Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Thursday, November 11, 2021

Menerima Tamu @Tamankupu2Sukardi

November 11, 2021 0


Menerima Tamu @Tamankupu2Sukardi

Hari ini kamis, 11 November saya menerima tamu. Ada kunjungan dari anak-anak PAUDQu AL-MUKARROMAH beserta guru dan wali muridnya. 

Mereka datang untuk belajar tentang metamorfosis kupu-kupu. Mulai dari fase telur, ulat, kepompong, sampai jadi kupu-kupu. Terakhir mereka praktek memindahkan ulat dari tanaman inang ke toples. Dan yang paling seru, tentu saja melepaskan kupu-kupu ke taman dalam atau ke alam bebas.

Taman Kupu-kupu Sukardi merupakan taman konservasi penangkaran kupu-kupu yang terbuka untuk umum sebagai tempat ekowisata. Sebagai taman ekologi, selain kupu-kupu juga ada binatang lain seperti bunglon, capung dan lain-lain. Taman ini juga memiliki keanekaragaman hayati dengan jumlah jenis tanaman mencapai 60 an tamanan. Tanaman terbagi atas dua kategori, yaitu tanaman inang dan tanaman nektar.

Fasilitas penunjang kegiatan ekowisata terdiri atas taman dalam, rumah kepompong, dan panel informasi. Ada juga gazebo untuk istirahat pengunjung. Taman ini juga dilengkapi area playground dengan instalasi permainan tradisional seperti engklek, egrang, batok, dan lain-lain. Cocok untuk anak-anak.

Demikianlah cerita hari kesepuluh #30harimenulismarathon. Sebagai tuan rumah, saya siap menerima anda yang ingin berkunjung ke sini. Baik sendiri-sendiri maupun berkelompok. Jika ingin tanya lebih lanjut dm saja.



Wednesday, November 10, 2021

Tentang rumput yang menghijau di taman

November 10, 2021 0


Kalau Anda ke taman kupu-kupu Sukardi halaman depannya rumput dibiarkan tumbuh. Dulu ada yang menawarkan untuk pemasangan rumput sintetis tapi kami tolak. Tentu ada alasannya.

Dalam sebuah perjalanan ke Majalengka menemui salah satu konsumen saya yaitu PT Sumber hijau Farm. Di sana saya melihat peternakan sapinya, namun ada salah satu momen yang terekam cukup kuat di memori saya ketika Pak Rudi, penanggung jawab peternakan  di sana bercerita tentang awal mula kandang sapi di situ.

Beliau bercerita bahwa dulunya sebelum dibangun kandang sapi, lahan itu adalah lahan tandus bekas percetakan bata secara tradisional. Ada sumur dulunya tapi airnya kering. Lambat-laun dibangunlah peternakan, terus halaman dekat mess karyawan dan ruang tunggu tamu ditanami rumput jepang. Pengakuan beliau setelah ditanami rumput itu ternyata menyerap air hujan dan itu berdampak positif pada sumur yang dulunya kering sekarang  airnya selalu tersedia dan tidak pernah kering lagi.

Dilansir dari kompas.com rumput merupakan salah satu tanaman penyerap air. Philip Mahalu dari lembaga penelitian internasional bidang kehutanan, Cifor, mengatakan rumput bisa tumbuh di segala jenis tanah, kata Philip. Hebatnya rumput ini memiliki akar tiga meter yang memiliki daya serap tinggi. Rasanya tak sulit menyisakan lahan di rumah untuk menanam rumput untuk meningkatkan debit air di rumah.

Saya juga merasakan tahun ini meski panasnya full, sumur kami tidak pernah kekeringan meski banyak rumah yang ambil airnya di situ. Belum lagi kolam ikan lele juga mengambil air di situ. Jadi ada guna tersembunyi dari rerumputan di taman, selain sangat tertolong tanaman ficus benjamina yang tumbuh kokoh di seberang jalan. Inilah penyerap air utama dan konservasi air paling mantap.

Saat hujan rumput ini tidak becek. Meski butuh waktu untuk menyerap air hujan, tapi tidak lama. Saya sadar betul bahwa di depan taman ada banyak tetangga yang menaruh pipa sumber airnya. Ke depan akan kami tanaman rumput wangi sedangkan seberang jalan alangkah bagusnya jika ficus benjamina yang ditanam.


Begitulah cerita hari kesembilan #30harimenulismarathon jangan anggap hina rerumputan yang bergoyang paman.


Tuesday, November 9, 2021

Kembali bermain permainan tradisional

November 09, 2021 0


Anak-anak sekarang darurat bermain outdoor. Hal ini karena terbatasnya lahan terbuka, sehingga riskan jika bermain di luar rumah yang tersisa jalanan. Akhirnya mereka lebih asyik dengan gadgetnya masing-masing. 

Berbeda dengan ketika saya kecil, ada lapangan dan kami lebih sering bermain secara outdoor, memainkan beberapa permainan tradisional seperti gobak sodor, engklek dan lain-lain. Bergerak dari situ, saya menginstal beberapa jenis permainan tradisional di Taman Kupu-kupu Sukardi.

Adapun beberapa permainan tradisional tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama jungkat-jungkit. Permainan keseimbangan badan dengan jungkat-jungkit.
Kedua engklek. Engklek atau disebut juga dengan jingkring geprok di kampung kami ,merupakan permainan tradisional untuk melatih gerak motorik kasar.
Ketiga egrang batok. Egrang batok ini memanfaatkan batok kelapa dua buah yang dipasangkan tali. Cara bermainnya adalah dengan meletakkan kaki pada batok lalu tali dijepit dengan jempol dan untuk menggerakkan nya kaki dan tangan yang memegang kaki diarahkan sesuai dengan langkah kaki.
Keempat lempar gelang. Permainan tradisional yang sering ditemukan di pasar malam. Pada permainan ini pemain dilatih untuk fokus pada sasaran.
Baru ada 4 permainan tradisional yang kami Tampilkan kembali di Taman Kupu-kupu Sukardi. Tentu itu diluar halang rintang dan tempat duduk hewan dari ban bekas. Kedepannya Kami ingin menambahkan beberapa permainan tradisional seperti bakiak dan lain-lain
.
Demikianlah cerita hari ke-8 #30harimenulismarathon Jika anda ingin bernostalgia bermain tradisional datanglah ke taman kupu-kupu Sukardi dan ajaklah keluarga anda.


Monday, November 8, 2021

Kenapa Tidak ada foto makanan di Medsos saya?

