digambarkan dalam pusinya Taufiq Ismail!”

“Tidak! Aku tak tahu. Seperti apa orang itu sampai kau pun ingin seperti ia?”

“Kasim Arifin adalah mahasiswa tingkat akhir IPB yang pada tahun 1964 pergi ke pulau Seram untuk tugas membina masyarakat tani di sana. Tapi, ia menghilang lima belas tahun lamanya.

“Di Waimital, ia jadi petani. Ia menyemai benih padi, orang – orang menyemai benih padi. Ia membenamkan pupuk di bumi, orang – orang ikut membenamkan pupuk. ia menggariskan strategi irigasi, orang – orang menggali tali irigasi. Ia mengukur klimatologi hujan, orang – orang menampung air hujan. Ia membesarkan anak cengkeh, orang desa panen cengkeh. Ia meransum  gizi sapi Bali, orang – orang membesarkan sapi Bali. Ia mengukur cuaca musim kemarau, orang – orang waspada musim kemarau.

“Ia menabung kerja – kerjanya dalam sunyi yang panjang. Menumpuknya hingga jadi gunungan karya. Di Waimital ia mencetak harapan. Tanpa mesin – mesin, tanpa anggaran belanja. Ia merobohkan kolom gaji  dan karir birokrasi.

“Tahun 1979, Ia diwisuda. Ia terharu karena penghargaan almamaternya, tapi pada hakikatnya ia tak memerlukan gelar akademik. Mahasiwa – mahasiswa IPB menggerubunginya dan   mengaguminya sebagai teladan keikhlasan pengalaman ilmu pertanian di pedesaan. Berbagai   tawaran pekerjaan disampaikan kepadanya, tapi ia kembali lagi ke Waimital usai wisuda. Baru setelah itu ia menerima pekerjaan sebagai dosen di tanah kelahirannya, Aceh,”

“Kau ingin seperti ia?” Tanya si Putih menggoda.

“Aku ingin hidupku berarti dan bermakna bagi orang lain. Aku ingin  menjadi pahlawan tanpa  nama, orang yang hadirnya tak diperhatikan, tapi kepergiannya begitu dirindukan. Kita tak   menjadi apa dalam masyarakat, tapi apa yang bisa kita persembahkan buat mereka...” Farah tergugu, kemudian ia melanjutkan kata-katanya ”bukan sekedar gelar tanpa prestasi nyata. Piala kejayaan suatu bangsa terus bergulir, mungkin saat ini bangsa ini sedang berada di titik nadir,   tapi nanti pasti akan dapat merebut piala kejayaannya. Walaupun saat kejayaan itu bukan sekarang. Tapi, setidaknya aku sudah mendekatkan ke sana dengan membuka mata anak – anak bangsa ini melihat dunia.”

“Wah, kau semakin dewasa yah! Kau masih ingin di sini? Aku mau menambah koleksi buku di perpustakaan ini,”

“Iya. Aku mau membaca ilmu dan merangkai kata di sini. Kau pergi saja! Nanti aku tutup   taman ini sendiri.”

*

Bertahun ia yang telah pergi kini kembali. Para kakaknya sudah menyambutnya kembali.

“Apa yang kau dapat di sana? Susah harta, susah jabatan. Lihat aku! Aku sudah jadi direktur di   rumah sakit?!” Tanya Lisa sinis.

 “Kau sok idealis dengan menjadi relawan. Lihat dirimu! Kau miskin. Sedangkan aku sudah punya klinik sendiri sekarang,” sambut Gani, kakaknya yang ketiga.

“Kau semakin dusun. Bodoh dan tolol. Yang kau cari cuma mimpi kosong. Kau hanya menabung penyakit TBC. Lihatlah kami semua telah sukses. Aku kini jadi dokter spesialis di   rumah sakit ternama negeri ini. Sedangkan kau?” Caci Sarah, kakak keduanya.

Farah tak menjawab. Ia hanya diam mendengarkan meriam kata kakak – kakaknya itu. Dalam   hati ia berbisik lirih, kebahagiaan itu kosa kata ruhani yang tak ternilai dengan uang dan jabatan, andai mereka tahu.

*

Farah kembali ke dunianya. Berkutat pada rutinitasnya bertahun – tahun ini. Pagi ini wajahnya tak secerah mentari. Matanya tak seterang bintang. Binarnya meredup. Sudah tiga hari ini  perutnya kosong. Belum secuil makanan pun yang hinggap ke mulutnya. Musibah kelaparan  membuat gajinya tak terbayar. Honorarium tulisannya pun belum dikirim. Terpaksa ia melewati hari dangan perut diikat kencang. Tapi, melihat wajah  – wajah  muridnya bersemangat, ia pun jadi semangat.

“Bu guru, ibu  mau nulis buku lagi kan? Buat perpustakaan makin banyak bukunya.” celoteh seorang muridnya.