November 08, 2021 0
Kenapa Tidak ada foto makanan di Medsos saya?
Salah satu warga Brazil mengais sisa sayuran (Raimundo Pacco / AFP - detikNews)




Kalau anda jeli perhatikan medsos saya baik facebook atau instagram anda akan jarang menemukan postingan tentang makanan atau minuman. Berbeda dengan kebanyakan orang, saya memang tidak suka posting makanan enak dan menggugah selera. Padahal aslinya Saya suka makan.


Ada beberapa hal yang melandasi sikap saya seperti itu. Pertama hadits Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah bersabda, "Jika engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya dan perhatikanlah tetangga-tetanggamu" (HR. Muslim). Saya diajarkan untuk berbagi makanan, bukan berbagi foto makanan. Dan banyak hadits-hadits lain tentang keutamaan memberi makan kepada orang lain.


Kedua pernah dalam suatu perjalanan mengirim barang dengan truk, di salah satu titik pemberhentiannya saya pernah melihat orang yang makan dengan mengais makanan sisa. Ketika saya tanya dia tidak punya uang.


Ini membentuk kesan kuat dalam pikiran saya bahwa kita mungkin bisa makan enak, tapi belum tentu dengan orang lain. Ketika hendak memposting makanan saya terpikirkan kembali momen tersebut. Bagaimana kalau yang melihat postingan makanan saya di dalam kondisi lapar? Pasti rasanya tidak nyaman. Itulah yang membuat saya nyaris tidak pernah memposting makanan.


Dan saya tidak menyesali pilihan itu,  malah bersyukur apalagi di zaman pandemi covid. Karena banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan untuk makan saja sulit. Sementara untuk berbagai makanan, saya sendiri belumlah sanggup. Jadi menahan diri untuk tidak posting makanan di medos adalah pilihan yang bijak.


Tulisan ini dibuat karena saya lihat berita di Detik.com yang mewartakan Sekitar 55% populasi di Brasil kekurangan pangan selama setahun terakhir akibat pandemi. Akibatnya banyak warga Brazil yang rela mengais sisa buah dan sayur buangan. Apakah di Indonesia ada? Bisa jadi ada juga.


Perlu digaris bawahi bahwa sikap saya ini tentu tidak berlaku bagi teman-teman pelaku usaha yang yang bergerak di bidang kuliner. Saya sendiri mendorong kepada teman-teman itu untuk promosi makanan yang mereka produksi. Karena lewat makanan itulah mereka menghidupi keluarganya.

Jadi demikianlah tulisan hari ketujuh #30HariMenulisMarathon 

Sunday, November 7, 2021

Olah Nafas Pemberdayaan

November 07, 2021 0



Tiga minggu lalu, tepatnya 16 Oktober 2021, saya menulis status yang dibagikan via Instagram dan facebook, isinya sebagai berikut:

Perjalanan ribuan mil dimulai dari langkah pertama. Bukan langkah seribu, kalo itu mah lari dari kenyataan. 
Bank Sampah Gintung Mesra baru dimulai. Hal pertama yang ingin didorong adalah memilah sampah rumah tangga. Sedangkan pendapatan dari menjual sampah bernilai ekonomi adalah bonus. 
Bismillah

Nah ada yang komen, semangat kakak lalu saya jawab kalau saya tidak semangatan alias santuy saja. Asli memang begitu, anda tidak akan melihat saya teriak-teriak penuh semangat melafalkan yel-yel. Lebih ajaib lagi saya malah tidur di acara seminar motivasi. 

Begini, ada belief system yang tertanam dalam benak saya. Motivasi berubah itu harus berasal dari diri sendiri bukan orang lain. Ketika saya ingin memotivasi diri saya, maka saya akan memaksa untuk melakukan itu. Contohnya tulisan ini, ini adalah pemaksaan diri untuk menulis minimal satu tulisan per hari selama 30 hari marathon.

Berangkat dari pengalaman saya, kegiatan pemberdayaan masyarakat yang berasal dari kesadaran dan kemauan masyarakat sendiri akan berjalan dan lebih awet meski jalan terjal, dibandingkan program yang diturunkan oleh pemerintah dengan sokongan dananya. Aksi dari masyarakat meski tanpa acara peresmian wah dan dana mepet malah lebih sustainable dibandingkan program pemerintah yang peresmiannya gegap gempita.

Saya yang pernah mendampingi kube-kube di Tangerang Utara paham benar watak masyarakatnya. Merubah masyarakat meski itu baik, seperti memilah sampah, tidaklah mudah. Pandangan dan semangat kita sebagai pencetus belum tentu satu frekuensi dengan masyarakat kebanyakan.

Kalo belajar difusi inovasi pasti sudah tahu tentang pembagian adopter (penerima inovasi). Ada lima golongan adopter dalam teori difusi inovasi
Innovators: Sekitar 2,5% individu yang pertama kali mengadopsi inovasi. Cirinya: petualang, berani mengambil resiko, mobile, cerdas, kemampuan ekonomi tinggi
Early Adopters (Perintis/Pelopor): 13,5% yang menjadi para perintis dalam penerimaan inovasi. Cirinya: para teladan (pemuka pendapat), orang yang dihormati, akses di dalam tinggi
Early Majority (Pengikut Dini): 34% yang menjadi pera pengikut awal. Cirinya: penuh pertimbangan, interaksi internal tinggi.
Late Majority (Pengikut Akhir): 34% yang menjadi pengikut akhir dalam penerimaan inovasi. Cirinya: skeptis, menerima karena pertimbangan ekonomi atau tekanan sosial, terlalu hati-hati.
Laggards (Kelompok Kolot/Tradisional): 16% terakhir adalah kaum kolot/tradisional.
Pertama kali mulai pasti tidak semudah omongan Mario Teguh. Karena yang menerima gagasan kita masih terbatas. Karena itu ketika menggulirkan Bank Sampah yang diundang hanya 20 orang sebagai Early Adopter. Ketika sudah jalan dan ada manfaat ekonomis, barulah yang lain akan ikut. Tahap ini masuk ke Late Majority.

Untuk sampai ke tahap late majority itu butuh waktu dan pengorbanan. Karenanya butuh olah nafas pemberdayaan. Bukan semangat dan tancap gas di seremoni, lalu kehabisan nafas di tengah jalan dan berakhir tanpa kabar. Pelan-pelan saja dan bisa dimulai dengan langkah kecil.

Bank sampah Gintung Mesra itu dimulai dengan langkah kecil. Sekali rapat dengan 20 orang emak-emak langsung terbentuk. Dikasih modal awal buku tabungan dan karung. Seminggu sudah ada yang setor. Berjalannya waktu, lebih banyak yang minta dijemput. 

Saat penimbangan di rumah nasabah ini, mulai ada yang tanya-tanya dan mau ikut bergabung, kalo dijemput. Nah ini tantangan sekaligus peluang. Masih satu RT dan tetangga saja mintanya dijemput, padahal sudah ada gudang unit pengumpul sampah. Itulah realitanya tak semanis pandangan para birokrat pembuat kebijakan. 

Sebagai penggagas harus ikut kemauan masyarakat bukan pemerintah, termasuk jumlah minimal tabungan yang bisa diambil. Pembina kami sesuai pedoman mengatakan dana bisa diambil jika tabungan sudah ada 100 ribu dengan maksimal 50 ribu jadi harus ada saldo mengendap minimal 50 ribu. Pedoman birokratis seperti itu tidak kami pakai. Di kami minimal tabungan 20 ribu bisa diambil semuanya, gak perlu ada minimal saldo mengendap. Intinya ngapain dibuat sulit. Masyarakat itu kalo dibuat mudah akan ikut gabung dengan sendirinya. Urusan 16 % si bebal, ngapain dipikirin. Ada 20 kk saja sudah bisa jalan itu bank sampah.

Jadi demikianlah tulisan hari ke enam #30HariMenulisMarathon 


Saturday, November 6, 2021

Sampah jadi tabungan

November 06, 2021 0


Betapa banyak dari kita yang memandang rendah sampah. Malahan membuang sampah sembarangan. Padahal Sampah jika dipilah dan dikelola dengan baik maka dia akan menghasilkan nilai ekonomi.

Perputaran uang dalam pengolahan sampah  ini, istilah terkenalnya adalah ekonomi sirkular. Ekonomi Sirkular merupakan pendekatan penerapan sistem ekonomi melingkar dengan memanfaatkan sampah untuk digunakan sebagai bahan baku industri. Sampah apabila dikelola dengan metode ini akan memberikan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan yang baik.

Sampah diolah menjadi bahan baku industri. Seperti sampah botol plastik yang dicacah dan dijadikan biji plastik lalu dipakai kembali menjadi botol plastik. Atau kemasan kaleng yang dilebur dan menjadi untuk dijadikan kaleng lagi. Sampah organik pun dapat diolah menjadi pupuk. Semua ada nilai tambahnya jika diolah dengan baik.

Kunci dari pengolahan sampah yang baik dimulai dari pemilahan sampah. Kondisi buruknya tata kelola sampah di Indonesia adalah ketidaksadaran masyarakatnya untuk memilah sampah. Sehingga semua sampah hanya berujung pada dua muara: dibakar atau menggunung di TPA.

Saat ini saya sedang mendorong masyarakat di sekitar saya tinggal untuk memilah sampah. Sampah hasil pilahan itu dapat disetorkan ke bank sampah Gintung Mesra yang saya kelola. Uangnya menjadi tabungan. Dari sampah inilah yang akan menjadi tabungan. 

Sekedar informasi, berikut adalah jenis sampah yang diterima di Bank Sampah Gintung Mesra:
1. Kardus 
2. Botol beling
3. HVS/ putihan
4. Buku tulis
5. LKS 
6. Aluminum
7. Besi
8. Tutup galon Aqua
9. Tutup galon isi ulang
10. Paralon
11. Kabel isi tak dikupas ( non antena)
12. Rongsok
13.Botol, Gelas mineral kotor
14. Botol mineral bersih
15.Gelas mineral bersih
16. Kuningan
17. Tembaga
18. Steel / Baja ringan
19. Kaleng
20. Emberan
21. Paku
22. Karpet talang 
23. Kipas angin rusak
24. Kantong semen  
25. Oli
26. Minyak Jelantah
25. Tutup botol krop
26. Duplek
27. Galon merk Aqua

Banyak bukan. Nah anda pun dapat berpartisipasi menabung sampah di tempat kami, khususnya orang desa Gintung. Daripada sampah dibuang begitu saja, lebih baik dipilah dan dijadikan tabungan. Bisa buat lebaran atau jika butuh uang dadakan, tinggal cairkan tabungan.

Demikianlah tulisan Hari kelima #30HariMenulisMarathon
Jika minat jadi nasabah tinggal DM saja yah.

Friday, November 5, 2021

Bukan Salam Dari Binjai

November 05, 2021 0


Belakangan ini ramai video salam dari Binjai dengan konten seorang pria memukul pohon pisang sampai tumbang. Secara pribadi saya tidak menyukai konten tersebut.  Pertama tidak ada unsur edukasinya sama sekali. Kedua itu adalah tren yang buruk karena memukul pohon pisang yang tidak bersalah sampai tumbang, padahal untuk tumbuh besar pohon pisang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Ketiga akan timbul efek buruk jika itu dilakukan oleh anak-anak yang tidak bertanggung jawab,  maka banyak pohon pisang yang tumbang.

Benar saja tren memukul pohon pisang pun dilakukan oleh anak-anak yang tidak bertanggung jawab. Salah satunya yang terjadi di di Desa Surabayan, Kecamatan Sukodadi, Lamongan, Jawa Timur. Kejadian ini sampai masuk berita kenapa video pengrusakan pohon pisangnya ikut viral.

Pada video pertama terlihat beberapa anak tengah merusak pohon pisang di sebuah kebun. Mereka terlihat menaiki pohon pisang hingga membuat pohon-pohon tersebut patah. Mereka pun terdengar tertawa saat melancarkan aksinya. Peristiwa itu terjadi pada malam hari.

Selanjutnya pada video kedua terlihat sebuah kebun yang penuh dengan pohon pisang yang rusak. Dalam video terdengar jika pohon-pohon tersebut rusak akibat tren 'Salam dari Binjai' yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Lebih naasnya lagi, Pria dalam video juga menjelaskan jika pohon pisang tersebut tinggal menunggu matang dan siap dipanen. Bayangkan kan pohon yang siap panen harusnya ada uang yang masuk untuk petani, malah amsyong gara-gara kelakuan bocah yang yang ikutan salam dari Binjai cuma demi viral doang.

Perlu dipahami teman-teman, bahwa pohon itu tidak ujug-ujug langsung besar. Perlu waktu bulanan bahkan tahunan untuk menjadi besar dan berbuah. Saya yang sudah menanam lebih dari ratusan pohon dalam 2 tahun terakhir ini, kesal melihat kelakuan tersebut. Kita sedang mengalami ancaman perubahan iklim karena deforestasi, hilangnya hutan dan pohon-pohon yang ditebang secara ilegal atau dibakar untuk membuka lahan. Harusnya yang dilakukan saat ini adalah menanam pohon lebih banget.