“Ibu akan terus menulis untuk kalian.”

“Bu, tulisin cerita tentang aku dong!” rajuk seorang murid perempuan di kelasnya.

 “Tentu sayang. Tentu Ibu  akan  menulis tentang kalian. Masa depan memang akan jadi milik kalian.”

“Horee!” serentak murid – murid kelas satu sekolah menengah pertama itu berteriak senang.

Ia menerawang ke angkasa. Tatapannya menembus keca jendela kelas yang pecah. Langit  begitu   jenih memayungi khatulistiwa. Dalam hati ia bersyair;

Inilah lagu rindu yang kunyanyikan, wahai hari catatlah hari ini sebuah perjuangan dan pengorbanan,  karena kau akan melihat nanti kejayaannya[1].

 

Catatan:

Dimuat di Koran Satelit News Sabtu, 7 Agustus 2010

 

 

 

 

 



[1] Puisi Anis Matta

Sunday, July 11, 2021

Dilarang berak di kebon

July 11, 2021 0
Dilarang berak di kebon


Kekusutan terpampang di wajah Farah. Tak ada lagi keceriaan dan kelincahan yang tergambar di wajahnya. Ia masih kepikiran dengan peristiwa kemarin. Waktu ia dan kawan – kawan kuliahnya mengadakan sosialisasi ke sebuah kampung di desa ‘super’ miskin tentang makanan bergizi. Dan kebetulan, ia menjadi penyuluh untuk program itu.

Peristiwa unik yang mengejutkan. Tapi, sudah cukup untuk membuatnya kapok dan ogah jadi penyuluh untuk program serupa. Bagaimana tidak, awalnya meyakinkan, tapi ternyata akhirnya mengecewakan. Kemarin, dengan semangat empat lima dan suara nyaring ia bicara di depan ibu – ibu desa itu tentang makanan bergizi. Di akhir pemaparannya ia berkata,

“Bagaimana ibu – ibu, sudah tahu kan makanan yang bergizi itu apa saja. Nah, cobalah menyediakannya untuk keluarga anda. Agar keluarga anda sehat dan cerdas.”

“Mbak, kami bukannya tidak tahu mana makanan yang bergizi dan mana yang bukan. Kami hanya tak sanggup menyediakannya. Kami tak punya duit untuk beli makanan gituan yang harganya selangit.” Keluh seorang ibu muda yang sedang hamil menanggapi perkataan Farah.

“Iya. Benar itu.” Suara Ibu yang lain menimpali. Suasana ruangan pun menjadi ramai.

“Lebih baik bila Mbak – Mbak sering – sering saja bikin program sembako murah di sini.” Saran Ibu muda yang sedang hamil itu.

Farah tersentak mendapati protes ibu – ibu itu. Tak ia sangka bakalan mendapatkan keluhan semacam itu. Lidahnya kelu untuk berkata. Apa yang telah ia paparkan tadi seakan menjadi tak berarti. Rasanya malu menyampaikan hal yang menjadi tak berguna dan menyinggung kemampuan finansial mereka.

Berarti program penyuluhan  makanan bergizi ini hanya merupakan sebuah menara gading yang indah namun tak tersentuh warga, batin Farah. Ogah deh jadi penyuluh buat acara gituan lagi. Aku udah kapok, gerutunya dalam hati.

***

Sore ini wajah Farah masih cemberut. Kejadian satu minggu yang lalu di kampung ‘super’ miskin itu masih membekas di benaknya.

“Hey, cemberut aje. Entar cantiknya hilang loh.” Goda Faris sambil menepuk punggung Farah.

“Abang ini ngagetin aja. Orang lagi bete juga, digangguin terus.”

“Lagi bete yah. Pantes mukanya ditekuk terus. Emangnya kamu bete kenapa?”

Farah Pun menceritakan kejadian waktu penyuluhan di kampung ‘super’ miskin itu. Bagaimana ia yang dengan semangatnya memaparkan tentang makanan bergizi. Malah harus gigit jari karena diprotes sama ibu – ibu soal ketidakmampuan finansial mereka untuk menyediakan daftar makanan bergizi yang dipaparkan Farah. Farah merasa malu. Sangat malu dengan kejadian itu. Siapa yang enggak sebel mendapatkan hasil akhir kayak gitu.

Faris tertawa terkekeh mendengar cerita Farah. Baginya itu adalah kejadian lucu yang pernah didengarnya dan membuatnya tertawa.

Farah mendengus kesal melihat tingkah Abangnya yang malah menertawakannya. Farah sebel. Kesel. Diceritai, eh malah ditawain. “Ih, Abang jahat.”

Faris menahan ketawanya. “Ee, gimana kalau kamu besok ikut kakak jalan – jalan?” Faris melontarkan ajakan pada Farah.