Bulan November ini bisa dijadikan momentum bagi kita semua untuk memulai menanam pohon. Karena di bulan November ini ada hari yang diperingati sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia. Yaitu tanggal 28 November. Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 24 Tahun 2008.

Jadi saya mengajak teman-teman kalian untuk merubah salam. Jangan Lagi Ada salam-salaman yang isinya justru malah merusak pohon. Harusnya diubah menjadi menanam pohon. Karena dengan menanam pohon kita ikut menjaga kehidupan. 

Menanam pohon adalah menanam kehidupan itu sendiri. Jika panas mengganggumu,  tanamlah pohon. Jika air mengganggumu, tanamlah pohdon. Dan jika anda menyukai kehidupan, tanamlah banyak pohon.

Hari keempat #30HariMenulisMarathon
#SalamdariTangerang
#BukanSalamDariBinjai



Thursday, November 4, 2021

Doa di musim penghujan

November 04, 2021 0


Hari ini desa saya diguyur hujan cukup deras meski sebentar. Dilihat dari awan gelapnya, sepertinya hujan rata di sekitaran Tangerang. Awal bulan November 2021 intensitas hujan lebih sering turun, pertanda sudah memasuki musim penghujan. 


Tiap kali hujan turun ada bait-bait doa yang terucapkan. Doa ketika turun hujan dari Hadits yang diceritakan Aisha dan diriwayatkan Imam Bukhari. 

 

'Allahumma shoyyiban nafi'an'."


Artinya: "Ya Allah, turunkan lah pada kami hujan yang bermanfaat."


Kita berharap bahwa hujan yang turun adalah Rahmat. Menyejukkan tanah yang kering kerontang dilanda kemarau panjang. Mengaliri ladang-ladang persawahan dan perkebunan tadah hujan. Waktu yang tepat untuk menanam segala rupa tanaman pangan.


"Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-An'am 6 : 99).


Salah satu saudara saya di pulau panggang pernah bercerita, musim penghujan banyak wadah-wadah dikeluarkan. Mereka menampung air hujan yang turun. Istilahnya panen air hujan. Hujan menjadi berkah di wilayah yang kadar salinitasnya tinggi.


Doa pertama selalu seperti itu. Hujan yang bermanfaat untuk kehidupan. Namun saya juga insyaf, hujan memiliki dua sisi berkah dan bencana. Hujan menjadi bencana di bumi yang rusak oleh kerakusan manusia.


Bencana yang terjadi di musim penghujan tidaklah asing lagi seperti banjir dan longsor. Betapa banyak orang yang buang sampah sembarangan yang membuat mampet saluran drainase hinggap air meluap dan banjir. Betapa manusia begitu rakus mengeruk tanah di pegunungan, mencabut akar pohon, merusak alam yang hasilnya banjir bandang dan longsor yang memporak porandakan perkampungan di bawahnya.


Adapun badai dan puting beliung, hanya bisa pasrah. Doa kedua membersitkan harapan dan pengampunan. Jauhkan kami dari bala bencana.


Itulah doa musim penghujan yang saya tulis. Meski jika ada daerah terkena bencana parah seperti banjir bandang di Lebak, saya akan turun menjadi relawan. Doa diberikan hujan yang bermanfaat dan dijauhkan dari bala bencana selalu terucap.


Begitulah cerita hari ketiga #30HariMenulisMaraton



Wednesday, November 3, 2021

Tulisan apa yang pertama kali dimuat di media?

November 03, 2021 0


Tulisan apa yang pertama kali dimuat di media? Jawaban saya adalah cerpen alias cerita pendek. Judul cerpen tersebut adalah "Kado Lebaran" dan dimuat di majalah Sabili saat itu saya masih duduk di bangku SMA Negeri 1 Mauk, yang kini berganti nama menjadi SMA Negeri 2 Kabupaten Tangerang.

Tulisan-tulisan awal saya yang dimuat di media massa memang cerpen. Seingat saya cerpen-cerpen itu selain dibuat di Sabili juga termuat di koran lokal Tangerang, yaitu koran Satelit News. Sayangnya tidak semua cerpen yang dimuat di media massa itu terdokumentasi dengan baik dalam bentuk cetak nya.

Dari cerpen kemudian tulisan-tulisan berkembang menjadi tulisan yang bukan bergenre sastra. Seperti opini, feature, dan tulisan-tulisan How to. Tulisan non cerpen ini lebih beragam lagi dimuatnya baik oleh media cetak seperti majalah Sabili, koran Satelit News dan koran Sindo. Sedangkan untuk media massa online seperti Tangerangnews.com Bantennews.co.id dan lain-lain.

Saya pernah membukukan kumpulan dari cerpen-cerpen yang pernah saya tulis. Judul bukunya "Kyai Anom di Pusaran Ratu Wanten Girang".  Gambar sampul bukunya yang dijadikan thumbnail tulisan ini. Saya juga mendokumentasikan cerpen cerpen yang pernah saya tulis ke blog pribadi saya, bisa cek di link berikut jika anda membacanya. http://www.ahmadyunussukardi.my.id/search/label/Cerpen

Jika ditanya cerpen apa yang paling berkesan? Mungkin cerpen "Pelajaran Bercerita" karena ini adalah cerpen yang mengeksplorasi keliaran imajinasi saya. Namun jika saya saat ini diminta untuk menulis cerpen, Jujur saja saya sih Nggak sanggup! Pertama karena sudah sangat lama tidak menulis cerpen. Kedua Saya mengakui kesulitan untuk menulis dengan nuansa sastra. Meskipun dulu saya sering bereksperimen dengan cerpen, tapi itu dulu sekali karena saat ini saya lebih sering menulis essay dan opini mengenai gagasan yang ada di kepala saya.

Menulis cerpen selain butuh inspirasi juga butuh mood. Tidak seperti menulis cerita bebas yang sedang anda baca saat ini.


Begitulah cerita hari kedua #30HariMenulisMaraton


Tuesday, November 2, 2021

Challange 30 hari menulis maraton

November 02, 2021 0


Dalam bio saya di media sosial seperti instagram, twitter dan Facebook mencantumkan kalau saya ada salah seorang penulis. Sebenarnya itu adalah keinginan masa kecil yang tidak tercapai, karena realitanya saat ini sayang hidup bukan dari hasil menulis. Dan kalau disebut penulis juga tidak produktif-produktif amat. Kalau dulu memang saya sering mengirim tulisan saya ke media massa, tapi setelah ambruknya media cetak seperti koran dan majalah, yah saya jarang menulis untuk media massa online,  di blog ini pun jarang posting tuliskan terbaru.


Malas! mungkin ini salah satu penyebabnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa rasa malas untuk menulis di sela-sela aktivitas lain selalu ada, apalagi untuk menulis membutuhkan riset. Aktivitas menulis juga bukan prioritas. Tempuhlah kemampuan untuk menulis saya.


Belakangan ini mulai ada tulisan baru karena kemarin saya baru menang lomba nulis. Jadi kalau ada alasan kuat seperti lomba, barulah muncul keinginan untuk menulis.  Kedua Saya ingin menajamkan kembali kemampuan menulis saya. Skill menulis ini  seperti pisau, menulis itu akan tajam jika terus diasah dan digunakan namun akan tumpul jika jarang digunakan.


Saya ingin mechallange alias menantang diri sendiri untuk produktif menulis. Tantangan yang ingin diberikan pada diri saya sendiri adalah menulis berturut-turut selama 30 hari. Menulis apa saja yang ada di benak saya, gak peduli estetika dan gaya bahasa. Bisa jadi tema atau bahasannya acak, sing  penting bisa dituliskan dan diposting.


Oh iya, menulis juga bisa jadi self healing bagi saya. Dr.Pennebaker, seorang psikolog dari Amerika pernah meneliti menulis sebagai trauma healing. Menurut Dr. Pennebaker mereka yang menuliskan trauma bahkan bila itu trauma terburuk sekalipun ternyata akan lebih mudah melupakan atau setidaknya mengatasi masalah trauma tersebut.


Nah sebagai permulaan, maka tulisan ini adalah tulisan pertama dari 30 hari menulis.


Sunday, October 31, 2021

Mitigasi Perubahan Iklim lewat Ecobrick

October 31, 2021 0


Saya hobi travelling seperti kebanyakan orang-orang, setiap kali travelling pasti menghasilkan sampah. Khususnya sampah plastik bekas kemasan makanan. Hal ini menyebabkan saya juga berkontribusi dalam penambahan sampah.
Sampah plastik bekas travelling



Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup, rata-rata orang Indonesia menghasilkan sampah di perkotaan pada tahun 1995 menghasilkan sampah 0,8 kg/hari dan terus meningkat hingga 1 kg per orang per hari pada tahun 2000. Diperkirakan timbunan sampah pada tahun 2020 untuk tiap orang per hari adalah sebesar 2,1 kg.

Sektor limbah terutama, sampah memberikan kontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca dalam bentuk emisi metana (CH4) dan karbondioksida (CO2) yang menyebabkan perubahan iklim. Apalagi Tempat Pembuangan sampah Akhir (TPA) di Indonesia adalah lahan terbuka yang sampahnya diolah dengan cara dibakar dan diurug. Pembakaran sampah juga menghasilkan karbondioksida, ditambah lagi dengan emisi gas yang dihasilkan oleh transportasi yang membawa sampah ke tempat pembuangan tersebut.

Sampah plastik kemasan makanan juga sering kita temukan di perairan, baik di laut maupun di sungai. Menurut Forti et al. (2020) Sampah yang berada di perairan berasal pengelolaan sampah perkotaan yang tidak baik. Sampah pada perairan diprediksikan akan terus meningkat seiring peningkatan populasi dan peningkatan tingkat konsumsi. Sampah di perairan didominasi oleh sampah plastik (90%), di mana 62% dari sampah tersebut adalah kemasan makanan dan minuman.

Data dari Bappenas pada tahun 2019 menyebutkan jika Jumlah kebocoran sampah plastik menuju laut Indonesia diprediksi sekitar 1,29 juta ton/tahun. Sementara, tingkat kebocoran sampah plastik ke perairan sungai hingga laut diprediksi lebih dari 70 persen jumlah timbulan.

Wow bukan dampak dari sampah plastik kemasan makanan jika tidak ditangani dengan baik. Padahal produk-produk yang dijual  di supermarket sampai warung-warung hampir 90% sudah dikemas dalam sebuah bungkusan yang sebagian besarnya adalah kemasan plastik.

Ecobrick jadi solusi pengolahan sampah non organik

Saat ini saya selalu berupaya membawa sampah plastik bekas kemasan makanan yang saya hasilkan setiap kali pergi keluar rumah. Sampah-sampah plastik hasil jalan-jalan ini saya pilah mana yang bisa didaur ulang mana yang tidak, untuk sampah kemasan yang tidak bisa didaur ulang akan disatukan dengan sampah plastik kemasan lainnya untuk kemudian diolah menjadi ecobrick. Saatnya Anak Muda Bergerak untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Apa itu ecobrick.

Ecobrick berasal dari dua suku kata, yaitu “Eco” dan “brick” artinya bata ramah lingkungan. Disebut “bata” karena ia dapat menjadi alternatif bagi bata konvensional dalam mendirikan bangunan. Ecobrick digunakan untuk membuat mebel modular, ruang kebun, dinding dan bahkan bangunan berskala penuh.

Ecobrick menurut ecobricks.org adalah botol plastik bekas yang penuh berisi segala jenis plastik bekas, bersih dan kering, mencapai kepadatan tertentu berfungsi sebagai balok bangunan yang dapat digunakan berulang-ulang. Ecobrick juga dapat dibuat dengan material yang tidak bisa terurai secara alami, yang akan mengeluarkan racun bagi lingkungan (Misalnya: Stereofom, kabel, baterai kecil, dll.).

Ecobrick merupakan pengolahan sampah dengan cara pemadatan, yaitu proses untuk mengurangi timbulan sampah dengan mengubah volume sampah itu sendiri. Ecobrick juga mampu memberikan kehidupan baru bagi limbah plastik. Tidak mencemari perairan atau berakhir di TPA, tapi dapat dimanfaatkan menjadi material bangunan dan furnitur.

Tidak semua jenis sampah dapat dimasukan ke botol dan menjadi ecobrik. Ada beberapa jenis sampah yang malah tidak boleh dijadikan ecobrick. Untuk jenis sampah yang bisa digunakan dan tidak bisa digunakan lihat gambar di bawah.


Bagaimana cara membuat ecobrick?


Membuat ecobrick sangat mudah, kita hanya butuh alat seperti gunting dan tongkat kayu. Sedangkan bahannya adalah botol bekas dan sampah non organik. 

1. Simpan, pisahkan, bersihkan, dan keringkan plastik
Ecobrick dibuat dari plastik yang bersih dan kering. Mulailah dengan memisahkan plastik dari bahan-bahan lainnya.