“Jalan – jalan?” Tanya Farah bimbang.

“Iya, jalan – jalan. Kamu lagi bete kan? Nah, biar gak bete lagi kita jalan – jalan.”

“Kemana?”

“Pokoknya seru. Dijamin. Kamu ikut ya!”

“Iya, deh.” Jawab Farah.

***

“Kak, udah deket belum kampungnya?” Tanya Farah dengan nafas tersenggal. Beban berat dipunggungnya terus menekan. Tas ranselnya semakin berat, rasanya seperti memikul gunung yang ia rasakan. Apa lagi jalannya yang menantang, naik turun bukit.

“Eh, kenapa? Capek ya?” Kata Faris dengan suara menyindir. “Tinggal melewati bukit yang di depan.” Lanjutnya.

Farah mendesah panjang. Ia mengumpulkan semua tenaga yang masih tersisa. Di hadapannya sebuah bukit menjulang kokoh.

Fhuuhh, kok seperti jejak petualang.

 Perjalanan kali ini membuat seluruh badan Farah terasa sakit dan pegal. Sesampainya di rumah temannya Faris, ia langsung selonjoran melepas semua rasa lelah dan sakitnya. Kakinya memar. Buah dari jalan – jalan bareng Faris.

Ini sih, jalan – jalan beneran, jalan pake kaki doang, guman Farah dalam hati. Tak ia sangka, Faris, Abang satu – satunya itu akan sekejam ini menyiksanya, apalagi mereka akan berada di kampung ini selama dua hari.

“Faris, terima kasih sudah mau datang kemari.” Ucap Nurmala, sang pemilik rumah yang juga teman Faris semasa kuliah, berterimakasih atas kedatangan Faris dan Farah ke kampungnya.

“Aku datang atas permintaan sahabatku. Tak perlu kau ucapkan terima kasih atas kedatanganku. Aku akan membantumu sebisaku.” Jawab Faris.

“Ris, seperti yang aku kabarkan padamu tentang kejadian di kampung ini yang sempat bikin geger, kita akan mengalami kesulitan untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang hidup bersih! Kau sudah siap?! Di sini sangat berbeda dengan di kota!”

 “Kak, emangnya apa yang terjadi di kampung ini?” Tanya Farah penasaran kepada abangnya yang berprofesi sebagai dokter umum di kotanya..

“Dua minggu yang lalu, di kampung ini terjadi musibah muntaber. Korbannya banyak sekali, hampir seluruh warga di sini kena muntaber. Dan ada yang meninggal. Itu semua karena pola hidup warganya yang sangat jauh dari kata sehat. Termasuk prilaku buang hajat sembarangan. Mereka sangat susah untuk dinasehati. Dan kebanyakan warga sini sedikit sekali yang punya wc pribadi, untuk mengatakan tidak ada.”

Farah mengangguk paham mendengar penuturan Nurmala. Sekarang ia berada di salah satu kabupaten miskin, ia tahu kondisi di sini sangat berbeda dengan ibu kota tempatnya tinggal. Dalam perjalanan tadi, ia sekilas melihat kehidupan warganya. Bila dbandingkan dengan kampung yang minggu lalu dikunjunginya, kampung ini jauh lebih miskin. 

“Apa yang akan kamu lakukan, Ris?” Tanya Nurmala.

“Yang akan kulakukan pertama kali… penyuluhan!” Jawab Faris.

“Penyuluhan?!” Suara Nurmala terdengar kaget. “Aku sudah melakukannya. Berkali – kali. Namun, hasilnya percuma.”

Farah pun tersentak mendengar jawaban dari Abangnya itu. Penyuluhan, itu adalah hal yang sia – sia untuk dilakukan dengan kondisi finansial warga kampung sini yang lemah dan pemahaman kesehatan yang alit. Terbayang di kepalanya kejadian satu minggu yang lalu. Mungkin, kejadian itu akan terulang lagi.

“Ya. Penyuluhan hal pertama yang akan aku lakukan! Selanjutnya, kalian lihat saja!” Tukas Faris tenang.

Farah dan Nurmala hanya bisa mereka – reka apa yang nanti akan terjadi. Mereka bingung dengan rencana apa yang akan Faris lakukan.

***

Semua warga kampung Sugih Waras telah berkumpul di balai desa. Mereka dikumpulkan oleh Nurmala, dokter puskesmas yang bekerja sama dengan aparat desa untuk diberikan penyuluhan.

“Bang, katanya mau ngasih penyuluhan? Kok Cuma bawa spidol, kertas karton, ama bendera? Aneh!” Tanya Farah bingung dengan apa yang dibawa Faris untuk penyuluhan. Tak ada leaflet atau brosur – brosur kesehatan seperti layaknya acara penyuluhan.

“Heran ya? Nanti kamu juga tahu sendiri!” Jawab Faris ringan sambil berlalu masuk ke balai desa, tempat para warga telah berkumpul.