2. Masukan Sampah plastik ke dalam botol
Siapkan botol plastik 600 ml yang bersih dan kering. Masukkan plastik kresek terlebih dahulu untuk dasaran kemudian masukan potongan plastik dan sampah non organik lainnya.

3. Padatkan sampah
Pakailah alat bantu tongkat kayu untuk mendorong potongan plastik ke dalam botol hingga padat . Marimas Ecobrick harus padat , jika masih ada rongga udara maka harus dipadatkan lagi.

4. Timbang Ecobrick
Langkah terakhir timbang untuk memastikan berat Ecobricks sesuai stardart yaitu ±200 gram untuk botol 600 ml.


Manfaat ecobrick

Manfaat ecobrick menurut Maurilla Imron adalah sampah-sampah plastik akan tersimpan dan terjaga di dalam botol sehingga tidak perlu dibakar, menggunung, tertimbun dan lain-lain. Teknologi ecobrick memungkinkan kita untuk tidak menjadikan plastik di salah satu industrial recycle system, dengan begitu akan menjauhi biosfer dan menghemat energi.

Akhir kata, tidak semua sampah bisa didaur ulang. Khususnya plastik kemasan makanan yg dilapisi alumunium foil. Melalui paparan sinar matahari dan air, plastik terurai menjadi racun lingkungan dan mikroplastik. Mengemasnya ke dalam Ecobrick mencegah plastik meracuni biosfer.

Mengolah sampah menjadi ecobrick merupakan salah satu solusi pengendalian sampah plastik yang dapat dilakukan setiap individu. Saatnya Anak Muda Bergerak untuk Mitigasi Perubahan Iklim. 



Daftar Pustaka
Anonim. Panduan 10 Langkah Membuat Ecobrick. https://www.ecobricks.org/how/?lang=id.
Anonim. Sampah dan Perubahan Iklim. https://inswa.or.id/tahukah-kamu/ 
Yunus, Ahmad. Konsep sampah dan Hirarki Pengolahan Sampah. http://www.ahmadyunussukardi.my.id/2021/09/konsep-sampah-dan-hirarki-pengolahan.html



Friday, October 22, 2021

From ornamental to Edible Plant: Mitigasi Perubahan Iklim bidang pangan

October 22, 2021 2


Tahukah kamu jika perubahan iklim mengancam ketahanan pangan? Merujuk laporan tahunan PBB berjudul “Kondisi Ketahanan Pangan dan Gizi di Dunia”, pada tahun 2017, jumlah penderita kekurangan gizi di dunia menjadi 821 juta orang. Hal ini antara lain akibat dampak cuaca ekstrim, seperti curah hujan  dan suhu ekstrim, kekeringan, badai, serta banjir.

Indonesia sendiri dalam tahun-tahun kedepan akan terancam ketahanan  pangannya karena perubahan iklim. Riset yang dilakukan Supari, seperti yang dikutip dari buku Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan karya Ahmad Arif, menemukan bahwa naiknya tingkat curah hujan  di indonesia terjadi di utara garis khatulistiwa, terutama sumatera bagian tengah dan  utara serta kalimantan bagian timur. Sebaiknya, di wilayah indonesia bagian selatan garis khatulistiwa, misalnya Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, curah hujan justru berkurang.

Riset lain berupa pemodelan iklim yang dilakukan Supari dan para peneliti lain dari berbagai negara bahkan menunjukan bahwa deret hari kering dalam setahun di indonesia mendatang akan bertambah panjang hingga 20%. Tentu ini adalah sinyal berbahaya bagi ketahanan pangan indonesia, terlebih wilayah selatan garis Khatulistiwa adalah lumbung pangan.

Mitigasi Ketahanan Pangan dari Rumah

Kebutuhan akan pangan yang terus meningkat, tidak diiringi dengan peningkatan produksi yang signifikan. Terlebih  penyediaan pangan kedepan juga menghadapi tantangan perubahan iklim yang dampaknya bakal makin dirasakan oleh umat manusia. Lantas apa yang dapat dilakukan?

Mitigasi perubahan iklim sebagai langkah mengurangi dampak kerugian akibat perubahan iklim, khususnya pada ketersediaan pangan tentu perlu dilakukan. Langkah mitigasi ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tapi juga dapat dilakukan oleh masyarakat umum, termasuk kaum muda. Kita dapat melakukan hal kecil dan dimulai dari rumah, yaitu memulai ketahanan pangan dari rumah.

Saya sendiri saat ini sedang menggeser tanaman ornamental alias tanaman hias ke tanaman edible, tanaman yang dapat dimakan. Ini sebagai upaya menyediakan pangan segar dari rumah. Langkah kecil yang dapat dilakukan namun memiliki  berdampak positif.

Jenis tanaman edible yang dipilih memiliki kriteria mudah penanamannya, mudah perawatannya, dan memiliki kandungan nutrisi yang baik. Mudah menanamnya artinya Tanaman yang dipilih mudah cara perbanyakannya misal dengan cara stek batang, selain itu tanaman juga toleran terhadap berbagai jenis tanah. Mudah perawatannya artinya tanam bandel, tidak mudah mati meski ditinggal lama dan tetap tumbuh walau jarang disiram. Terakhir memiliki kandungan nutrisi yang baik bagi tubuh jika dikonsumsi. Kriteria yang cocok untuk orang kota, dimana waktunya terbatas dan suka bepergian keluar kota.

Dari tiga kriteria di atas, saya mengembangkan tiga jenis tanaman sebagai langkah awal untuk dibudidayakan di rumah menggunakan pot. Alasan menanam di pot karena keterbatasan lahan. Selain itu, menanam di pot juga lebih murah dan mudah, karena tidak memerlukan pengolahan dan persiapan lahan, serta lebih efektif waktu pemeliharaannya. Adapun ketiga jenis tanaman yang dipelihara adalah sebagai berikut:

1. Kelor

Tanaman kelor familiar dijadikan tanaman pembatas pagar di Indonesia, belakangan ini populer sebagai tanaman ajaib karena kandungan gizinya yang bagus. Kelor terbukti mempunyai nilai gizi yang tinggi sehingga bisa dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan gizi keluarga. Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jakarta, Arivin Rivaie seperti dikutip oleh swadayaonline.com, mengatakan bahwa Pemanfaatan kelor sebagai sumber pangan dan gizi keluarga merupakan salah satu cara untuk menanggulangi masalah stunting atau memperbaiki gizi keluarga. Daun kelor sendiri dapat diolah menjadi berbagai macam makanan mulai dari sayur bening, kue kering, sampai bolu.

Kelor merupakan tanaman yang mudah ditanam di mana-mana, berumur panjang (perenial) dan dapat tumbuh di ketinggian 0-2000 mdpl. Tanaman kelor mempunyai adaptasi yang baik pada suhu 25-35 derajat Celcius dengan curah hujan minim. Kelor tumbuh pada kondisi ekstrim seperti tanah berpasir atau lempung dan bertahan di musim kering. perbanyakan tanaman kelor dapat dilakukan dengan penanam biji mau[un stek batang.

Daun kelor banyak manfaat bagi kesehatan. Tak heran, tanaman satu ini disebut superfood. Bahkan, Organisasi Pangan Dunia Food and Agriculture Organization (FAO) sempat memasukkan kelor sebagai Crop of the Month di tahun 2018. Lantas apa saja kandungan gizinya, sila cek gambar di bawah ini.


Sumber: https://nilaigizi.com/gizi/detailproduk/393/nilai-kandungan-gizi-Buah-kelor

2. Katuk

Tanaman Katuk banyak digunakan sebagai bahan sayuran, lalap, pewarna makanan dan obat. katuk paling terkenal digunakan untuk pelancar Air Susu Ibu (ASI), karena kandungan steroid dan polifenol pada daun katuk dapat meningkatkan kadar prolaktin, hormon pelancar ASI. Banyak ragam olahan yang akan menghilangkan rasa pahitnya tanpa mengurangi kandungan gizinya. Biasanya daun katuk ini diolah menjadi sayur bening. Namun kamu juga bisa mengolahnya menjadi beragam sayur berkuah, camilan, dan banyak lainnya.

Tanaman Katuk mudah diperbanyak dengan cara vegetatif, yaitu stek batang. Dikutip dari situs Tamankupukupusukardi.my.id, Katuk dapat tumbuh baik pada daerah-daerah dengan ketinggian 1.300 m dpl. Semak tahunan ini memiliki adaptasi tropika dan subtropika serta produktif sepanjang tahun walaupun tanaman cenderung agak dorman pada cuaca dingin. Toleran terhadap panas, kelembaban, sensitif terhadap dingin dan tanah salin, pH optimal 6.

Kandungan gizi katuk dapat dilihat pada gambar berikut.


sumber: https://nilaigizi.com/gizi/detailproduk/417/nilai-kandungan-gizi-daun-katuk-segar

3. Ginseng jawa

Ginseng Jawa atau biasa disebut juga dengan nama Som Jawa merupakan salah satu tanaman obat yang akar dan daunnya mempunyai banyak khasiat sebagai obat tradisional. Daun Ginseng Jawa umumnya dikonsumsi sebagai makanan baik diolah maupun mentah. Daun  Ginseng Jawa biasa dimasak dengan cara ditumis.

Dikutip dari Tamankupukupusukardi.my.id, beberapa penelitian menyebut Daun ginseng jawa mengandung nutrisi seperti karbohidrat, protein, lipid, asam amino, asam askorbat, kalium, kalsium, magnesium, pektin, besi, natrium, beta karoten dan vitamin. Vitamin yang terkandung dalam Daun Ginseng Jawa yaitu Thiamin, riboflavin, niacin, vitamin c, dan tocopherol. Daun Ginseng jawa juga mengandung antioksidan.

Tanaman ini dapat ditanam di pot. perbanyakannya sangat mudah dengan stek batang. Bentuk tanaman dengan bunga pink, membuat tanaman ini dijadikan juga sebagai tanaman hias, jadi memiliki fungsi ornamental juga edible.

Selain tiga tanaman di atas, masih ada tanaman lain yang ingin dibudidayakan seperti ganyong, sorgum, dan tanaman pangan yang masuk ke golongan tanaman pengikat nitrogen, karena jenis tanaman ini mampu bertahan di kondisi cuaca ekstrim.

Pada bulan Oktober ini di mana diperingati Hari Sumpah pemuda, saya ikut mendukung kampanye #MudaMudiBumi #UntukmuBumiku. Sumpah Pemuda tahun ini saya memiliki versi saya sendiri,
"Saya bersumpah untuk menanam lebih banyak tanaman pangan dan menyediakan bibit tanaman untuk dibagikan ke lingkungan sekitar saya"

Sebagai bukti nyata dari sumpah tersebut, saya sudah menyediakan sekitar 60 bibit tanaman untuk dibagikan pada bulan November tepat pada Hari Menanam Pohon. Saya juga akan mengajak lingkungan sekitar saya untuk lebih peduli tentang isu perubahan iklim. #TimeforActionIndonesia.

Oh iya, untuk pupuknya dapat menggunakan air cucian beras loh. Cara pembuatan Pupuk Organik Cair (POC)  air cucian beras dengan diberikan bakteri dan gula. Detail pembuatannya dapat lihat videonya di bawah ini



Akhir kata, Pangan merupakan kebutuhan paling asasi yang menentukan keberhasilan hidup kesehatan kualitas generasi penerus bahkan juga identitas. Dalam jangka panjang kekurangan pangan dan nutrisi akan melahirkan generasi yang lemah kurang tegas dan tidak produktif. Kita dapat melakukan mitigasi awal dengan menanam pohon sumber pangan dari rumah kita sendiri, baik dari halaman depan atau belakang rumah. Seperti kata pepatah sedia payung sebelum hujan.


Referensi:
Abay, Udin. Budidaya Tanaman Kelor Dalam Pot di Daerah Perkotaan. https://www.swadayaonline.com/artikel/7419/Budidaya-Tanaman-Kelor-Dalam-Pot-di-Daerah-Perkotaan. (20 Oktober 2021)
Arif, Ahmad. 2020. Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Anonim.  Katuk, sayuran yang bagus bagi air susu ibu (ASI). http://www.tamankupukupusukardi.my.id/2021/04/katuk-sauropus-androgynus.html. (20 Oktober 2021)
Anonim. Mengenal tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). http://www.tamankupukupusukardi.my.id/2021/06/ginseng-jawa-talinum-paniculatum.html. (20 Oktober 2021)

Thursday, October 21, 2021

PENGALAMAN MEMBUAT EKOWISATA KUPU-KUPU DI KALA PANDEMI COVID-19

October 21, 2021 0
Kupu-kupu belerang baru keluar dari Kepompong instagram.com/tamankupu2sukardi


Kupu-kupu merupakan hewan yang memiliki warna sayap yang indah. Seperti serangga lainnya, kupu-kupu juga mengalami metamorfosis. Indonesia memiliki keragaman kupu-kupu yang berlimpah. Diperkirakan 17.500 spesies kupu-kupu di dunia, tidak kurang dari 1.600 spesies diantaranya terdapat di Indonesia. Hal ini menjadikan Indonesia negara kedua pemilik kupu-kupu terbanyak di dunia. 50 persennya adalah kupu-kupu endemik yang hanya ada di Indonesia, ini merupakan kekayaan biodiversitas yang patut disyukuri.