Setelah mengucapkan salam, mengenalkan diri, serta  mengucapkan kata pembuka, Faris langsung menggambar denah kampung.

“Nah, bapak – bapak dan ibu – ibu, gambar ini kita anggap sebagai peta kampung Sugih Waras ini. Ada kebun, sawah, kali, lapangan, dan lainnya. Sekarang saya mau tanya sama bapak dan ibu yang ada di sini satu persatu.”

Faris menunjuk seorang bapak yang berkumis baplang. “Bapak, kalau buang hajat di mana?” Tanya Faris.

“Di sawah.” Jawab Bapak yang berkumis baplang itu.

“Di sawah. Kita tandain gambarnya.” Kata Faris sambil menandai peta itu. Kemudian ia bertanya kepada warga yang lain.

“Di kali.” Jawab Seorang kakek.

“Di kebun.”

“Di empang.”

“Di lapangan…”

Para warga telah selesai di tanyai satu per satu oleh Faris. Peta yang di gambar tadi telah penuh oleh tanda silang yang menandakan tempat warga buang hajat.

“Wah, kalau kita ngeliat peta itu, berarti kampung kita penuh dengan kotoran, dong!” Celetuk seorang warga.

“Iya, ya.” Jawab warga yang lain.

Ruangan itu jadi ramai dengan komentar para warga.

Faris mengeluarkan bendera – bendera kecil yang dibawanya. “Bapak – bapak dan ibu – ibu, sekarang kita akan menandai tempat bapak – bapak dan ibu – ibu buang hajat dengan bendera ini.” Kata Faris membuyarkan komentar – komentar warga.

Para warga itu mengambil mendera dan pergi menandai tempat mereka buang hajat. Setelah semuanya selesai, orang – orang itu melihat banyak bendera yang menancap di sekelilingnya. Menandakan kalau di sana ada kotoran.

“Wah, ternyata di sana – sini banyak kotoran.” Celetuk Seorang warga berkomentar dengan apa yang dilihatnya.

“Kampung kita penuh dengan tinja.” Komentar yang lain.

 “Pantes, muntaber mewabah. Ini dia masalahnya.” Komentar Pak Kades menimpali komentar warga yang lain.

Farah dan Nurmala yang menyaksikan itu bergidik geli. Rasanya jijik berada di kampung itu.

Pak Kades mendekati Faris. “Kalau melihat seperti ini, apa yang harus kita lakukan, Pak?” Tanya Pak Kades.

“Buat Wc umum.”

“Kalau buat Wc umum, kami tak ada dananya!” Tukas Pak Kades gamang.

“Kita buat Wc dari bahan – bahan yang ada saja. Bisa dari bekas bangunan atau yang lainnya.”

“Emang bisa?” Tanya Pak Kades penasaran.

“Bisa. Pastinya bisa kalau kita yakin bisa dan mencobanya.”

“Pak, saya ada bilik yang enggak kepake!”

“Saya, ada semen bekas kemarin bangun rumah.”

“Saya ada dirigen besar.”

“Saya ada genteng.”

“Saya punya Parolen.”

Para warga kampung Sugih Waras memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk pembangunan Wc umum. Barang – barang itu sudah terkumpul. Faris memberikan pengarah kepada para warga tentang Wc yang akan mereka buat.

***

Mentari telah keluar dari persembunyiaanya. Membuka pagi hari yang asri dengan suara desiran angin dan kicauan burung.

Faris dan Farah sudah bersiap untuk pulang kembali ke rumahnya di Serpong. Sesudah dua hari mereka ada di kampong Sugih Waras, memenuhi permintaan Nurmala untuk membantunya mengatasi masalah warga yang buang hajat sembarangan.

Kini masalah itu telah usai. Di dekat kali telah berdiri Wc dengan sepuluh pintu. Wc sederhana yang dindingnya terbuat dari bilik dengan lubang dirigen sebagai klosetnya. Tempat airnya adalah dirigen yang atasnya telah dipotong untuk kloset. Air mengalir dari kali lewat pipa paralon yang terpasang. Sangat sederhana, tapi sudah memecahkan masalah yang ada.

Setelah pamitan dengan warga, Faris dan Farah meninggalkan kampong Sugih Waras. Di wajah mereka terpampang seulas senyum kebahagiaan.

“Bang, dapat dari mana ide kemarin itu? Hebat banget!” Tanya Farah pada Abangnya.

Faris tersenyum mendengar pertanyaan Adiknya itu. “Dari kamu! Dari cerita kamu kemarin. Dari situ Abang bisa ambil pelajaran, yang kita butuhkan bukan hanya semangat, tapi juga pengetahuan tentang budaya dan keadaan sosial masyarakatnya, serta alternative apa yang bisa kita lakukan untuk mereka.”