Di tempat saya tinggal, tepatnya di kampung Gintung Kulon Desa Gintung Kecamatan Sukadiri Kabupaten Tangerang banyak dijumpai kupu-kupu, karena dekat dengan sungai cirarab yang merupakan habitat alami dari kupu-kupu. Kehidupan kupu-kupu sendiri berkaitan erat dengan lingkungan, jika lingkungan rusak akan membuat populasi kupu-kupu dan keragamannya berkurang. Keberadaan kupu-kupu terkait erat dengan tanaman inang (foodplant), yaitu tanaman tempat ulat kupu-kupu menetas dan makan. Perlu dicatat bahwa berkurangnya kupu-kupu akan berpengaruh juga dengan berkurangnya keanekaragaman hayati, karena kupu-kupu adalah hewan penyerbuk tanaman (polinator) yang menjaga ekologi lingkungan.

Untuk mengurangi penyusutan kupu-kupu, saya tergerak untuk membuat sebuah konservasi kupu-kupu yang kemudian dibuka menjadi ekowisata. Taman ini diberi nama Taman Kupu-kupu Sukardi. Fasilitas penangkaran yang tersedia adalah rumah kepompong dan tanaman bunga. Taman bunga memiliki lebih dari 50 spesies tanaman yang berfungsi sebagai tanaman inang dan tanaman nektar (bunga untuk makanan kupu-kupu dewasa).


Manfaat dari adanya fasilitas penangkaran ini dari sisi edukasi dapat digunakan sebagai tempat pengamatan dan penelitian untuk mengetahui lebih rinci mengenai daur hidup dan perikehidupan berbagai spesies kupu-kupu. Dari sisi konservasi, pengetahuan mengenai kupu-kupu ini sangat penting untuk menjaga keberlangsungan hidup kupu-kupu.


Penangkaran kupu-kupu ini dapat menjadi salah satu destinasi ekowisata di Desa Gintung Kec. Sukadiri Kabupaten Tangerang. Definisi Ekowisata Menurut The International Ecotourism Society Adalah Pariwisata Bertanggung Jawab yang dilakukan pada tempat-tempat alami, serta memberi kontribusi terhadap kelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.


Aktivitas wisatawan pada ekowisata lebih berfokus pada pengamatan dan pemahaman mengenai alam dan budaya peda daerah yang dikunjungi. Kegiatan yang dilakukan dengan mendukung aktivitas pelestarian alam. Di Taman Kupu-kupu Sukardi berupa pengamatan daur hidup kupu-kupu dimulai dari Telur, Ulat, Kempompong, sampai jadi kupu-kupu dewasa. Serta informasi tanaman yang ada di dalam kompleks taman mulai dari deskripsi tanaman, manfaat tanaman, klasifikasi ilmiah, dan syarat tumbuh. Dimana pengunjung dapat mengetahui informasi tersebut dengan menscan QRcode yang terpasang di tanaman.

Segmentasi pasar sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi sektor Pariwisata. Sasaran pasar dari Taman kupu-kupu Sukardi yang paling potensial adalah anak-anak PAUD dan Sekolah Dasar dengan pelajaran IPA dengan tematik metamorfisis kupu-kupu. Lembaga Pendidikan adalah segmentasi utama. Selain Dari Lembaga Pendidikan, keluarga yang memiliki anak kecil dan masyarakat umum lainnya juga masuk dalam segmentasi pasar yang disasar.

Selain fasilitas penangkaran seperti taman bunga dan rumah kepompong, untuk menambah daya tarik pengunjung, khususnya anak-anak, kami membuat playground atau lapangan bermain yang ramah untuk anak-anak. Tidak hanya ramah anak, tapi juga ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah ban bekas dan disulap jadi wahana bermain anak. Ini berdasarkan pemikiran Reuse yaitu konsep menggunakan barang berulang kali alias memperlama penggunaan produk sebelum didaur ulang atau berakhir di TPA.

Ban bekas dipilih sebagai material utama karena tersedia di sekitar kami. Sebagiannya didapat dengan meminta kepada bengkel dan sebagian lagi dengan cara membeli. Ban bekas, jika diolah dengan terampil oleh tangan-tangan yang ahli dalam seni rupa dapat menjadi wahana bermain menarik. Setidaknya ada empat wahana playground berupa permainan tradisional yaitu, lempar gelang, halang rintang, tempat duduk hewan, dan lapangan engklek.

Bicara soal pendanaan, pembangunan taman sampai playground tidak menggunakan dana hibah dari pemerintah. Dana yang digunakan murni dari kantong pribadi dan donasi dari masyarakat. Untuk mendukung pembangunan playground, kami membuka donasi online lewat situs kitabisa.com. Detail ceritanya dapat anda baca di Mewujudkan Ide Membangun Playground dari Ban Bekas


PARIWISATA ADALAH BONUS

Bagi kami pariwisata adalah bonus dari upaya konservasi yang akan dilakukan. Dari pandangan pariwisata sebagai bonus, maka kami perlu memikirkan arus pendapatan lain, selain daripada tiket agar konservasi tetap sustainable. Terlebih di kondisi pandemi covid 19 yang akses masyarakat sangat dibatasi termasuk kami yang sering sekali menutup taman untuk pengunjung. Sehingga pendapatan dari tiket masuk sangat minim.

Salah satu arus pendapatan adalah dengan menjual bibit tanaman. Pendanaan lain seperti pengumpulan donasi online juga memungkinkan untuk dilakukan. Memonetisasi situs taman kupu-kupu dengan iklan juga menjadi opsi alternatif sebagai sumber pendapatan. Intinya adalah jangan terfokus hanya pada satu pendapatan yaitu seperti tiket masuk pengunjung.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam mengelola ekowisata di kala pandemi adalah mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh pemerintah, seperti protokol kesehatan dan pembatasan jumlah pengunjung dari total kapasitas yang dapat ditampung. Sebagai pengelola harus dapat fleksibel mengikuti kebijakan yang sering berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi terkini sampai pandemi berakhir dan wisata dibuka bebas.

Demikianlah pengalaman yang dapat saya bagikan kepada Pembaca sekalian.


Tulisan pertama kali terbit di berandainspirasi.id